Guncangan BBM

SURYOPRATOMO/Dewan Redaksi Media Group
04/4/2015 00:00
Guncangan BBM
(MI/PERMANA)
KEPUTUSAN pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi kembali menimbulkan guncangan. Bukan hanya protes mahasiswa yang kembali marak, penetapan tarif angkutan dan harga bahan pokok juga memancing tarik otot.

Penaikan harga BBM bersubsidi Rp500 untuk solar dan premium merupakan akibat dari melemahnya nilai tukar rupiah. Walaupun harga minyak dunia relatif tidak berubah, beban produksi menjadi meningkat karena rupiahnya belum keluar dari tekanan.

Persoalan yang harus segera diselesaikan ialah mengembalikan nilai tukar rupiah ke posisi yang seharusnya. Sekarang ini rupiah undervalue terhadap dolar AS. Nilai tukar rupiah seharusnya berada pada kisaran 12.800 per dolar AS, bukan di atas 13.000 seperti sekarang.

Untuk memperkuat nilai tukar rupiah, dalam jangka pendek yang harus dilakukan ialah menarik masuk dana ke Indonesia, paling tidak ke pasar modal. Kita lihat India yang bisa memperkuat nilai rupeenya karena pasar modal mereka mampu menarik dana masuk sampai US$5 miliar sepanjang 2015. Di Indonesia yang terjadi justru arus modal keluar sebesar US$500 juta.

Apakah itu disebabkan kondisi ekonomi India lebih baik? Tidak. Kondisi itu lebih disebabkan kepiawaian PM India Narendra Modi meyakinkan investor bahwa ada harapan mendapatkan return lebih baik apabila menanamkan modal di negaranya.

Kita berharap Presiden Joko Widodo lebih aktif 'menjual' Indonesia. Tidak perlu dengan berkunjung ke negara lain, tetapi cukup bertemu para investor di Jakarta dan memberi gambaran lebih meyakinkan tentang apa yang bisa mereka dapatkan bila menanamkan modal di Indonesia.

Tentu yang juga harus dilakukan ialah menghindarkan ada kegaduhan. Seperti penetapan harga BBM bersubsidi dengan rentang harga begitu lebar dan frekuensi yang terlalu sering. Pemerintah harus memahami kondisi kehidupan rakyat yang lebih besar.

Memang benar, penetapan harga BBM jenis pertamax setiap dua minggu tidak menimbulkan gejolak berarti di tengah masyarakat. Hal itu disebabkan pengguna pertamax kebanyakan masyarakat yang bekerja di sektor formal dan pendapatan mereka sudah pasti sehingga mampu membuat proyeksi ke depan.

Kita harus paham, jumlah kelompok masyarakat yang berada di sektor formal kecil. Yang lebih banyak dan itu bisa di atas 60% kelompok masyarakat di sektor informal. Pada kelompok itu pendapatan mereka kebanyakan berbasis harian. Dengan pendapatan harian, sulit bagi mereka untuk bisa merencanakan pengeluaran yang jauh ke depan.

Bagi masyarakat kelompok itu, tentu saja perubahan harga yang terlalu sering dan besar kenaikannya akan menyulitkan membuat perencanaan ke depan. Mereka kaget apabila harga itu cepat berubah karena untuk kebutuhan makan hari ini saja mereka belum tentu tahu.

Itulah yang tentunya pantas membuat pemerintah mengkaji kembali kebijakan penetapan harga BBM bersubsidi yang fluktuatif. Mungkin pemerintah bisa menggunakan periode enam bulan sekali agar masyarakat bisa melakukan perencanaan hidup yang lebih baik. Kelak kalau negara sudah mampu menyediakan lapangan kerja formal, penetapan harga BBM seperti pertamax bisa dilakukan. Langkah itu juga penting agar energi kita tidak habis mengurusi polemik tidak perlu sebab kita harus meyakinkan investor bahwa kita serius mengurusi negeri ini.


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.