Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ADA kabar baik dari jantung industri nasional. Indeks manufaktur Indonesia kembali menguat. Prompt Manufacturing Index (PMI) yang dirilis Bank Indonesia menunjukkan sektor industri pengolahan pada triwulan I 2026 bertahan di zona ekspansi, bahkan meningkat ke level 52,03 dari sebelumnya 51,86. Angka PMI punya standar 50. Di bawah angka 50 berarti secara umum sektor manufaktur terkontraksi. Sebaliknya, di atas 50 berarti berada di zona ekspansi.
Di tengah lanskap global yang penuh turbulensi, capaian tersebut layak disambut dengan optimisme. Tentu, optimisme itu bukan berarti tanpa catatan kewaspadaan. Alarm tetap harus dinyalakan karena dunia tidak bisa dikatakan baik-baik saja.
Ekspansi itu bukan sekadar angka. Ia ditopang penguatan komponen fundamental, yakni volume produksi naik ke 54,07%, persediaan barang jadi ke 54,43%, serta total pesanan yang tetap berada di zona ekspansi meski sedikit melandai. Artinya, dapur industri nasional masih mengepul, roda produksi masih berputar, dan permintaan domestik belum kehilangan tenaga.
Beberapa sektor bahkan mencatatkan akselerasi impresif. Industri kertas dan percetakan, kulit dan alas kaki, hingga makanan dan minuman menjadi motor penggerak utama. Itu menandakan struktur manufaktur Indonesia belum kehilangan pijakan, bahkan di tengah tekanan eksternal yang kian kompleks. Otot-otot produksi masih siap bekerja.
Namun, seperti api yang menyala di tengah angin kencang, ekspansi itu harus dijaga dengan kehati-hatian sebab di sisi lain, indikator global justru memberikan sinyal yang lebih muram. Laporan S&P Global Ratings mencatat PMI Indonesia versi mereka turun tajam ke 50,1 pada Maret 2026 dari 53,8 pada Februari. Meski masih di atas ambang ekspansi, tren pelemahan itu tak bisa diabaikan.
Penyebabnya bukan semata faktor domestik. Gejolak geopolitik kembali menjadi variabel penentu. Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah mendorong kenaikan harga bahan baku global. Rantai pasok terganggu, biaya produksi membengkak, dan pada akhirnya permintaan ikut tertekan.
Itulah paradoks yang sedang dihadapi Indonesia. Di dalam negeri, mesin industri masih menunjukkan daya tahan. Namun, di luar, badai belum juga reda. Penurunan jumlah tenaga kerja manufaktur, yang masih berada di zona kontraksi, serta lambatnya kecepatan penerimaan barang input menjadi pengingat bahwa fondasi ekspansi itu belum sepenuhnya kukuh.
Ke depan, Bank Indonesia memproyeksikan PMI tetap berada di zona ekspansi pada triwulan II 2026, bahkan sedikit meningkat ke 52,26. Proyeksi itu tentu memberikan harapan. Namun, harapan tanpa kewaspadaan ialah optimisme yang rapuh.
Dalam konteks global yang sarat ketidakpastian, menjaga stabilitas industri bukan hanya soal meningkatkan produksi, melainkan juga memperkuat daya tahan. Diversifikasi rantai pasok, efisiensi biaya, dan penguatan pasar domestik menjadi kunci agar ekspansi tidak sekadar bertahan, tetapi juga berkelanjutan.
Sejarah berkali-kali mengajarkan krisis global tidak selalu menghantam secara langsung, tetapi perlahan menggerus dari pinggiran. Ia menggerogoti melalui harga, logistik, dan sentimen pasar. Karena itu, membaca angka PMI tidak cukup hanya dengan rasa syukur. Ia harus dibaca dengan kesadaran penuh bahwa di balik grafik yang naik, ada risiko yang mengintai.
Indonesia patut bersyukur, tetapi tidak boleh lengah. Dalam ekonomi global yang saling terhubung, satu percikan konflik di kawasan lain bisa menjalar menjadi tekanan di dalam negeri.
Menjaga api ekspansi tetap menyala merupakan keharusan. Namun, memastikan ia tidak padam diterpa badai global, itulah tantangan sesungguhnya.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved