Untung Ada Lebaran

30/3/2026 05:00
Untung Ada Lebaran
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

ADA celetukan sangat viral pada 1980-an dari almarhum Gepeng. Pelawak Srimulat itu berucap, "Untung ada saya." Ia menggambarkan betapa 'berartinya' keberadaan dirinya saat semua mata memandang 'rendah' posisinya sebagai pembantu rumah tangga. Kini, ungkapan serupa bisa kita pakai untuk memaknai kehadiran Lebaran.

Ada yang kerap kita lupakan di tengah riuh takbir dan arus kendaraan yang merayap tanpa jeda saat Idul Fitri tiba. Lebaran bukan sekadar peristiwa kultural, melainkan juga denyut ekonomi yang paling nyata. Ia bukan hanya perayaan spiritual, melainkan juga mekanisme distribusi kesejahteraan.

Dalam banyak hal, 'instrumen Lebaran' bekerja lebih efektif daripada rumus kebijakan yang kaku. Pernyataan juru bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto, dua pekan lalu, layak dicatat sebagai pengingat. Mudik Lebaran, kata Haryo, ialah motor penggerak ekonomi nasional.

Sebuah pernyataan yang bukan hiperbola. Tradisi tahunan itu menciptakan efek berlapis, seperti menyentuh UMKM, pedagang kecil, hingga sektor transportasi. Lebaran juga terbukti menghidupkan kembali denyut ekonomi di daerah yang kerap terpinggirkan dari pusat pertumbuhan.

Di situlah letak keistimewaan Lebaran. Ia memaksa uang untuk bergerak. Data historis menunjukkan konsumsi rumah tangga melonjak 15%-20% saat Lebaran jika dibandingkan dengan bulan normal. Dalam istilah ekonomi, velocity of money meningkat tajam. Dalam bahasa sederhana bisa dikatakan bahwa uang tidak diam, ia berputar, berpindah tangan, dan menghidupi banyak orang.

Lebih jauh lagi, tingginya marginal propensity to consume masyarakat Indonesia pada periode itu membuat setiap rupiah yang dibelanjakan memiliki daya ungkit yang besar. Pada momen Lebaran, masyarakat dari berbagai level tidak menabung. Mereka justru belanja, bahkan sangat banyak.

Karena itu, pendapatan UMKM di daerah bahkan bisa meningkat 50%-70%. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia napas bagi pedagang kaki lima, pemilik warung, hingga pelaku usaha kecil yang menunggu momen itu sepanjang tahun.

Kajian Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2023 mempertegas hal tersebut. Aktivitas mudik berkontribusi sekitar 1,5% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional secara tahunan. Nilainya bisa sekitar Rp145 triliun hingga Rp190 triliun. Angka yang tampak kecil, tetapi sesungguhnya signifikan dalam konteks ekonomi sebesar Indonesia.

Lebih penting lagi, kontribusi itu terjadi melalui redistribusi uang, dari kota ke desa, dari pusat ke pinggiran, yang memperluas manfaat pertumbuhan. Dengan kata lain, Lebaran ialah koreksi alami atas ketimpangan.

Setiap pengeluaran pemudik menciptakan efek pengganda. Tiket transportasi yang dibeli, makanan yang disantap di perjalanan, oleh-oleh yang dibawa pulang, semuanya menjadi mata rantai ekonomi yang saling terhubung. Dari sopir angkutan hingga pedagang pasar, semua mendapat bagian.

Untuk Idul Fitri 1447 Hijriah, optimisme itu kembali menguat. Tahun lalu, pergerakan masyarakat mencapai 154,62 juta orang. Tahun ini, angkanya diperkirakan meningkat, seiring berbagai stimulus pemerintah, berupa lebih dari Rp12,8 triliun untuk fiskal, Rp11,92 triliun bantuan sosial bagi jutaan keluarga, hingga diskon transportasi hampir Rp1 triliun.

Di tengah kontribusi konsumsi rumah tangga yang mencapai lebih dari separuh produk domestik bruto, kebijakan itu jelas bukan sekadar pelengkap. Ia bahan bakar.

Namun, di balik optimisme itu, ada catatan yang tak boleh diabaikan. Momentum Lebaran tidak boleh berhenti sebagai euforia musiman. Ia harus diolah menjadi strategi jangka panjang. Penguatan UMKM, perbaikan infrastruktur distribusi, dan sinergi kebijakan menjadi kunci agar efek Lebaran tidak sekadar sementara, tetapi berkelanjutan.

Pada akhirnya, kita harus jujur mengakui bahwa tanpa Lebaran, banyak roda ekonomi daerah akan berputar lebih lambat. Tanpa mudik, arus uang akan lebih terkonsentrasi di kota-kota besar. Konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 53% hingga 54% terhadap PDB. Artinya, separuh lebih nyawa ekonomi kita ada di tangan belanja masyarakat.

Karena itu, mudik dan Lebaran bukan sekadar urusan macet di tol atau antrean di pelabuhan. Mudik ialah momentum kedaulatan ekonomi. Sinergi kebijakan dan penguatan peran UMKM menjadi kunci agar momentum itu tidak lewat begitu saja sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi fondasi pertumbuhan yang berkelanjutan.

Sekali lagi, di tengah ketidakpastian global, kita beruntung punya Lebaran. Sebuah momentum dengan nilai-nilai religiositas berkelindan mesra dengan penguatan ekonomi kerakyatan.

Untung ada Lebaran.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.