Merawat Takwa

23/3/2026 05:00
Merawat Takwa
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah. Sebelum salat dimulai, sebagaimana biasanya, didahului dengan 'kultum'. Mestinya 'kuliah tujuh menit'. Namun, nyatanya, kerap lebih dari 15 menit. Tak mengapa. Apalagi, isinya menarik.

Sang penceramah, seorang doktor yang mengajar di sebuah perguruan tinggi, mengatakan bahwa ketika Ramadan telah berlalu, ia meninggalkan jejak-jejak spiritual yang semestinya tak sekadar menjadi memori musiman. Persoalannya, kata penceramah, mampukah kita merawat spirit itu saat fajar Syawal menyingsing?

"Ini bukan sekadar pertanyaan teologis tentang diterima atau tidaknya ibadah kita, melainkan sebuah tantangan eksistensial, yakni sejauh mana nilai 'menahan diri' mampu menjadi perisai di tengah gempuran ketidakpastian global yang kian beringas," ia melanjutkan.

Kita, paparnya, harus jujur mengakui bahwa tantangan pasca-Ramadan tahun ini jauh lebih kompleks. Di luar sana, lanskap ekonomi kita sedang tidak baik-baik saja. Gejolak geopolitik, dari ketegangan di Timur Tengah hingga rantai pasok yang tersendat, telah mengirimkan sinyal bahaya berupa ancaman inflasi dan kenaikan harga energi.

"Di titik inilah, spirit Ramadan harus bertransformasi dari sekadar ritual kesalehan individu menjadi energi ketahanan nasional. Spirit Ramadan bukanlah barang antik yang disimpan dalam lemari kaca untuk dipajang tahun depan. Ia adalah mesin penggerak perilaku (takwa)," ia memaparkan.

Di tengah situasi ekonomi yang fluktuatif, kemampuan untuk menahan diri dari perilaku konsumtif berlebihan ialah bentuk takwa yang paling nyata. Membaca kitab suci bukan lagi sekadar mengejar khatam, melainkan juga mencari navigasi moral agar hati tetap tenang (thuma'ninah) di tengah hiruk-pikuk berita resesi.

Mengapa spirit Ramadan relevan dengan tantangan ekonomi kekinian? Jawabannya ada pada prinsip qana’ah, atau merasa cukup dan hidup bersahaja. Ketika harga-harga merangkak naik akibat tekanan global, pola hidup hemat yang diajarkan saat berpuasa menjadi instrumen penyelamat keuangan rumah tangga. Puasa mengajari kita membedakan mana kebutuhan (needs) dan mana sekadar keinginan (wants).

Namun, ketahanan diri saja tidak cukup. Kita butuh ketahanan sosial. Nilai solidaritas (ziswaf) yang memuncak pada Ramadan tidak boleh menguap. Justru saat krisis menghantam kelompok menengah ke bawah, kedermawanan harus diintensifkan. Ini bukan lagi soal filantropi semata, melainkan juga upaya menjaga stabilitas sosial agar tidak terjadi disintegrasi akibat ketimpangan ekonomi.

Selain itu, etos kerja harus dipacu. Islam tidak mengajarkan umatnya berpangku tangan. Dalam menghadapi spekulasi pasar dan ketidakpastian (gharar), investasi di sektor riil dan produktif ialah jalan keluar. Spirit Ramadan yang mengajarkan optimisme, bahwa 'bersama kesulitan ada kemudahan', harus menjadi mentalitas dasar dalam menggerakkan roda ekonomi domestik.

Implementasi nyata dari 'lulusan' Ramadan ialah keberanian untuk memutus rantai utang konsumtif yang mencekik. Prinsip ekonomi yang lebih berkeadilan ialah langkah strategis memperkuat struktur ekonomi pribadi dan bangsa.

Lebih konkret lagi, keberpihakan pada ekonomi lokal dan UMKM ialah bentuk aktualisasi dari nilai kepedulian sosial. Membeli produk tetangga atau pengusaha kecil ialah cara kita memperkuat otot ekonomi nasional agar tidak mudah roboh oleh sentimen global.

Menjadikan takwa sebagai benteng ketahanan ekonomi bukanlah utopia. Jika spirit Ramadan berupa disiplin, menahan diri, dan solidaritas benar-benar terinternalisasi, kita akan menjadi bangsa yang resilien. Kita tidak akan mudah goyah oleh badai geopolitik karena kita memiliki 'jangkar' spiritual yang kuat.

Saya sepakat dengan isi ceramah itu. Ramadan mungkin sudah pergi, tapi sejatinya ia baru saja membekali kita senjata untuk memenangi peperangan yang sesungguhnya, yaitu peperangan melawan ketidakpastian dengan kesabaran, kerja keras, dan kepedulian. Terima kasih tausiahnya, Pak Ustaz.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.