Melonggarkan Sabuk Fiskal

17/3/2026 05:00
Melonggarkan Sabuk Fiskal
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian? Saya kira, ya. Perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran bukan lagi sekadar konflik kawasan. Ia mengancam jalur energi global, mengguncang harga minyak, serta menebarkan gelombang kejut ke pasar keuangan dunia.

Dalam situasi seperti itu, kebijakan fiskal tak boleh berjalan dengan autopilot. Negara membutuhkan ruang manuver yang lebih luas. Respons atas situasi itu juga mesti cepat, tak bisa berlambat-lambat.

Indonesia kini menghadapi kenyataan yang tak ringan. Hingga akhir Februari 2026, APBN sudah mencatat defisit Rp135,7 triliun, atau sekitar 0,53% dari produk domestik bruto (PDB). Angka itu jauh lebih besar jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang hanya sekitar Rp31 triliun.

Defisit awal tahun sebenarnya bukan hal aneh. APBN memang dirancang sebagai instrumen stabilisasi ekonomi. Namun, lonjakan defisit pada awal tahun, bersamaan dengan ketidakpastian geopolitik global, harus dibaca sebagai sinyal kewaspadaan.

Di situlah urgensi untuk meninjau kembali batas defisit fiskal Indonesia.

Selama ini, Undang-Undang Keuangan Negara menetapkan batas defisit maksimal 3% dari PDB. Aturan itu lahir dari semangat disiplin fiskal pascakrisis 1998. Tujuannya baik, yakni menjaga kepercayaan pasar dan menahan godaan populisme anggaran.

Namun, dunia hari ini berbeda dengan dua dekade lalu. Pandemi, krisis energi, fragmentasi geopolitik, hingga perang di Timur Tengah telah mengubah lanskap ekonomi global. Negara-negara besar bahkan telah lama meninggalkan pakem defisit sempit. Amerika Serikat, Jepang, hingga negara-negara Eropa menggunakan defisit fiskal sebagai instrumen aktif untuk menjaga stabilitas ekonomi. Indonesia tak bisa bersikap terlalu kaku.

Batas defisit 3% yang selama ini dianggap sakral sebenarnya hanyalah angka kebijakan, bukan hukum ekonomi yang absolut. Dalam kondisi darurat global, ruang fiskal yang terlalu sempit justru bisa menjadi penghambat negara untuk melindungi ekonomi sendiri.

Karena itu, pemerintah perlu mempertimbangkan langkah berani, yaitu menaikkan batas defisit APBN menjadi sekitar 4% dari PDB. Langkah itu bisa ditempuh melalui penerbitan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu). Instrumen itu sah secara konstitusional ketika negara menghadapi kegentingan yang memaksa. Situasi geopolitik global saat ini jelas memenuhi kriteria tersebut.

Tambahan 1% ruang defisit bukanlah angka kecil. Dengan PDB Indonesia yang kini mencapai sekitar Rp25 ribu triliun, ruang fiskal ekstra itu bisa berarti ratusan triliun rupiah tambahan untuk menjaga stabilitas ekonomi. Dana tersebut dapat digunakan untuk tiga hal mendesak.

Pertama, memperkuat bantalan energi nasional jika harga minyak melonjak akibat konflik Timur Tengah. Kedua, menjaga daya beli masyarakat melalui program perlindungan sosial yang adaptif. Ketiga, memastikan proyek-proyek strategis tetap berjalan agar ekonomi domestik tidak kehilangan momentum.

Lebih penting lagi, ruang fiskal yang lebih longgar memberi pemerintah fleksibilitas menghadapi kemungkinan terburuk berupa perlambatan ekonomi global. Kebijakan fiskal yang terlalu ketat di tengah badai justru berisiko memperparah perlambatan. Negara harus hadir sebagai penyangga terakhir ketika sektor swasta menahan ekspansi.

Tentu saja, menaikkan batas defisit bukan berarti membuka pintu bagi pemborosan anggaran. Disiplin fiskal tetap harus dijaga. Setiap tambahan utang harus diarahkan ke belanja produktif yang menopang pertumbuhan ekonomi. Defisit yang digunakan untuk konsumsi birokrasi ialah masalah. Namun, defisit yang digunakan untuk menjaga stabilitas ekonomi justru merupakan investasi masa depan.

Sejarah ekonomi menunjukkan satu pelajaran penting, yaitu negara yang terlalu cepat mengencangkan ikat pinggang saat krisis justru sering memperdalam resesi. Indonesia tidak boleh mengulangi kesalahan itu.

Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, fleksibilitas fiskal bukanlah kemewahan. Ia kebutuhan strategis. Dalam situasi seperti sekarang, menaikkan batas defisit APBN dari 3% menjadi sekitar 4% bukanlah pelanggaran disiplin fiskal. Ia justru merupakan bentuk kehati-hatian negara dalam menjaga keselamatan ekonominya.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.