Empat Profesor

26/3/2015 00:00
Empat Profesor
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)

DI era demokrasi ini, sedikitnya empat profesor terjerat kasus korupsi. Keempatnya dari perguruan tinggi berpredikat center of excellence alias pusat kecerdasan, yaitu UI, IPB, ITB, dan UGM.

Yang aktual tentu dijadikannya Prof Dr Denny Indrayana sebagai tersangka oleh Polri.

Dalam kapasitasnya sebagai wakil menteri hukum dan HAM, Guru Besar UGM itu dianggap bertanggung jawab atas pengadaan proyek payment gateway bernilai Rp32,4 miliar. Dalam proyek itu ada pula dugaan pungutan liar dari pembuatan paspor sebesar Rp605 juta.

Tahun lalu, April 2014, Guru Besar ITB, Prof Dr Rudi Rubiandini, dalam kedudukannya selaku Kepala SKK Migas, divonis tujuh tahun penjara.

Jauh hari sebelumnya, Juli 2007, Guru Besar IPB, Prof Dr Rokhmin Dahuri, Menteri Kelautan dan Perikanan Kabinet Gotong Royong, lebih dulu dihukum tujuh tahun penjara sampai kasasi.

Hukumannya berkurang menjadi 4,5 tahun karena permohonan peninjauan kembali yang diajukannya dikabulkan Mahkamah Agung.

Di hari kebebasannya, Rabu, 25 November 2009, di pintu LP Cipinang, ia dikabarkan disambut sejumlah tokoh, antara lain Ketua MPR Taufiq Kiemas, mantan Ketua DPR Akbar Tandjung, mantan Menpora Adhyaksa Dault, serta Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan.

Guru besar pertama yang menjadi terpidana kasus korupsi ialah Guru Besar UI, Prof Dr Nazaruddin Sjamsuddin.

Dalam kedudukannya selaku Ketua Komisi Pemilihan Umum, ia divonis 6 tahun kemudian berkurang sesuai putusan peninjauan kembali menjadi 4 tahun 6 bulan.

Pada Kamis, 13 Maret 2008, sang profesor bebas bersyarat dijemput istri dan anak-anaknya.

Semua profesor itu duduk di kursi jabatan publik sesuai dengan kepakaran.

Mereka tergolong idaman karena the right man on the right place.

Guru besar politik urus pemilu, guru besar perikanan urus ikan, guru besar migas urus migas, dan guru besar hukum urus hukum.

Orang ideal gagal menjadi teladan.

Teladan?

Di tengah rusaknya negara karena korupsi, muncul harapan negara menjadi lebih baik bila turut diurus akademikus bergelar profesor doktor.

Di kampus kiranya masih bersemi nilai-nilai kebajikan.

Masuknya mereka ke kekuasaan sebagai pejabat publik diharapkan menjadi contoh, anutan, tidak saja dalam hal kompetensi, tetapi juga integritas.

Profesor doktor yang terpilih menjadi penyelenggara negara diasumsikan memiliki semuanya, baik intelektualisme maupun integritas. Namun, faktanya orang baik turut rusak dalam sistem yang rusak.

Timbul pesimisme, omong kosong bahwa sebaiknya orang memperbaiki negara dari dalam sistem pemerintahan.

Empat profesor dari empat perguruan tinggi terkemuka berbeda, di era pemerintahan yang juga berbeda, cukup menjadi bukti bahwa mereka masih manusia Indonesia seumumnya.

Penghormatan kepada mereka harus dipilah-pilah. Itulah yang dilakukan mahasiswanya.

Di ruang tahanan atau di penjara sang profesor terus melanjutkan kontribusi akademiknya, mengajar dan membimbing mahasiswa.

Sesuatu yang dipujikan malah, dalam penjara sang guru besar melanjutkan pengabdiannya.

Maaf, manusia Indonesia memang cenderung menjadi manusia terbelah.

Sepertinya sakit, tapi itulah derajat kesehatan yang umum.

Diri yang sebelah malaikat, sebelah lainnya setan.

Tak usah heran menemukan kenyataan pengadaan kitab suci di Kementerian Agama dikorupsi.

Anak alim, tapi pecandu narkoba.

Profesor, tapi maling.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima