Perdamaian

13/3/2026 05:00
Perdamaian
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia: Saadi Shirazi (abad ke-13), Jalal ad-Din Rumi atau Jalaluddin Rumi (abad ke-13), dan Hafez Shirazi (abad ke-14).

Salah satu puisi perdamaian paling terkenal dari sastrawan Iran ialah karya Saadi Shirazi berjudul Bani Adam (Anak-Anak Adam). Puisi itu terdapat dalam kitab Gulistan (1258) dan sering dianggap sebagai pesan universal tentang persaudaraan manusia dan empati.

Saadi menulis:

'Anak-anak Adam adalah satu tubuh,

terpahat dari satu permata penciptaan.

Bila satu bagian tubuh diguncang derita,

bagian lain takkan mampu berdiam dalam ketenangan.

Engkau yang tak terusik oleh luka sesama,

tak layak menyandang nama manusia'.

Puisi itu menegaskan bahwa seluruh manusia berasal dari satu sumber dan terikat sebagai satu tubuh kemanusiaan. Jika satu manusia menderita, seharusnya manusia lain ikut merasakan dan menolongnya. Karena itu, empati dan solidaritas ialah dasar perdamaian.

Puisi Saadi itu begitu terkenal sehingga pernah dijadikan simbol kemanusiaan universal dan bahkan dipajang dalam bentuk permadani di Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia melampaui zaman. Presiden Donald Trump kiranya perlu segera terbang ke New York, melihat permadani itu, sekaligus membaca pahatan Saadi itu. Siapa tahu, ia tersentuh, lalu menarik tuas rem, bukan memencet tombol drone untuk dikirim ke anak-anak sekolah di Iran.

Ada juga puisi perdamaian karya tokoh sufi Iran, Rumi (1207-1273). Puisi Rumi penuh cinta, kedamaian, dan persatuan manusia. Banyak karyanya berasal dari kitab mistik terkenal, Masnavi. Salah satu puisi yang sering dikutip sebagai pesan perdamaian ialah puisi tentang melampaui perbedaan benar dan salah.

Sajak Perdamaian:

"Di luar gagasan tentang benar dan salah,

ada sebuah ladang.

Aku akan menemuimu di sana.

Ketika jiwa berbaring di rumput itu,

dunia terlalu penuh untuk dibicarakan.

Gagasan, bahasa, bahkan ungkapan

'satu sama lain'

tak lagi mempunyai arti".

Puisi itu mengandung pesan spiritual yang sangat dalam dan melampaui konflik. Rumi mengajak manusia keluar dari pertentangan yang sering memecah belah. Ia mengajak kita ke ruang perjumpaan kemanusiaan. Kata 'ladang' dalam sajak di atas ialah simbol tempat manusia bertemu sebagai jiwa, bukan sebagai kelompok, agama, atau bangsa.

Rumi menyeru bahwa damai lahir melalui kesadaran batin. Perdamaian sejati lahir ketika ego, penilaian, dan permusuhan dilepaskan. Jadilah puisi-puisi Rumi sering sebagai jembatan spiritual antarperadaban karena ia berbicara tentang cinta universal yang melampaui batas agama dan budaya.

Lalu ada Hafez, penyair Persia abad ke-14, yang juga menyerukan perdamaian. Penyair besar Persia yang satu ini puisinya sarat dengan cinta, kebijaksanaan, dan pesan kemanusiaan. Banyak puisinya terkumpul dalam karya Divan of Hafez. Dalam tradisi Persia, puisi Hafez sering dibaca sebagai ajakan menuju kedamaian batin dan persaudaraan manusia.

Salah satunya puisi Tentang Perdamaian yang ditulisnya pada 1400-an:

Aku telah belajar begitu banyak dari Tuhan

hingga aku tak lagi bisa menyebut diriku

seorang Kristen, Hindu, Muslim, Buddha, atau Yahudi.

Cinta telah bersahabat denganku begitu sempurna,

hingga ia mengubahku menjadi abu

dan membebaskanku dari setiap konsep dan citra

yang pernah dikenali oleh pikiranku'.

Lewat puisi itu, Hafez mengekspresikan gagasan yang sangat kuat tentang perdamaian, bahkan melampaui sekat identitas. Hafez menggambarkan cinta ilahi yang membuat manusia melampaui label agama atau kelompok.

Dalam cinta dan kebijaksanaan, manusia menjadi satu keluarga besar. Perdamaian batin merupakan dasar perdamaian dunia. Jika hati manusia dipenuhi cinta, konflik dan kebencian kehilangan tempat. Dalam budaya Persia, puisi Hafez sering dijadikan sumber renungan spiritual dan kebijaksanaan hidup, bahkan masyarakat Iran memiliki tradisi membuka Divan Hafez untuk mencari inspirasi pada momen penting.

Tiga puisi dari tiga sastrawan besar Iran itu kiranya bisa menjadi harapan bahwa perdamaian masih memiliki celah. Saat ini, ia masih menjadi 'buku tertutup'. Namun, saya masih percaya, suatu saat 'buku' itu terbuka.

Perang hanya menyisakan luka, derita, air mata. Perang hanya akan jadi pertunjukan kesombongan, kepongahan, penindasan, kecamuk dendam. Ketika semua lelah, cinta akan meluruhkannya.

Sebelum semua menjadi abu, sebelum penyesalan menjadi satu-satunya yang tersisa, perdamaian harus dipaksakan sekarang juga. Pada akhirnya, di bawah langit yang penuh rudal, tidak ada tempat untuk bersembunyi.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.