Energi Dunia di Ujung Hormuz

07/3/2026 05:00
Energi Dunia di Ujung Hormuz
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global. Selat Hormuz, koridor energi paling vital di dunia, kini berubah menjadi titik rawan yang memicu kegelisahan pasar.

Ketika Iran melalui Garda Revolusi (IRGC) menyatakan selat tersebut ditutup menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026, pasar energi global langsung bergetar.

Selat Hormuz merupakan arteri utama perdagangan energi dunia. Pada 2025, sekitar 13 juta barel minyak per hari melintasi jalur itu. Angka itu setara dengan sekitar 31% dari seluruh perdagangan minyak mentah yang diangkut melalui jalur laut. Selain minyak, sekitar 20% ekspor gas alam cair (LNG) dunia dari kawasan Teluk Persia melewati selat tersebut.

Ketika jalur itu terhenti, efek dominonya hampir tak terelakkan. Harga minyak global mulai merangkak naik. Patokan brent tercatat naik menjadi sekitar US$89 per barel, hampir 10% lebih tinggi sejak konflik memanas. Sejumlah analis bahkan memprediksi harga bisa menembus US$100 per barel jika penutupan berlangsung lama.

Lebih mengkhawatirkan lagi, gangguan tidak hanya terjadi pada minyak. Serangan drone Iran terhadap fasilitas energi Qatar di Ras Laffan dan Mesaieed memaksa salah satu eksportir LNG terbesar dunia itu menghentikan produksi sementara. Artinya, pasar gas dunia pun ikut terguncang.

Dampaknya terasa paling keras di Asia. Negara-negara Asia Selatan seperti Pakistan dan Banglades sangat bergantung pada LNG dari Qatar dan Emirat Arab, bahkan hingga 99% dari total impor mereka. Dengan kapasitas penyimpanan yang terbatas, kedua negara itu sangat rentan terhadap gangguan pasokan.

India menghadapi situasi yang tak kalah kompleks. Lebih dari separuh impor LNG India terkait dengan kawasan Teluk, sementara sekitar 60% impor minyak mereka juga berasal dari Timur Tengah. Jika harga brent melonjak, India akan mengalami guncangan ganda, yaitu guncangan fisik karena pasokan terganggu dan guncangan finansial karena biaya impor energi melonjak.

Di Asia Timur, Jepang dan Korea Selatan juga berada dalam posisi sensitif. Sekitar 75% impor minyak Jepang dan 70% impor minyak Korea Selatan berasal dari Timur Tengah. Cadangan LNG mereka hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan selama dua hingga empat minggu. Artinya, jika krisis berlarut-larut, tekanan ekonomi akan meningkat.

Asia Tenggara memang relatif lebih aman dari sisi pasokan, tetapi bukan berarti bebas dari risiko. Negara seperti Tailan diperkirakan paling rentan terhadap kenaikan harga minyak. Setiap kenaikan harga minyak 10% dapat memperburuk neraca transaksi berjalan Tailan sekitar 0,5% dari PDB.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Sebagai negara pengimpor minyak bersih, Indonesia tentu tidak kebal terhadap guncangan energi global. Kenaikan harga minyak akan langsung berdampak pada subsidi energi, biaya transportasi, hingga inflasi domestik. Beban fiskal pemerintah bisa membengkak jika harga minyak terus merangkak naik.

Masalahnya, ketahanan energi Indonesia masih tergolong rapuh. Cadangan bahan bakar nasional saat ini hanya cukup untuk sekitar tiga hingga empat minggu konsumsi. Angka tersebut jauh di bawah standar banyak negara maju yang memiliki cadangan strategis hingga 90 hari.

Di sinilah urgensi membangun sistem mitigasi energi nasional.

Pertama, Indonesia harus mempercepat pembangunan cadangan energi strategis. Tanpa buffer stock yang memadai, setiap gejolak geopolitik akan langsung mengguncang stabilitas ekonomi domestik.

Kedua, diversifikasi sumber energi menjadi keharusan. Ketergantungan yang terlalu besar pada impor minyak mentah membuat Indonesia mudah terpapar p;eh gejolak global. Penguatan energi terbarukan, gas domestik, hingga biofuel harus dipercepat.

Ketiga, diplomasi energi perlu diperkuat. Indonesia harus memastikan akses pasokan energi dari berbagai kawasan, tidak hanya dari Timur Tengah, tetapi juga dari Afrika, Amerika Latin, dan Australia.

Keempat, efisiensi energi nasional harus menjadi gerakan bersama. Konsumsi energi yang boros akan memperbesar dampak setiap krisis global.

Sejarah berkali-kali membuktikan krisis energi selalu datang tanpa undangan. Dari embargo minyak Arab pada 1973 hingga Perang Teluk, setiap konflik geopolitik selalu meninggalkan luka pada stabilitas energi dunia.

Penutupan Selat Hormuz kali ini ialah pengingat keras bahwa keamanan energi bukan sekadar isu ekonomi, melainkan juga isu kedaulatan.

Bagi Indonesia, pelajaran yang harus dipetik sangat jelas, yakni negara yang tidak memiliki ketahanan energi yang kuat akan selalu menjadi korban pertama setiap badai geopolitik.

Selat Hormuz mungkin jauh dari Nusantara. Namun, ketika arus energinya terhenti, getarannya akan terasa hingga ke dapur-dapur rumah tangga di negeri ini.

 



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.