Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi. Kalau boleh meminjam judul film besutan sutradara Muhadkly Acho yang sekuel keduanya baru saja memecahkan rekor sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa, Noel seperti itu, Agak Laen.
Dulunya ia seorang aktivis. Sebagai aktivis, tentu ia selalu paling depan dalam menyoroti sekaligus mengingatkan perihal integritas serta nurani pejabat dan penguasa. Tidak terkecuali soal korupsi. Noel sangat vokal menyuarakan narasi antikorupsi, bahkan pernah mengusulkan hukuman mati bagi koruptor.
Lalu, roda berputar. Sang aktivis itu, singkat cerita, masuk lingkaran elite penguasa. Setapak demi setapak ia menaiki tangga kekuasaan. Puncaknya ia masuk radar Presiden Prabowo Subianto dan ditunjuk sebagai wakil menteri ketenagakerjaan.
Idealisme aktivisnya seketika tenggelam. Ia tercebur dalam kolam pragmatisme kekuasaan. Noel yang dulu getol menyoal perilaku korup para pejabat, setelah jadi wamen, malah menjadi pelakunya. Ia bahkan jadi anggota pertama Kabinet Merah Putih yang ditangkap tangan oleh KPK. Saat itu, usia jabatannya belum genap satu tahun. 'Agak laen', bukan?
Namun, tak berhenti di situ. Ia semakin memperlihatkan sisi 'agak laen' yang ia punya saat persidangan atas perkaranya mulai digelar. Dari sidang satu ke sidang berikutnya, ia menampilkan wajah dan watak yang berlainan. Entahlah, itu bagian dari strategi atau memang cerminan karakter asli dia yang gampang berubah haluan.
Pada sidang perdana, Senin (19/1), ia tampil dengan wajah pertobatan yang nyaris sempurna. Di sela-sela sidang, kepada wartawan ia mengamini telah menerima uang sebesar Rp3 miliar dalam kasus pengurusan sertifikat keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di Kemenaker. Pada sidang itu, jaksa mendakwa Noel menerima gratifikasi senilai Rp3,36 miliar serta satu sepeda motor Ducati Scrambler dari ASN Kemenaker dan pihak swasta.
Dengan muka pasrah, eks Ketua Relawan Jokowi Mania itu mengatakan cukup puas atas dakwaan jaksa. Ia pun mengakui bersalah sehingga tidak akan menyampaikan pembelaan. "Sudah mengakui salah, kok, ngapain lagi pakai eksepsi (pembelaan)? Sudah betul semualah, ngapain lagi kita ribet-ribet, sih. Biar semua terang benderang," kata Noel ketika itu.
Namun, hanya berselang tujuh hari, 'keinsafan' Noel itu menguap tanpa sisa. Begitu keluar dari ruangan seusai menjalani sidang kedua, Senin (26/1), ia mendadak lupa pada pengakuan dosanya. Di depan wartawan, ia berbalik 'menyerang' KPK terkait dengan operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan terhadapnya.
Katanya, KPK hanyalah sekumpulan kreator konten di Gedung Merah Putih yang sedang menjahit rekayasa demi pesanan elite yang merasa terganggu oleh sidak-sidak heroiknya. Noel pun memelesetkan kepanjangan OTT dengan 'operasi tipu-tipu'. Pendeknya, ia seolah ingin mencoba menggeser perkara korupsi personal menjadi narasi kriminalisasi politik.
Mulai terkonfirmasi, kan, kenapa dia 'agak laen'? Kalau sebelumnya ia sudah mengakui bersalah, bahkan tak menampik menerima uang miliaran plus sepeda motor dari perkara itu, kenapa seminggu kemudian ia malah menuding ada rekayasa?
Secara logika awam pun, tak masuk. Katanya kriminalisasi, tapi kok, dia terima cuan? Jika proses hukum itu cuma tipu-tipu, lantas Rp3 miliar yang ia akui masuk kantongnya itu uang apa? Apakah itu pembagian honor dari hasil rekayasa para kreator konten di KPK seperti sindirannya kepada lembaga antirasuah itu? Betul-betul 'agak laen', memang.
Ketika di suatu waktu seseorang mengakui kesalahannya, tapi di waktu yang lain ia berteriak sebagai korban fitnah, rekayasa, atau apa pun istilahnya, itu jelas bukan kriminalisasi. Ketika orang merasa dizalimi hanya karena hukum memintanya mempertanggungjawabkan uang yang sudah ia akui masuk sakunya, itu bukan operasi tipu-tipu. Itu merupakan penghinaan terhadap inteligensi publik.
Sesungguhnya publik tidak sebodoh yang ia sangka. Publik tahu, dengan latar belakangnya sebagai aktivis, Noel ialah seorang orator ulung. Ia mahir mengolah kata, piawai menyusun narasi, pintar membangun opini. Gampang bagi dia untuk memelesetkan OTT menjadi apa pun yang ia suka. Namun, publik juga amat paham, uang sebesar Rp3 miliar dan motor Ducati yang ia nikmati ialah fakta keras yang tak bisa ditipu-tipu dengan diksi apa pun.
Justru Noel yang mungkin sebetulnya tidak secerdas yang ia sendiri kira. Nyatanya, saat terpojok, ia cuma bisa mengekor para koruptor 'senior' yang kerap menggunakan tudingan kriminalisasi untuk ngeles atau membela diri dari kesalahan mereka. Boleh saja saat jadi aktivis Noel ialah 'pemburu koruptor', tapi kini ia hanyalah 'pengekor koruptor'.
Akan tetapi, apa pun yang keluar dari mulut Noel, itu hak dia. Begitu juga publik punya hak untuk tidak mendengar, menikmati, atau bahkan mencemooh ocehan itu. Kita tunggu sambil cermati saja jalannya persidangan kasus dugaan pemerasan dan gratifikasi Noel dan kawan-kawannya itu untuk mengetahui fakta hukum yang ada.
Kalau fakta hukumnya sudah terang benderang, buktinya tidak terbantahkan, eh, dia masih ngoceh juga, tuding sana tuding sini, serang kanan serang kiri, maklumin saja. Memang 'agak laen' dia. Barangkali Muhadkly Acho perlu juga pertimbangkan untuk mengajak Noel dalam proyek film Agak Laen 3.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved