OTT Tepat Waktu

22/1/2026 05:00
OTT Tepat Waktu
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

OTT terhadap Sudewo, Senin (19/1), kiranya tidak terlalu cepat yang bisa memunculkan syak wasangka, memantik fitnah. Ia juga datang tidak terlalu lambat sehingga publik keburu lupa. Apa pasal? Agak beda dengan OTT-OTT kepala daerah lainnya, perkara Sudewo itu sempat didahului oleh hubungan yang sangat buruk dengan rakyatnya.

Sudewo belum terlalu lama menjadi common enemy masyarakat Pati. Ia didemo habis-habisan akibat kebijakan ugal-ugalan. Unjuk rasa besar-besaran menghajarnya, bukan dipicu oleh isu abstrak, melainkan masalah konkret yang memberatkan rakyat. Dia menaikkan pajak bumi bangunan (PBB) hingga 250%. Warga berteriak karena merasa dipalak.

Kejadiannya pada Agustus 2025. Baru sekitar enam bulan. Sudewo memang selamat dari badai superdahsyat yang mengguncang kursi kekuasaannya. Ia lolos dari pemakzulan di DPRD. Wakil rakyat Pati menolongnya entah karena apa.

Tuhan memang punya cara tersendiri. Sudewo boleh saja menghindar dari rakyat karena dibantu oleh wakil rakyat, tapi dia tak dapat lepas dari tangan hukum. Tak cuma dugaan jual beli jabatan, dia bahkan ditetapkan sebagai tersangka atas kasus korupsi proyek pembangunan jalur kereta di Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. Ia terjerat dalam perkara itu saat menjadi anggota DPR.

Itulah Sudewo. Sebagai anggota dewan diduga korupsi, jadi bupati pun demikian. Dalam perkara rasywah proyek kereta api, ia dituduh menerima commitment fee sebagai bupati mengeruk cuan hasil jual beli jabatan. Ya, baginya, jabatan di Kabupaten Pati ialah komoditas. Lahan basah untuk memeras. KPK menyebut harga yang harus dibayar caperdes mencapai Rp165 juta sampai Rp225 juta.

Caperdes ialah calon perangat desa. Agar lolos, harus bayar. Tarifnya fantastis. Bagaimana dengan jabatan yang lebih tinggi seperti camat atau pejabat di lingkungan pemkab semacam kepala dinas? Silakan simpulkan sendiri.

KPK menyita uang tunai sebesar Rp2,6 miliar dalam OTT Sudewo. Selain Pak Bupati, tiga kepala desa ditetapkan sebagai tersangka. Mereka ialah Kepala Desa Karangrowo Abdul Suyono, Kepala Desa Arumanis Sumarijono, dan Kepala Desa Sukorukun Karjan.

Kata orang bijak, pengalaman buruk ialah pelajaran yang baik. Ia cermin untuk melihat kekurangan. Namun, kiranya tidak bagi Sudewo. Buatnya, cermin bukan untuk berkaca diri, melainkan sekadar untuk merapikan rambut, jas, dan dasi. Buatnya, demo rakyat boleh jadi dia persepsikan sebagai gangguan, bukan peringatan. Padahal, sejarah kekuasaan selalu mengajarkan hal yang sama; ketika suara rakyat diabaikan, hukum biasanya mengambil alih. Bedanya, suara rakyat datang dengan spanduk, orasi, teriakan, sementara hukum turun tangan dengan borgol, dengan rompi tahanan.

OTT terhadap Sudewo ialah bukti sahih bahwa kerakusan pejabat tidak pernah mengenal musim paceklik. Setiap waktu, setiap kesempatan, ialah musim panen. Sekecil apa pun lahannya, harus dioptimalkan. Level desa pun pantang dilewatkan. Bahkan, ketika sorotan publik begitu terang, di kala kepercayaan rakyat bocor kasar di mana-mana, selera untuk korupsi tetap membara. Mungkin karena sudah terlatih atau barangkali sudah merasa kebal.

Begitulah budaya korupsi di kalangan pejabat, di komunitas kepala daerah, betul-betul sudah parah. Dalam OTT KPK kali ini saja, tak hanya Sudewo yang dibekuk. Di tempat lain, berjarak sekitar 180 km, tepatnya di Madiun, Jawa Timur, Wali Kota Maidi juga ditangkap. Dia menjadi tersangka pemerasan bermodus fee proyek dan dana CRS serta penerimaan lain atau gratifikasi di lingkungan Pemkot Madiun.

Jangan lagi berdalih dengan guna-guna bahwa orang-orang itu ialah oknum. Ia tidak akan memadamkan api. Ia cuma pembenaran yang justru menjadi dasar terjadinya kesalahan lagi, lagi, dan lagi. Jika 'oknum' terus muncul dengan modus yang sama, mirip pola, di banyak daerah, dari tahun ke tahun, yang bermasalah jelas ekosistemnya.

Mengapa korupsi oleh kepala daerah terus saja terjadi? Pertanyaan itu sederhana, tapi terasa sangat menjengkelkan. Jawabannya tak terlalu sulit, hanya sering tidak mau diakui. Jabatan semestinya diperlakukan sebagai amanah. Namun, di negeri ini, ia lebih diposisikan sebagai modal. Mahalnya biaya politik menjadikan kursi bupati, wali kota, atau gubernur sebagai investasi yang harus balik modal, lalu memberikan keuntungan.

Mengapa kepala daerah seolah tak punya rasa takut korupsi? Pertanyaan itu simpel, tapi sangat menyebalkan. Jawabannya pun sebenarnya gampang, tapi sering diabaikan. Hukuman yang ringan ialah biangnya. Ketika hukum yang tegas saja belum tentu selalu sebanding dengan rasa cinta pada uang, apalagi kalau lembek. Terlebih jika hukum masih bisa diakali atau dinegosiasikan.

Percayalah, korupsi tak cukup diatasi dengan simbol-simbol moral. Pengajian rutin, ceramah antikorupsi, baliho zona integritas, meneken pakta integritas, retret, atau doa bersama sebelum rapat. Korupsi tak pernah gentar pada ayat yang ditempel di dinding atau rutinitas orasi di berbagai forum jika sistemnya masih membuka celah dan godaan, serta jika hukum dibuat dan diterapkan suka-suka.

 



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.