Kereta Utang

28/10/2025 05:00
Kereta Utang
Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

DI bawah langit dan samudra nan biru, sumber daya alam yang berlimpah ruah, berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia.

Sebagian kalimat di atas ialah petikan dari lagu yang sangat populer karya R Soeharjo, Dari Sabang sampai Merauke. Pada lagu yang diciptakan pada 1961 itu selanjutnya ditegaskan bahwa 'Aku berjanji padamu, Menjunjung tanah airku, Tanah airku Indonesia'.

Menjunjung Tanah Air banyak ragamnya. Yang pertama, mencintai Tanah Air, sebagai anak bangsa yang lahir dari rahim Indonesia. Negeri yang subur, tetapi tidak otomatis membuat rakyatnya makmur.

Selanjutnya, sebagai pengejawantahan dari rasa cinta Tanah Air ialah merawat, menjaga, dan membangun Tanah Air untuk menciptakan kesejahteraan rakyat. Membangun negeri ialah bagian dari menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Proklamator Bung Karno dalam pidatonya pada 1 Juni 1945 yang dikenal sebagai Hari Lahir Pancasila menggarisbawahi bahwa kedaulatan NKRI dimulai dari kedaulatan rakyat. Kedaulatan harus di tangan rakyat, bukan penguasa atau kolonialis.

“Kedaulatan rakyat adalah suatu keharusan bagi negara merdeka; tidak boleh ada imperialisme di atas bumi Indonesia," tandasnya dalam pidatonya yang berapi-api di Gedung Chuo Sang In (sekarang Gedung Pancasila), Jalan Pejambon, Jakarta Pusat.

Kedaulatan, kata salah satu founding father itu, mencakup kemerdekaan politik dan ekonomi sehingga rakyat tidak bergantung pada bangsa lain.

Ia menganggap kedaulatan sejati hanya bisa dicapai jika bangsa berdiri di atas kekuatan sendiri (berdikari).

Dengan dasar kedaulatan di tangan rakyat, pemerintahan yang berkuasa wajib hukumnya melibatkan partisipasi publik dalam setiap pengambilan kebijakan yang bersifat strategis, seperti proyek strategis nasional (PSN).

Salah satu PSN era Presiden Joko Widodo ialah proyek kereta cepat Jakarta-Bandung (KCJB) yang bernama Whoosh, singkatan dari Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Hebat.

Kereta cepat Whoosh mulai beroperasi secara komersial pada 17 Oktober 2023. Peresmian operasional itu dilakukan Presiden Joko Widodo, menandai peluncuran kereta cepat pertama di Indonesia dan Asia Tenggara.

Kereta cepat Whoosh beroperasi dengan kecepatan 350 km per jam dan dapat menempuh jalur sepanjang 142,3 km antara Jakarta dan Bandung hanya dengan waktu tempuh sekitar 45 menit.

Tak ada yang menepis kehebatan kereta cepat yang baru pertama kali di Indonesia dan Asia Tenggara itu. Kendati begitu, kekaguman menggunakan moda transportasi yang merupakan milestone (tonggak) perkeretaapian nasional itu tidak bisa menutupi kekhawatiran akan utang yang menggunung dari proyek mercusuar Jokowi itu.

Bayang-bayang ketidakmampuan konsorsium BUMN membayar utang hingga menyeret isu kedaulatan negara menguar. Belum lagi kerugian yang dialami konsorsium BUMN.

Proyek Whoosh merupakan hasil kerja sama business to business (B2B) antara Indonesia dan China melalui PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), perusahaan patungan antara PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), konsorsium BUMN Indonesia yang dipimpin PT Kereta Api Indonesia, dan China Railway International Company Ltd.

Berdasarkan laporan keuangan 2022 yang diaudit RSM, proyek kereta cepat Whoosh menelan total biaya US$7,26 miliar, atau setara Rp119,79 triliun (asumsi kurs Rp16.500/US$).

Alih-alih proyek itu mengalami efisiensi, yang terjadi malah pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar US$1,21 miliar (Rp19,96 triliun) dari nilai investasi awal yang ditetapkan senilai US$6,05 miliar (Rp99,82 triliun).

Sebagian besar pendanaan proyek tersebut berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB) dengan bunga 3,3% dan tenor hingga 45 tahun.

Ledakan biaya, bunga utang proyek Whoosh mengakibatkan empat BUMN yang tergabung dalam konsorsium meradang. Mereka harus menanggung renteng kerugian besar dari beban keuangan konsorsium PT KCIC.

Keempatnya ialah PT Kereta Api Indonesia (persero), PT Wijaya Karya (persero) Tbk, PT Jasa Marga (persero) Tbk, dan PTPN VIII.

Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin mengaku pusing tujuh keliling dengan utang jumbo Whoosh. "Kami dalami juga masalah KCIC, ini bom waktu," kata Bobby dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR pada Agustus lalu.

Kesengkarutan utang Whoosh membuat Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara. Pihaknya menolak pembayaran utang Whoosh menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

Sejak awal proyek kereta cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) diliputi kontroversi. Dimulai dari transparansi studi kelayakan (feasibility study) proyek tersebut mengingat sejumlah pihak, termasuk Menteri Perhubungan 2014-2016 Ignasius Jonan, menolak rencana proyek KCJB.

Selain itu, perubahan rencana kerja sama proyek tersebut dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) ke Beijing Yawan HSR Co Ltd, konsorsium perusahaan perkeretaapian Tiongkok, juga mengundang kecurigaan, padahal proposal Jepang dinilai jauh lebih efisien dan terukur.

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengaku proyek raksasa tersebut busuk sejak awal. Namun, ia memastikan pemerintah dan Tiongkok sepakat merestrukturisasi pembiayaan proyek KCJB hingga 60 tahun agar beban keuangan proyek menjadi lebih ringan.

Kasus membengkaknya proyek KCJB menyulut dugaan praktik mark-up (penggelembungan) di dalamnya. Tekanan ke KPK mengalir untuk menyelidiki dugaan rasuah kasus tersebut. Gayung bersambut, lembaga antirasuah itu akan menyelidikinya.

Kasus dugaan mark-up proyek KCJB harus dibuat terang demi terciptanya kepastian hukum. Sejumlah regulasi sudah memagari agar proyek pembangunan sesuai dengan ketentuan.

Proyek pembangunan tidak boleh grasah-grusuh, asal-asalan, hanya untuk mengejar gengsi. Biar tekor asal kesohor. Sistem perencanaan pembangunan nasional diselenggarakan harus berdasarkan Asas Umum Penyelenggaraan Negara.

Pasal 3 UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas KKN menyebutkan asas-asasnya itu meliputi kepastian hukum, tertib penyelenggaraan negara, kepentingan umum, keterbukaan, proporsionalitas, profesionalitas, dan akuntabilitas.

Apa pun simbol kemajuan bangsa jangan sekadar sedap dipandang mata, apalagi membebani rakyat dengan utang yang berkepanjangan. Simbol itu harus benar-benar berdampak bagi kesejahteraan rakyat. Tabik!



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.