Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tidak sekadar menjadi kesayangan media, atau media darling, akhir-akhir ini. Ia bahkan menjadi netizen darling, kesayangan para netizen. Di sejumlah forum yang ia hadiri, Purbaya kerap diburu wartawan untuk dinanti komentar kejutannya.
Bahkan, para peserta diskusi dan seminar, khususnya ibu-ibu, ikut mengerubungi mantan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan itu untuk mengajaknya berswafoto. Gaya 'koboi' dan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos kian menarik hati dan bikin 'jatuh hati'. Di dunia maya, pengikut akun media sosialnya terus menjulang. Di akun Instagram yang baru ia aktifkan dua bulan lalu, pengikutnya sudah lebih dari 240 ribu. Begitu juga di akun medsos miliknya lainnya.
Gayanya sebagai menkeu yang kontras dengan langgam menkeu sebelumnya, Sri Mulyani, ditangkap publik sebagai sesuatu yang segar. Sri Mulyani sangat hati-hati, berkomunikasi secara tertata, bahkan kerap pelit berbicara kepada media. Sebaliknya, cara bicara Purbaya lugas, membuat hal ihwal soal ekonomi yang dianggap sulit dan rumit menjadi renyah dan enteng. Ia percaya diri. Ia yakin, di tangannya, pertumbuhan ekonomi 6% bisa terjadi dalam setahun.
Saya sedang menerka-nerka, apakah Purbaya sedang 'menciptakan' ekspektasi? Ia seperti tengah menerapkan 'ilmu' yang diajarkan ekonom Amerika Serikat Robert Emerson Lucas. Kata peraih Hadiah Nobel Ekonomi 1995 itu, "People use all available information to form rational expectations about the future (Orang menggunakan semua informasi yang tersedia untuk membentuk ekspektasi rasional tentang masa depan)."
Lucas menerima Hadiah Nobel Memorial dalam ilmu ekonomi pada 1995 atas pengembangan dan penerapan hipotesis 'ekspektasi rasional' tersebut. Teorinya itu pun mengubah analisis ekonomi makro dan memperdalam pemahaman kita tentang kebijakan ekonomi. Ringkasnya, ekspektasi positif yang didasarkan pada data dan informasi yang kredibel dapat mendorong partisipasi aktif dalam aktivitas ekonomi. Harapan itu merupakan penopang tak kasatmata dari pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Itu mirip-mirip yang dilakukan Purbaya saat ditanya argumentasinya memindahkan dana pemerintah Rp200 triliun dari Bank Indonesia ke bank-bank negara (bank Himbara). Purbaya menyebut langkahnya menaruh dana Rp200 triliun di Himbara itu diperuntukkan memberikan daya ungkit ekonomi akibat lesunya kredit. Di tangan bank, dana itu akan dikonversi menjadi kredit yang dicairkan ke sektor riil sehingga ekonomi cepat bergerak.
Sebagian pihak yang pesimistis mengkritik langkah Purbaya itu sebagai 'menggarami lautan'. Ingin membuat asin yang sudah sangat asin, alias tidak signifikan memberikan dampak. Para kritikus menyebut bahwa dalam soal pertumbuhan kredit, faktornya bukan pada supply side atau sisi ketersediaan kredit, melainkan pada sisi permintaan kredit atau demand side.
Data yang digunakan para kritikus untuk membangun argumentasi bahwa 'masalah ada di sisi permintaan' ialah masih tingginya dana kredit menganggur di perbankan. Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa per Agustus 2025, jumlah undisbursed loan (pinjaman atau kredit yang telah disetujui, tetapi belum dicairkan/ditarik nasabah) di Indonesia mencapai Rp2.372 triliun. Jumlah itu setara dengan sekitar 22,7% dari total plafon kredit yang tersedia dalam sistem perbankan.
Fenomena itu sering diartikan bahwa pelaku usaha masih menahan diri untuk melakukan ekspansi bisnis karena berbagai pertimbangan meskipun fasilitas pinjaman telah tersedia. Karena itu, dana Rp200 triliun yang digeser dari BI untuk diubah menjadi kredit itu hanya sepersebelasnya kredit menganggur. Walhasil, begitu pendapat para kritikus Purbaya, kebijakan itu akan nihil dampak. Kalaupun ada, sangat kecil belaka.
Namun, seperti kata Lucas, harapan rasional akan masa depan dibentuk informasi dan keyakinan hari ini. Purbaya sedang membangun informasi dan keyakinan positif hari ini agar tumbuh harapan positif akan masa depan. Kepercayaan diri Purbaya bahwa uang Rp200 triliun yang 'kecil' itu, bila diyakini bisa membawa dampak, bakal menumbuhkan ekspektasi rasional yang positif dan meyakinkan akan masa depan.
Jadi, jangan dilihat nilai dan ukurannya, tapi tengoklah efek psikologisnya dalam membentuk ekspektasi dan persepsi tentang masa depan ekonomi. Apalagi, ekonomi sangat bergantung pada persepsi karena keyakinan dan ekspektasi masyarakat dapat memengaruhi perilaku ekonomi mereka seperti konsumsi, investasi, dan pengambilan keputusan. Persepsi itu dapat berbeda antara individu, kelompok, atau bahkan pemerintah dan dapat menjadi faktor pendorong sekaligus penghambat perekonomian suatu negara.
Jika masyarakat merasa pesimistis tentang masa depan ekonomi, mereka cenderung menunda pembelian besar dan lebih memilih menabung, yang dapat menurunkan konsumsi secara keseluruhan. Persepsi tentang prospek pertumbuhan dan stabilitas ekonomi dapat memengaruhi keputusan investasi. Investor cenderung berinvestasi lebih banyak ketika mereka melihat prospek yang menjanjikan, dan sebaliknya.
Kiranya, apa yang 'dijejalkan' Purbaya akhir-akhir ini ialah ikhtiar membangun narasi keyakinan akan perekonomian kita. Pengalihan dana Rp200 triliun itu, meski ukurannya tak sejumbo kredit menganggur, bisa menjadi penyulut keyakinan, ekspektasi, dan membentuk persepsi positif bahwa pemerintah percaya diri.
Saat Purbaya terang-terangan menolak menggunakan dana APBN untuk menalangi utang kereta cepat Whoosh, itu bisa menciptakan persepsi positif di mata publik bahwa anggaran negara memang digunakan secara tepat dan hati-hati. Cara-cara seperti itu melahirkan kepercayaan. Gaya bicaranya memang ketus dan terkesan sinis. Namun, media dan para netizen yang budiman suka dengan gaya itu. Mereka menilai itu orisinal, terbuka, blakblakan, lugas, jujur, bukan gimik, bukan pencitraan.
Pertanyaannya, sampai kapan 'Purbaya punya gaya' dan 'efek Purbaya' itu konsisten dijalankan dan memanen hasil nyata? Tergantung seberapa sabar dan istikamahnya Purbaya, sebagaimana pesan Ali bin Abi Thalib: "Sabar dan konsisten ialah binatang tunggangan yang tidak pernah tergelincir."
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved