Tulis Namaku, Mama

11/10/2025 05:00
Tulis Namaku, Mama
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

KESEPAKATAN damai antara Hamas dan Israel terasa seperti curahan air deras yang mengakhiri kemarau panjang di Gaza. Nyaris tak tersisa air mata di tanah yang bergolak itu. Bau anyir darah bersabung dengan mesiu hampir meratakan harapan orang-orang Gaza, serata gedung-gedung yang rebah rata dengan tanah.

Saya membaca sajak Zeina Azzam, penyair Palestina-Amerika, berjudul Write My Name, atau Tulis Namaku, yang menggambarkan kegetiran tak terperi penduduk Gaza. Puisi itu viral dan menyentuh hati banyak orang di seluruh dunia. Puisi itu diterjemahkan dalam bahasa Jepang, Turki, Arab, Prancis, Belanda, dan Spanyol.

Seorang pendeta dari sebuah gereja di Afrika Selatan meminta izin untuk membacanya selama kebaktian Minggu. Sebuah jurnal di Australia meminta menerbitkannya. Seorang guru di Kanada utara bertanya, "Apakah saya dapat menuliskannya di kaus agar dapat saya pakai dan saya tunjukkan kepada murid-murid dan guru-guru di sekolah saya?" Di Amerika Serikat, puisi Zeina dibacakan dalam protes, webinar, kebaktian gereja, kantor senator, dan lain-lain.

Puisi Zeina Azzam yang awalnya diterbitkan Vox Populi itu sangat dalam menggambarkan lekatnya rasa pedih warga Gaza:

'Tulis namaku di kakiku, Mama

Gunakan spidol permanen hitam

dengan tinta yang tidak luntur jika terkena air, yang tidak meleleh

jika terkena panas

 

Tuliskan namaku di kakiku, Mama

Buatlah garis-garis yang tebal dan jelas

Tambahkan sentuhan istimewamu sehingga aku dapat merasa nyaman melihat tulisan tangan ibuku saat aku tidur

 

Tuliskan namaku di kakiku, Mama

dan di kaki saudara-saudaraku perempuan dan laki-laki 

Dengan cara ini kita akan saling memiliki

Dengan cara ini kita akan dikenal sebagai anak-anakmu

 

Tuliskan namaku di kakiku, Mama 

dan tolong tuliskan namamu dan nama Baba di kakimu juga

Agar kita dikenang

sebagai keluarga.

 

Tuliskan namaku di kakiku, Mama

Jangan tambahkan angka seperti kapan aku lahir atau alamat rumah kita

Aku tidak ingin dunia mencantumkanku sebagai angka 

Aku punya nama dan aku bukan angka

 

Tuliskan namaku di kakiku, Mama

Ketika bom menghantam rumah kita

Ketika dinding menghancurkan tengkorak dan tulang kita,

kaki kita akan menceritakan kisah kita, bagaimana tidak ada tempat bagi kita untuk berlari'

Zeina sangat lugas memotret Gaza. Ia menggoreskan penanya untuk menulis sajak itu hanya dua bulan sejak Israel memulai 'proyek' peluluhlantakan Gaza pada 7 Oktober 2023. Kini, dua tahun empat hari sejak serangan itu, apa yang dituliskan Zeina menjadi kenyataan.

Dalam dua tahun 'pembersihan' Gaza itu, operasi militer Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah menewaskan sedikitnya 66 ribu orang, sekitar 80% di antaranya warga sipil, dan melukai sekitar 169 ribu orang, menurut estimasi konservatif dari Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas. Lembaga internasional memperkirakan jumlah korban sebenarnya jauh lebih tinggi.

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) melaporkan 90% rumah di Gaza telah hancur atau rusak, membuat 1,9 juta dari 2,1 juta penduduknya kehilangan tempat tinggal. Karena blokade total yang diberlakukan Israel, sebagian besar wilayah Gaza mengalami kelaparan parah yang telah menewaskan sedikitnya 450 orang, termasuk 150 anak.

Setelah serangan 7 Oktober 2023, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menetapkan dua tujuan utama perang di Gaza: membebaskan semua sandera dan menghancurkan Hamas. Dua tahun berlalu, kedua tujuan itu tidak tercapai. Dari 251 sandera yang dibawa ke Gaza, 148 telah dikembalikan hidup-hidup, delapan diselamatkan IDF, dan 140 dibebaskan Hamas melalui pertukaran tahanan. Jenazah beberapa sandera yang tewas juga telah dikembalikan. Israel pun frustrasi. Penduduk Gaza juga tak punya harapan.

Dua tahun perang di Gaza membuat masyarakat Israel juga lelah dan frustrasi. Survei yang dirilis Israel Democracy Institute yang terbaru menunjukkan 66% warga Israel percaya sudah saatnya perang diakhiri. Selain itu, 64% responden mengatakan Netanyahu harus bertanggung jawab atas serangan mematikan tersebut dan mengundurkan diri.

Pendapat publik terbelah tentang apakah situasi keamanan Israel kini lebih baik, tetapi sebagian besar mengakui posisi Israel di kancah internasional merosot tajam. Tekanan terhadap Israel juga datang dari Amerika Serikat, sekutu dan penyokong utama Israel.

Dengan demikian, sajak Zeina, yang menggambarkan bagaimana warga Gaza hendak 'dibersihkan', menembus dunia, melampaui kecepatan rudal-rudal yang menghancurkan. Kekuatan puisi itu melampaui peluru. Ia membuat warga dunia bergerak, termasuk warga dari negara yang selama ini secara tradisional menyokong Israel dan mengecap Gaza sebagai 'rumah teroris'.

Dunia serentak meneriakkan setop genosida Israel di Gaza. Panggung-panggung musik dan sepak bola mulai dihiasi bendera Palestina yang dikibarkan dengan menyala-nyala, dengan empati yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Itu semua bentuk 'kekalahan telak' Israel di mata dunia. 'Negeri Bintang Daud' itu terkucil, tersudut, lalu akhirnya menyerah di meja perundingan.

Kini, dunia menunggu apakah Israel konsisten dengan kesepakatan di atas meja, atau seperti yang sudah-sudah: mengangkanginya. Dunia tak ingin puisi Zeina hidup lagi, saat ia menulis: 'Tuliskan namaku di kakiku, Mama/Ketika bom menghantam rumah kita/Ketika dinding menghancurkan tengkorak dan tulang kita/Kaki kita akan menceritakan kisah kita, bagaimana tidak ada tempat bagi kita untuk berlari'.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.