Bapak Aing dan Yai Min

09/10/2025 05:00
Bapak Aing dan Yai Min
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

KIRANYA tak ada kepala daerah di negeri ini yang bercitra baik sebaik Dedi Mulyadi. Sepertinya tak ada gubernur yang popularitasnya sedahsyat Gubernur Jawa Barat yang biasa disapa KDM, Bapak Aing, atau Demul itu. Terkenal, pekerja keras, merakyat, sangat disukai, amat baik hati, itulah deretan puja-puji untuk KDM selama ini.

KDM memang bukan gubernur sembarangan. Saban lembaga survei melakukan sigi, hasilnya luar biasa. Survei terkini yang dihelat Litbang Kompas, misalnya, menunjukkan 97,1% masyarakat menyukai Dedi Mulyadi. Hanya 2,1% yang tidak suka.

Angka serupa terlihat pada citra. Sebanyak 98,9% responden menilai citra KDM baik. Nyaris sempurna. Cuma 0,6% yang bilang buruk. Sungguh, tak ada gubernur, bahkan tak hanya di negeri ini, tapi barangkali juga di seluruh muka bumi, yang citranya sebaik Kang Dedi.

Dalam diri KDM sarat dengan yang baik-baik. Dukungan terhadapnya hampir menembus langit. Sebanyak 90% warga Jabar yakin dia menepati janji-janji kampanyenya. Jika benar, ini juga kabar baik. Sangat baik. Bukankah selama ini janji dan realisasi kerap berakhir talak? Bukankah pejabat biasanya identik dengan lirik 'kau yang berjanji, kau yang mengingkari'?

Itulah potret KDM yang direkam dalam survei pada 1-5 Juli 2025 dengan 400 responden di Provinsi Jabar. Potret yang bahkan lebih indah ketimbang hasil survei sebelumnya oleh Indikator Politik Indonesia pada 28 Mei 2025. Kala itu, tingkat kepuasaan publik menyentuh 94,7%.

Begitulah, KDM betul-betul minim cacat. Dia dianggap sebagai sosok yang ditunggu-tunggu di tengah krisis pemimpin yang bermutu. Tingkat kesukaan terhadap dirinya begitu tinggi. Tak cuma warga Jabar, figur Kang Dedi telah menembus batas wilayah negeri. Di banyak daerah, dia juga disukai, dijadikan pembanding untuk pemimpin setempat.

Sempurnakah KDM? Tentu tidak. Memang luar biasakah dia dalam bekerja? Founder Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menyebut, hasil studi menunjukkan tingkat kepuasan terhadap pemimpin di Indonesia tak semata karena faktor teknokratik. Jangan langsung buru-buru mengambil kesimpulan bahwa faktor kinerja yang menyumbang, ada banyak variabel, termasuk emosi.

Apa pun, KDM ialah fenomena. Dia selalu kebanjiran like, tak banyak yang dikritik dan yang mengkritik. Di antara yang layak dikritik itu terkait dengan saga Yai Min dan Sahara. Drama itu bercerita tentang konflik antartetangga antara eks dosen UIN Maliki, Imam Muslimin dan Nurul Sahara. Keduanya ialah warga Joyogrand Kavling Depag Atas III, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur.

Lo, apa masalahnya dengan KDM?

Hal itu bermula dari kunjungan KDM ke tempat Yai Min dan Sahara pada Senin (6/10). Dia ditemani oleh Wakil Wali Kota Surabaya, Jatim, Armuji, yang juga aktif di medsos. Seperti biasa, kunjungan itu lalu diunggah ke media sosial. Seperti biasa pula, unggahan itu mendapat sambutan antusias dari netizen. Di akun Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel dengan 8,44 juta subscribers, hingga kemarin konten kunjungan itu ditonton 600 ribu lebih viewers.

Kata KDM, kedatangannya itu sebagai balasan atas kunjungan Yai Min ke rumah dinasnya di Bandung, dan Sahara ke rumah pribadinya di Subang. Saat itu, keduanya minta Pak Gubernur bertandang ke Malang. Cuma itukah? Rasanya tidak. KDM punya maksud lain, tujuan yang baik, yakni mencoba mendamaikan keduanya. Dia lalu memastikan hubungan antara Yai Mim dan Sahara sudah kembali harmonis. Sudah pada rukun.

Perseteruan Yai Mim dan Sahara memang bikin heboh, viral di medsos. Ini konflik lokal, tapi menasional. Siapa yang salah, tak perlulah kita menghakimi. Yang perlu dicermati, kenapa KDM sampai jauh-jauh pergi ke Malang untuk urusan itu.

Mendamaikan, merukunkan kembali warga yang berseteru, ialah perbuatan baik serta mulia. Akan tetapi, haruskah Gubernur Jawa Barat sampai turun tangan dalam masalah di Jawa Timur lalu dijadikan konten? Untuk apa? Pencitraan? Mudah-mudah tak demikian.

Setidaknya ada dua soal terkait dengan apa yang dilakukan KDM itu. Pertama, ada tudingan dia lompat pagar untuk mengurusi urusan daerah lain. Secara etika, itu tidak bagus. Hubungan antarpemimpin daerah bisa terganggu. Hal seperti itu pun pernah terjadi beberapa waktu silam ketika KDM bicara soal APBD Jakarta. Katanya, dia sanggup menggaji warga Jakarta Rp10 juta per kepala keluarga jika menjadi gubernur karena APBD 2025 mencapai Rp91,34 triliun.

Soal kedua, seolah di Jabar tak ada lagi pekerjaan sehingga harus cari pekerjaan di daerah lain. Harus kita katakan, sudah banyak yang dilakukan KDM. Tidak sedikit gebrakan Bapak Aing. Akan tetapi, harus kita tegaskan pula masih banyak permasalahan yang menunggu penyelesaian.

Hasil survei mengonfirmasi itu. Catatan paling serius ada pada lapangan kerja dan pengangguran dengan 67,2% responden menyatakan tidak puas. Isu kemiskinan tak jauh beda. Pun dengan penyediaan transportasi umum yang hanya 53,5% puas, sedangkan dalam pengelolaan sampah 58,8% masyarakat tak puas.

Mau data lain? Badan Pusat Statistik menyebut per Februari 2025, Jabar memimpin daftar tingkat pengangguran terbuka. Itu diperparah dengan korban PHK sepanjang tahun ini yang mayoritas ada di Jabar. Angka putus sekolah dasar di Jabar juga terbanyak.

Betul bahwa semua itu tinggalan pemimpin lama. Benar bahwa KDM belum juga genap setahun menjabat. Akan tetapi, sungguh naif jika ia dijadikan pembenaran untuk mengurusi urusan daerah lain padahal masih seabrek urusan di daerahnya.

Langkah KDM mendamaikan Yai Mim-Sahara, kalau boleh melansir kata Pramoedya Ananta Toer, baik, tapi belum tentu benar, juga belum tentu tepat. Kang Dedi lebih baik fokus ke masyarakat Jabar karena dia dipilih untuk memimpin Jabar. Bukan daerah lain, belum untuk Indonesia.

 



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.