Mobilmu Melindas Tubuhmu Sendiri

30/8/2025 05:00
Mobilmu Melindas Tubuhmu Sendiri
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PADA Kamis (29/8) malam, langit Pejompongan, Jakarta, tiba-tiba gelap. Duka mengiris-iris saat seorang pengendara Gojek bernama Affan Kurniawan tewas dilindas kendaraan taktis yang melaju kencang di tengah kerumunan. Di dalam mobil itu, ada aparat Brimob. Tujuh orang jumlahnya.

Kini, ketujuhnya jadi tersangka. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo meminta maaf atas perilaku beringas anak buahnya. Ia pun mengunjungi orangtua Affan di RSCM Jakarta, beberapa jam setelah kepergian Affan, sang tulang punggung keluarga itu, untuk selama-lamanya. Listyo memeluk sang ayah yang hatinya hancur seperti tubuh yang dilindas.

Ikut mendampingi Kapolri, dua perwira tinggi bintang dua: Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi dan Kadiv Propam Polri Irjen Abdul Karim. Keduanya juga meminta maaf sembari menegaskan sudah dan terus mengusut tindakan brutal anak buah mereka, yang di negara totaliter pun tidak terjadi aksi aparat melindaskan mobil kepada rakyat yang mengongkosi negaranya.

Menyaksikan kenyataan getir pelindasan itu dari layar gawai membuat saya sedih. Hati saya ikut remuk. Tak kuasa saya melihat pelindasan itu untuk kali kedua di gawai saya. Kegundahan saya lalu saya tumpahkan dalam coretan sajak, yang saya beri judul Mobilmu Melindas Tubuhmu Sendiri. Sembari menatap layar kaca Breaking News Metro TV, saya menulis:

'Mobilmu melindas tubuhmu sendiri
Kau bayar pajak, kau ongkosi mereka
Kau belikan mereka barracuda atau kendaraan taktis namanya
Tapi kau dilindas oleh mobilmu sendiri hingga jiwa tercabut dari ragamu
menghentikan peluhmu, mengistirahatkan tulang dan punggungmu untuk selama-lamanya
bahkan di saat engkau masih belia

Mobilmu melindas jiwa dan ragamu sendiri
Di tanahmu, oleh mereka yang kau ongkosi
oleh mereka yang engkau suapi
oleh mereka yang engkau suguhi minum
Semua kemurahanmu dibalas kepongahan
Ikhtiar kerasmu di jalan, mereka hentikan di jalan
hingga kau tak bisa lagi mengukur jalanan

Mobilmu melindas badanmu sendiri
hingga darah tumpah
hingga napasmu berhenti
oleh mereka yang kau ongkosi
yang kau bayar bajunya, seragamnya, sepatunya, sabuknya, kaus kakinya, pakaian dalammya, hingga kendaraan gagahnya
Tapi kau diempaskannya, ditabraknya, dilindasnya oleh mereka yang kau ongkosi
Oleh mereka yang kau beri kemurahan rezekimu
Apakah gulita memang nyata?
Apakah gelap terus merayap?
Apakah parade kata maaf telah mengganti tanggung jawab?
Apakah air susu terus dibalas air tuba?
Gemuruh maaf menggantikan tanggung jawab yang kian sunyi

Mobilmu melindas tubuhmu sendiri
Ada darah yang tumpah oleh tindakan pongah
Ada jiwa yang mati direnggut anak bangsanya sendiri
Air mata, darah, dan marah bertaut
Mengejar mobilmu yang melaju
Hendak melucuti pakaian-pakaian yang engkau ongkosi
Agar kematian tak berhenti menjadi kabar duka
Saya teringat pesan Nabi: Cukuplah kematian sebagai peringatan
Tapi apakah pesan itu didengar oleh yang tuli?
Akankah yang buta melihat tulisan seruan itu?
Wahai sang pelindas, aku tak tahu mengapa kebrutalan menghiasi dadamu
Mestinya, dari punggungmu muncul jejak pelayanan
Dari tetesan keringatmu mengalir bulir-bulir perlindungan
Dari tanganmu mengulur getaran cinta dan pengayoman
Engkau mestinya melayani, mengayomi, melindungi

Mobilmu melindas tubuhmu sendiri
Affan, kepergianmu menegaskan di Republik ini kematian tak selamanya datang dari ajal
tapi bisa dari mesin kekuasaan yang hilang ingatan
bahwa yang mereka lindas bukan jalanan, melainkan martabat manusia dan kemanusiaan

Mobilmu melindas tubuhmu sendiri
Mengirimmu ke liang lahad
Menguar duka semesta
Dari kuburmu yang basah oleh air mata keheranan, pekikmu bertalu-talu
Mengusik tidur malam para pelindasmu
Menagih maaf berganti tanggung jawab
agar peringatan kematianmu terus menyerbu, menusuk, melindas kepongahan dan hati yang beku

Mobilmu melindas tubuhmu sendiri
Mengantarmu tidur panjang ke surga keabadian
Engkau sudah menuntaskan tugasmu
menyelesaikan orderan terakhirmu
Engkau tidak lagi membutuhkan bintang lima
karena engkau telah mendapatkan seluruh bintang yang indah di malam kematianmu
Kami bersimpuh dan berdoa dalam gemeretak gigi-gigi kami yang beradu: Yaa Rabb... lindungi kami dari kezaliman yang melindas
Kuatkan kami agar tak kalut dalam kebencian
Bukakan pintu surga-Mu untuk Affan yang kembali ke pangkuan-Mu'

Untuk Affan, surgalah di tanganmu Tuhan-lah di sisimu. Kembalilah kepada Sang Pemilik Kehidupan sebagai jiwa yang tenang, dengan rela dan direlakan. Semoga negeri ini lebih bisa menghargai manusia dan kemanusiaan. Semoga tanggung jawab kian ramai dan kata maaf makin sunyi karena semua sudah presisi, karena semua menggunakan hati.

 

 



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.