Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

02/8/2025 05:00
Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu. Salah satu 'cabang' dari sisi manusia itu ialah memaafkan, mengoreksi yang salah, memberikan ampunan kepada rakyatnya yang memang layak diampuni.

Dengan demikian, pemberian abolisi kepada Thomas Trikasih Lembong (Tom Lembong) dan amnesti untuk Hasto Kristiyanto bisa dimaknai sebagai perwujudan 'sisi manusia' dari kekuasaan itu. Langkah Presiden Prabowo Subianto yang disetujui DPR itu tidak sekadar penting, tapi juga mencerminkan sikap 'kemanusiaan yang adil dan beradab'.

Langkah itu semacam 'pengakuan' jujur bahwa hukum pernah berjalan di rel yang salah. Pemberian abolisi dan amnesti itu kiranya cermin bahwa politik dan kekuasaan sempat meninggalkan jejak tebalnya di ranah hukum yang mestinya steril dari campur tangan keduanya. Ketika Tom Lembong divonis dengan alasan lebih mengedepankan 'kapitalisme' ketimbang 'ekonomi Pancasila', akal sehat publik pun terusik.

Karena itu, Presiden Prabowo 'mengoreksinya' dengan meneruskan tradisi pemberian amnesti (pengampunan) dan abolisi (penghapusan seluruh proses peradilan) yang sudah dirintis para kepala negara sebelumnya. Bila kita lintasi sejarah negeri ini, semua presiden (kecuali Megawati Soekarnoputri) pernah mengeluarkan amnesti dan abolisi.

Presiden Sukarno memberikan amnesti umum kepada orang-orang yang tersangkut pemberontakan DII/TII Kahar Muzakar (pada 1959); memberikan amnesti dan abolisi kepada orang-orang yang tersangkut pemberontakan Daud Beureueh di Aceh, pemberontakan PRRI dan Permesta di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Sumsel, Jambi, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan, juga pemberontakan Kartosuwirjo di Jawa Barat dan Jawa Tengah, serta pemberontakan Republik Maluku Selatan di Maluku (semuanya diberikan pada 1961).

Presiden Soeharto juga memberikan amnesti dan abolisi. Dua hak prerogatif itu diberikan kepada para pengikut gerakan Fretilin di Timor Timur. Amnesti dan abolisi itu dikeluarkan pada 1977.

Amnesti juga diberikan Presiden BJ Habibie kepada 18 tahanan politik kasus demo Timor Timur. Selain itu, hak tersebut diberikan kepada dua aktivis prodemokrasi, yaitu Sri Bintang Pamungkas dan Muchtar Pakpahan. Presiden Abdurrahman Wahid juga memberikan amnesti, yakni kepada mantan Ketua Partai Rakyat Demokratik Budiman Sudjatmiko, serta amnesti untuk sejumlah anggota GAM, yakni Amir Syam, Ridwan Ibbas, Abdullah Husen, dan M Thaher Daud.

Di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, amnesti diberikan kepada seluruh aktivis GAM dan seluruh tahanan politik dan narapidana politik. Presiden Jokowi memberikan amnesti kepada terpidana pelanggaran UU ITE Baiq Nuril Maknun.

Semua langkah itu merupakan bagian penting menuju rekonsiliasi nasional. Ia merupakan laku hidup dari forgiven but not forgotten. Memaafkan, tapi tidak melupakan. Tidak melupakan bahwa hukum pernah diintervensi politik dan kekuasaan. Tidak melupakan bahwa watak kekuasaan yang cenderung korup pernah terjadi dan karena itu, mesti terus-menerus diawasi, diimbangi, dikritisi. Tujuannya praktik seperti itu tidak terjadi lagi.

Keputusan untuk memberikan abolisi kepada Tom Lembong dan amnesti untuk Hasto Kristiyanto itu membuat saya menengok tulisan Yudi Latif di akun media sosialnya, beberapa jam lalu. Isinya, ajakan untuk membuat perjanjian dengan elite. Spiritnya, tentang rekonsiliasi antara rakyat dan para elite mereka.

Biar pesan dalam tulisan itu tersampaikan secara utuh, saya ingin kutip secara lengkap tulisan prosa yang diberi judul Perjanjian dengan Elite itu. Berikut narasi lengkapnya.

'Saudaraku, tuan dan puan yang duduk di kursi tinggi, kami tak meminta langit, tak pula berharap pada cahaya mukjizat dari singgasana kekuasaan.

Kami tahu negeri ini ruwet. Kami tahu membangun bangsa adalah kerja berliku yang tak mudah. Kami maklum, bahwa menyusun keadilan dan kemakmuran bukan perkara simsalabim dalam satu masa jabatan.

Maka, izinkan kami ajukan tawaran yang tidak muluk-muluk: Bisakah tuan dan puan, setidaknya tidak ikut merusak?

Jika tak sanggup memperbaiki, janganlah menambah retak. Jika tak mampu merawat, jangan mempercepat pembusukan. Jika tak hendak membantu, tolong jangan mengganggu. Jika tak ingin memuliakan rakyat, jangan pula mempermainkan nasibnya. Jika tak bisa membangunkan harapan, setidaknya jangan mematikan yang masih menyala.

Kami tak menuntut keajaiban dari elite, hanya sedikit kemurahan hati untuk tidak menjadi bagian dari bencana.

Bila elite berhenti menggali lubang, rakyat akan mulai membangun jembatan. Bila elite berhenti mencipta gaduh, rakyat akan menemukan harmoni. Bila elite berhenti memeras dan mengiris, rakyat akan menambal dan mengikat kembali serpihan-serpihan bangsa.

Negeri ini bukan lemah daya. Ia hanya kekurangan ruang untuk bernapas. Terlalu sering, kehidupan dari bawah yang hendak tumbuh justru diinjak dan direnggut dari atas. Padahal, tanpa gangguan dari elite yang culas, rakyat punya cukup akal, cukup tenaga, cukup cinta untuk menghidupi harapan. Mereka akan bergerak, sebagaimana air selalu mencari celah: mengalir, menyuburkan, menyatukan.

Tuan dan puan, mari buat perjanjian kecil, perjanjian paling sederhana dalam sejarah republik ini. Janji untuk tidak ikut menyumbang kehancuran.

Itu saja.

Sisanya, biarlah rakyat yang menyulam harapan, menyusun reruntuhan menjadi ruang hidup yang layak, tempat semua anak bangsa merasa tenteram dan bermartabat. Bukan karena pertolongan dari atas, melainkan karena mereka akhirnya punya tanah untuk berpijak, langit untuk menatap, dan alasan untuk meraih impian'.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.