Dilahap Korupsi

04/7/2025 05:00
Dilahap Korupsi
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

MEMBICARAKAN korupsi di negara ini tak pernah ada habisnya. Korupsi selalu menawarkan banyak angle, banyak point of view, banyak sisi yang bisa diberitakan dan dicakapkan. Entah itu soal kasus-kasusnya, metode praktik korupsinya, nilai kerugian negaranya, kinerja penegak hukum pemberantasan korupsinya, entah soal tokoh dan pejabat publik yang terjerat oleh kejahatan luar biasa itu.

Semua ada, komplet. Tinggal pilih mau subtopik yang mana, topik korupsi tak pernah kehabisan 'bahan'. Bahkan untuk bahasan yang agak ringan, misalnya soal istilah-istilah receh yang kerap dipakai antarpelaku korupsi sebagai kode sandi untuk menyamarkan tindak rasywah mereka pun tersedia.

"Korupsi kagak ade matinye," begitu barangkali ungkapan dalam dialek Betawi untuk menggambarkan kejengkelan orang-orang ketika melihat begitu mengakar dan sistemisnya korupsi di negeri ini. Memang betul, pembicaraan soal korupsi tak pernah habis karena korupsi sampai hari ini enggak mati-mati. Gejala-gejala ke arah mati pun belum terlihat. Korupsi malah tampak makin 'segar bugar'.

Rasywah sering diibaratkan Hydra, makhluk mengerikan berkepala banyak dalam mitologi Yunani yang setiap kali satu kepalanya dipenggal, dua kepala baru akan tumbuh menggantikannya. Korupsi juga acap disandingkan dengan karakter vampir yang hidup abadi dengan menghisap darah makhluk hidup lainnya.

Melawan makhluk yang tidak gampang mati tentu butuh kekuatan, ketahanan (endurance), ketekunan, sekaligus strategi yang luar biasa. Hydra pada akhirnya hanya bisa mati oleh kekuatan setengah dewa dari pahlawan mitologi Yunani, Hercules. Itu pun setelah melalui pertarungan yang amat sengit, ditambah dengan bantuan Iolaus, keponakan Hercules.

Begitu juga kiranya kita mesti memberangus korupsi. Harus ada dulu spirit dan pemahaman yang sama bahwa korupsi ialah praktik jahat yang pada ujungnya akan menyengsarakan rakyat banyak. Karena itu, seberapa pun perkasanya dia, sekuat apa pun cengkeramannya pada sendi-sendi kehidupan bangsa ini, bahaya laten korupsi mesti terus diperangi dan dibasmi.

Sayangnya, itu semua masih sebatas omon-omon. Konsistensi dan persistensi dalam memerangi korupsi nyaris nihil. Tidak hanya satu sisi, tapi semua sisi. Kalau kita lihat dari tiga cabang kekuasaan yang ada, eksekutif, legislatif, dan yudikatif, ketiganya sama saja, sama-sama lunglai dalam hal konsistensi dan persistensi melawan korupsi.

Suatu kali terlihat garang, tapi kali lain lembek. Pemberantasan korupsi kerap dipidatokan berapi-api, tapi praktik di lapangannya adem ayem. Penegak hukum sering bermain tebang pilih kasus; parlemen ikut bermain-main melemahkan aturan pemberantasan korupsi; pun lembaga peradilan cukup gemar memvonis rendah hukuman koruptor, bahkan kemudian menyunatnya lagi.

Keanehan-keanehan seperti itulah yang justru menyuburkan rasywah. Bayangkan seandainya Hercules ogah-ogahan melawan Hydra, sudah pasti dia tidak bakal menang, malah Hydra-nya yang akan bertambah sakti. Salah satu dari kepalanya yang semakin banyak itu barangkali justru akan dengan mudah melahap Hercules.

Lantas, apakah Indonesia juga akan 'dilahap' korupsi? Jawabannya, kenapa tidak? Arah ke situ sudah terlihat, tanda-tandanya pun semakin jelas menampakkan diri. Itu bisa kita cermati salah satunya dari kian besarnya uang negara yang ditilap dari beberapa kasus dugaan korupsi yang terungkap belakangan ini.

Saat ini, korupsi bernilai miliaran rupiah sepertinya dianggap sudah kuno. Korupsi zaman sekarang sudah 'naik kelas', kini eranya megakorupsi, nilainya triliunan, bahkan puluhan hingga ratusan triliun rupiah. Beberapa waktu lalu muncul istilah 'Liga Korupsi Indonesia' berikut dengan urutan klasemen berdasarkan nilai rupiah kerugian uang negara. Itulah gambaran bahwa korupsi memang makin tak terbendung.

Selain dari sisi nilai, sebaran pelakunya juga makin meluas. Mulai pejabat pemerintah, dari yang levelnya rendah hingga tinggi, tingkat pusat dan daerah; anggota DPR dan DPRD; sampai dengan aparat pengadilan termasuk hakim agung. Mereka seperti semakin tidak punya rasa takut menggarong uang rakyat.

Alexander Marwata saat menjabat komisioner KPK pada satu kesempatan pernah mengatakan koruptor tidak takut berbuat culas lantaran keuntungan yang mereka peroleh dari hasil mencuri uang negara lebih besar ketimbang risiko yang dihadapi ketika tertangkap akibat korupsi. Para pejabat bisa jadi sadar akan risiko bakal tertangkap, tetapi jalan korupsi tetap menjadi pilihan karena terbentang peluang meraup megakeuntungan.

Ironisnya, realitas di depan mata itu tidak membuat upaya pemberantasan rasywah di negara ini menjadi lebih baik. Pendekatan pada sisi penindakan tak banyak berubah, begitu pula pada sisi upaya pencegahan dan pengawasan. Buktinya, korupsi malah makin tak tercegah dan terawasi. Faktanya, tuntutan ringan, vonis ringan, bahkan obral diskon hukuman masih saja jadi kebiasaan di ruang pengadilan.

Kejahatannya dianggap luar biasa, tapi penanganannya sangat jauh dari luar biasa. Korupsinya naik kelas, tapi spirit, strategi, dan lembaga pemberantasannya masih di kelas yang itu-itu saja. Semoga saja tidak malah turun kelas.

Kalau kayak begitu kondisinya, patutkah kita berharap korupsi bakal cepat mati? Jangan-jangan malah negara ini yang 'mati' duluan karena keburu dilahap kerakusan korupsi.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.