(Bukan) Suara Rakyat

21/3/2025 05:00
(Bukan) Suara Rakyat
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SUARA rakyat dan suara wakil mereka di parlemen terbukti tidak selalu sinkron. Enggak selalu nyambung, bahkan sering bertolak belakang. Jalan yang mereka ambil kerap berseberangan, satu ke kanan, satunya ke kiri. Lama-lama, relasi antara rakyat dan wakil rakyat jadi makin aneh, yang seharusnya makin mendekat malah kian menjauh. Alih-alih kian mesra, malah makin sering berantem.

Sebetulnya, kalau sekadar berbeda pendapat antara rakyat dan mereka yang mewakili, hal itu mungkin masih wajar dan bisa dimaklumi selama masih dalam koridor semangat yang sama. Namun, kalau sampai wakil rakyat tidak mau mendengar suara rakyat alias suara 'tuannya', itu yang bahaya. Itulah yang sesungguhnya tak boleh terjadi di negara yang mengeklaim diri demokratis.

Apabila yang seperti itu terus terjadi dan dianggap lumrah, boleh jadi benar kecurigaan banyak orang selama ini bahwa para anggota DPR itu sesungguhnya tidak sedang bekerja mewakili rakyat, tapi mewakili kepentingan lain. Entah untuk partai, entah untuk oligarki, entah buat kroni, entah buat famili, entah buat yang lain-lain.

Ketidaksinkronan terbaru antara rakyat dan wakil mereka terjadi, kemarin. Di saat rakyat menolak keras Revisi Undang-Undang TNI, para wakil rakyat malah sebaliknya, menerimanya dengan sangat 'happy'. Saya sengaja memilih diksi 'happy' karena DPR terlihat antusias untuk membahas revisi UU itu dengan secepat-cepatnya. Bahagia betul mereka bahkan sampai rela membayar mahal hotel mewah dan 'mengorbankan' waktu libur mereka demi revisi tersebut bisa segera disahkan.

Hasilnya tak sia-sia. Kemarin, Kamis (20/3), Revisi UU TNI atau nama resminya Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia (TNI) akhirnya disetujui dan disahkan menjadi undang-undang pada Rapat Paripurna DPR.

Prosesnya lancar jaya, nyaris senyap. Tidak ada keriuhan interupsi, pun tidak ada kegaduhan seperti drama mikrofon yang dimatikan pimpinan. Semua fraksi langsung menyatakan setuju. Hanya catatan-catatan kecil yang mereka sertakan, barangkali biar tidak terlalu kentara nihilnya perlawanan mereka atas keinginan pemerintah tersebut.

Mereka menutup mata atas fakta bahwa pada saat yang sama, di luar Gedung DPR, rakyat dan mahasiswa sedang berunjuk rasa, berjuang untuk hal yang sebaliknya: tolak pengesahan Revisi UU TNI. Mereka menutup telinga meskipun para akademisi, intelektual, dan koalisi masyarakat sipil telah getol menyuarakan betapa bahayanya implementasi dari UU TNI yang baru itu terhadap pelaksanaan demokrasi di Indonesia. Bahaya karena justru militerisme dan otoritarianisme yang kembali menemukan jalannya.

DPR melalui ketua mereka, Puan Maharani, boleh saja mengeklaim bahwa hal-hal yang menjadi kekhawatiran dari pengesahan UU TNI tidak akan terjadi. Ia berharap UU TNI dapat bermanfaat untuk semua pihak. Puan dengan bangganya juga menyebut Revisi UU TNI telah sesuai mekanisme dan mengedepankan supremasi sipil.

Tunggu dulu, Mbak Puan, memangnya siapa yang bisa menggaransi itu ketika proses pembahasannya sendiri dibikin tertutup, tidak transparan, menjauh dari rakyat, dan terkesan tergesa-gesa? Bagaimana bisa dibilang mengedepankan supremasi sipil kalau amanat reformasi untuk mengembalikan tentara kepada fungsi militerisme yang profesional dan mempersempit ruang-ruang di luar domain militer justru berpotensi 'dilanggar' UU TNI yang Anda sahkan tersebut?

Vox populi, vox dei. Suara rakyat adalah suara Tuhan. Namun, keliru kalau mengartikan suara wakil rakyat juga bagian dari suara Tuhan itu. Suara rakyat diibaratkan sebagai suara Tuhan karena bersumber dari kepolosan dan ketulusan. Sebaliknya, suara wakil rakyat terlalu kotor karena sudah terlalu banyak zat pencemarnya maka tak pantas disetarakan sebagai suara Tuhan.

Dengan kredo 'suara rakyat adalah suara Tuhan' itu seharusnya suara rakyatlah yang paling utama untuk didengar, bukan suara kepentingan dari pihak-pihak lain. Akan tetapi, saat ini, kita terlampau kerap melihat situasi ketika suara wakil rakyat tidak mencerminkan suara sebenarnya dari rakyat yang mereka wakili. Bukan lagi kehendak rakyat yang dominan mengendalikan suara para wakil mereka di parlemen.

Itu ironi yang mestinya dipandang sebagai masalah serius dalam sistem demokrasi. Namun, celakanya, praktik pengabaian suara rakyat dalam pengambilan keputusan baik di eksekutif maupun legislatif itu terus-menerus dilakukan. Pengesahan RUU TNI yang tidak melibatkan partisipasi rakyat, minim transparansi, dan dilakukan secara kilat di tengah gelombang protes bukanlah contoh pertama. Ia hanya pengulangan dari 'tren' yang belakangan mencuat.

Sejak revisi UU KPK di pengujung periode 2014-2019 lalu. Kemudian berlanjut ke RUU Cipta Kerja, RUU IKN, revisi UU MK, hingga revisi UU BUMN pada Februari lalu, semua tercipta melalui model kerja di parlemen yang sama. Grasa-grusu, meniadakan partisipasi publik, dan rapat yang sangat mungkin penuh manipulasi.

Pertanyaan krusialnya ialah kepada siapa suara rakyat mesti dititipkan kalau lembaga resmi yang seharusnya menjadi wakil mereka justru kerap berselingkuh dengan suara kepentingan yang lain? Kalau ini tak kunjung mendapat jawaban, sejujurnya kita khawatir pola-pola pengesahan RUU seperti yang belakangan ini terjadi akan terus berulang dan terulang lagi.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.