Slow Living

18/12/2024 05:00
Slow Living
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

MODERNITAS memang menjanjikan banyak hal. Ada 'janji' mendapatkan kecepatan, kemudahan, kedekatan virtual, keterjangkauan, juga 'hil-hil yang dulu dianggap mustahal'. Pokoknya, dengan teknologi, melalui kecerdasan buatan, hampir semua hal bisa diwujudkan.

Kendati begitu, sudah sejak lama pula modernitas dikritik bakal menyisakan masalah. Hegel dan Marx sudah mengkritik residu modernitas itu sejak seabad lebih yang lalu. Mereka menyebut modernitas menciptakan alienasi, keterasingan.

Erich Fromm, seorang psikoanalis, juga sudah menyebut soal keterasingan kaum modernitas itu lima dekade lalu. Ia menyebut modernitas membuat banyak orang sakit. Karena itu, kata Fromm, untuk menyembuhkan masyarakat modern yang sakit itu harus dilakukan perubahan, bukan hanya dalam satu aspek kehidupan, melainkan juga seluruh bidang, termasuk struktur karakter manusia dan aktivitas kebudayaan.

Mungkin karena terinspirasi oleh tulisan Fromm atau kian banyaknya tekanan hidup, kini semakin ngetren orang memilih jalan hidup slow living. Gaya hidup manusia modern yang agak 'mengerem' itu bukan berarti hidup serbalambat atau malas, melainkan hidup yang lebih seimbang, kian sadar, dan makin bermakna.

Di sejumlah portal berita, kini juga kian menjamur artikel-artikel soal slow living. Ada yang menulis kiat-kiat. Ada yang menulis Slow Living: Pengertian, Manfaat, & Cara Melakukannya. Hingga ada artikel soal tempat-tempat yang pas buat menerapkan slow living seperti di Magelang, Salatiga, Wonosobo, Temanggung (semuanya di Jawa Tengah); Malang, Jawa Timur; atau Yogyakarta.

Pilihan itu boleh jadi disebabkan mereka merasa dunia akhir-akhir bergerak amat cepat. Bahkan, dirasakan terlalu cepat. Mereka menyaksikan saat naik transportasi umum, orang-orang berebut masuk dan keluar. Naik tangga atau eskalator di stasiun kereta commuter atau di sejumlah mal juga berdesakan. Semua terburu-buru. Mereka berjalan setengah berlari.

Melihat, merasakan, dan menjalani situasi seperti itu, bagi mereka, terasa melelahkan. Lari, bergerak, berebut setiap saat membuat tubuh dan pikiran jadi kewalahan. Akhirnya, orang mulai berpikir untuk menjalankan gaya hidup slow living, mungkin seperti prinsip alon-alon waton kelakon alias pelan-pelan tapi tercapai.

Sekali lagi, slow living memiliki konsep tidak menyerah dengan kehidupan yang berjalan cepat, tapi memperlambat dan fokus pada hal-hal kecil yang biasanya diabaikan. Mereka menolak terjebak pada rutinitas. Hidup perlu menyediakan waktu untuk melakukan hobi yang benar-benar disukai, bahkan menikmati alam tanpa harus bersama telepon seluler, menjauh dari telepon pintar untuk sementara waktu.

Intinya, menjalani dan melakukan semua hal yang membuat hidup merasa lebih baik. Mereka tidak lupa bahagia, tidak terlalu stres, dan hidup lebih damai, menghargai kehidupan. Mereka yang memilih slow living berfokus pada melakukan segala sesuatu dengan baik, bukan dengan cepat. Mereka memprioritaskan waktu untuk hal yang benar-benar penting; meskipun harus dilakukan dengan lambat dan lama, hasilnya sempurna.

Namun, selalu saja ada kritik. Itu biasa. Sejumlah orang yang mengkritisi gejala slow living itu menilai bahwa pilihan gaya hidup 'melambat' itu lambang kekalahan. Mereka dinilai kalah bertarung lalu memilih jalan lari dengan bumbu-bumbu asketis.

Ada pula yang mengomentari bahwa kita selalu hidup dalam dua pendulum yang gampang bergeser. Malah, ada yang menyebut kita bangsa yang setengah-setengah, tidak pernah full. "Baru juga setengah modern, sudah mengeluhkan hidup yang serbacepat. Padahal, yang kita butuhkan malah tambahan kecepatan agar menjadi bangsa maju," kata seorang teman yang menolak slow living.

Namun, slow living atau fast living memang pilihan merdeka. Ia bisa menjadi alternatif. Lebih-lebih ketika hujan pungutan mulai mendera kaum modern (atau setengah modern) di banyak tempat. Ada pajak pertambahan nilai (PPN) yang dinaikkan mulai Januari 2025. Ada tambahan pajak kendaraan bermotor. Ada subsidi yang dialihkan.

Rupa-rupa pungutan itu saling gegas, berpacu, berburu untuk diberlakukan tahun depan. Karena itu, tekanan hidup pasti bertambah. Sumbu hidup terus dipacu. Ruang bernapas kian sesak. Slow living ialah jalan alternatif. Ia upaya mengatur napas, menyelonjorkan kaki, membasuh muka.

Singkatnya, para penganut slow living sedang hendak mematikan autopilot dan memberikan ruang merefleksi dan menjalani hidup dengan kesadaran penuh. Mereka mengartikan slow living sebagai hidup yang lebih baik, bukan lebih cepat. Bukan tertinggal, melainkan mengedepankan prioritas dan kenyamanan.

Boleh-boleh saja. Sah-sah saja. Sama sahnya ketika Theodore KS menggambarkannya lewat lirik lagu Balada Sejuta Wajah yang dipopulerkan God Bless.

'Mengapa semua berkejaran dalam bising

Mengapa oh mengapa

Sejuta wajah engkau libatkan dalam himpitan kegelisahan

 

Adakah hari esok makmur sentosa

bagi wajah-wajah yang menghiba'.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.