Abdul Mu’ti dan Model Ful-Ful

27/11/2024 05:00
Abdul Mu’ti dan Model Ful-Ful
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SAYA perlu menuliskan lagi tema soal pendekatan pembelajaran ful-ful ini karena ada koreksi dari sang pelontar ide: Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti.

Pada Minggu (24/11), pukul 05.51 WIB (sehari setelah tulisan saya yang berjudul Yang Ful-Ful dari Abdul Mu'ti tayang di Media Indonesia), Abdul Mu'ti mengirim pesan Whatsapp ke saya: 'Terima kasih sudah menulis, Mas'.

Saya tentu senang membaca pesan pertama itu. Namun, saya lalu tergopoh-gopoh karena membaca pesan berikutnya yang mengoreksi beberapa bagian dari yang saya tulis. Kelihatannya koreksi minor, tapi menurut saya, substansial sehingga penting kiranya untuk saya tuliskan lagi.

Pak Mu'ti menulis koreksinya: 'Ada dua koreksi: pertama, pendekatan Deep Learning, bukan Deep Learning ful-ful. Kedua, Deep Learning bukan rekayasa AI, tapi pembelajaran yang mendalam. AI mengadopsi Deep Learning, bukan sebaliknya'.

Karena itu, setelah koreksi itu, saya perlu menuangkannya dalam tulisan ini. Saya tetap merasa bahwa soal metode deep learning dalam dunia pendidikan yang dilontarkan Mendikdasmen Abdul Mu'ti merupakan satu pernyataan paling menarik dari menteri-menteri yang dilantik Presiden Prabowo Subianto di Kabinet Merah Putih. Bagi sebagian orang bahkan dinilai sebagai pernyataan mengejutkan.

Saat menjawab kritik lama soal 'ganti menteri ganti kebijakan', Abdul Mu'ti menyebut ganti kebijakan itu hal yang amat lumrah. "Bahkan harus. Buat apa ganti menteri kalau kebijakannya sama? Mending pertahankan saja menterinya itu. Termasuk soal kurikulum. Tentu yang tidak sempurna kita perbaiki. Kalau perlu, diganti bila memang dinilai tidak pas. Jadi, tidak usah takut dengan istilah ganti menteri ganti kebijakan," kata Abdul Mu'ti dalam kesempatan petemuan dengan pimpinan media massa, beberapa waktu lalu.

Lalu, hebohlah di ruang publik soal penggantian Kurikulum Merdeka Belajar. Banyak orangtua merasa anak mereka menjadi korban kelinci percobaan ganti-ganti kurikulum. Model satu masih meraba-raba, eh, tahu-tahu diganti. "Capek deh," kata sebagian dari mereka.

Namun, Abdul Mu'ti punya keyakinan sebaliknya, bahwa pergantian yang akan dilakukan kementeriannya tidak akan menjebol atau mencabut ide-ide besar dari kurikulum sebelumnya. Model pendekatannya saja yang diperbarui. Strateginya juga bukan barang baru kemarin, melainkan sudah ada sebelumnya.

Ia lalu mengenalkan metode pembelajaran deep learning. Metode apa lagi itu? Deep learning sebenarnya termasuk sebuah metode yang sudah dikenal lama di dunia pendidikan. Bahkan, metode pembelajaran mendalam itu kemudian diadopsi di teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang meniru cara kerja otak manusia untuk memproses data, memungkinkan komputer mengenali pola kompleks dalam gambar, teks, suara, dan data lain.

Mendikdasmen menjelaskan deep learning merupakan penggabungan tiga elemen. Ketiganya terdiri dari mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning. Untuk memudahkannya agar gampang diingat, Abdul Mu'ti membahasakan bahwa metode deep learning dijalankan dengan pendekatan ful-ful. Kata ful-ful berasal dari imbuhan terakhir istilah mindful, meaningful, dan joyful itu.

Elemen tersebut dirancang dalam rangka menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya berfokus pada pengetahuan, tapi juga memberikan pengalaman. Melalui konsep mindful learning, seorang guru bakal memperhatikan keunikan setiap siswa, termasuk potensi dan kebutuhan individual mereka.

Misalnya, dalam pelajaran tentang panas (kalor). Siswa diajak bereksperimen di laboratorium. Mereka dapat memahami proses dan manfaat panas dalam kehidupan sehari-hari. Begitu juga saat mempelajari energi dan seterusnya. Mereka dirangsang untuk berpikir dan mengasah daya nalar kritis. Gurunya pun dirangsang melakukan hal serupa.

Elemen selanjutnya ialah meaningful learning. Dengan pendekatan itu, siswa didorong untuk memahami alasan dan manfaat setiap materi pelajaran dalam kehidupan nyata. Jadi, mereka dirangsang untuk menemukenali makna di balik pelajaran yang mereka dapatkan.

Proses pembelajaran model itu juga membuat siswa menyadari bahwa ilmu yang dipelajari memiliki makna dan relevansi dalam kehidupan nyata. Contohnya hubungan antara matematika dan transaksi keuangan. Bagaimana menambah, membagi, mengurangi, persentase, menentukan keuntungan, dan seterusnya. Ada usaha siswa dan guru untuk menemukan makna di balik mata pelajaran yang diajarkan.

Terakhir, joyful learning. Dengan metode itu, suasana belajar tidak hanya menyenangkan, tetapi juga menggugah pemikiran mendalam siswa terhadap materi yang dipelajari. Joyful berbeda dengan fun yang lebih menekankan aspek kesenangan, kemeriahan, atau kelucuan, tapi maknanya masih di kulit, bahkan mungkin dangkal. Contoh pendekatan belajar yang menyenangkan itu ialah menggunakan gim atau kuis.

Abdul Mu'ti menyampaikan bahwa deep learning bukan kurikulum, melainkan metode pembelajaran untuk meningkatkan kapasitas dan pemahaman siswa melalui pengalaman. Ia menekankan itu karena begitu sebuah konsep atau metode diberi tekanan tertentu, umumnya mereka yang menjalankan metode itu menganggapnya sebagai beban. Akibatnya, bukan pembelajaran mendalam yang terjadi, melainkan jangan-jangan justru cuma kulit dan simbol.

Kita mengingatkan, apa pun metodenya, materi pembelajaran tidak boleh membebani siswa dan guru. Selama ini, siswa dan guru kerap dibebani ini itu. Walhasil, semua baik metode maupun kurikulum tak pernah tuntas menjadi alat mempercepat proses perbaikan mutu pendidikan.

Kalau selalu begitu, ganti kebijakan berkali-kali pun tiada arti. Jangankan berarti selamanya, meminjam sajak klasik Chairil Anwar, sekali berarti pun tidak. Pak Abdul Mu'ti, juga guru, peserta didik, dan orangtua, tentu tidak menginginkan seperti itu.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.