Senyum Tom Lembong

12/11/2024 05:00
Senyum Tom Lembong
Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

TAK ada sepotong pun kalimat dari mulutnya. Dia bungkam seribu bahasa meski didesak belasan jurnalis yang menantinya seusai diperiksa sebagai tersangka korupsi selama 10 jam.

Dialah mantan Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong atau akrab disapa Tom Lembong. Tersangka kasus dugaan korupsi importasi gula yang terjadi di Kementerian Perdagangan pada 2015-2016. Dia tampak memakai rompi tahanan berwarna pink milik Kejaksaan Agung.

Dengan tangan terborgol dia hanya melempar senyum sembari jalan tergesa-gesa ke mobil tahanan. Senyum yang sama dengan lesung pipit dan rambut klimisnya dia tampakkan sebelumnya saat ditetapkan sebagai tersangka oleh Korps Adhyaksa pada Selasa (29/10).

Dalam penetapan tersangka kasus-kasus rasuah penyelenggara negara lainnya Kejagung mendapat reaksi positif dari publik dan decak kagum, seperti kasus ASABRI (kerugian negara Rp22,788 triliun), Jiwasraya (Rp16,807 triliun), PT Timah (Rp271 triliun), Bakti Kemenkominfo (Rp8 triliun), PT Duta Palma (Rp78 triliun), dan teranyar kasus dugaan suap vonis bebas Ronald Tannur (Rp5 miliar) berikut temuan uang tunai sebesar Rp920 miliar.

Namun, dalam kasus Tom Lembong lembaga yang dipimpin Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin itu mendapat sentimen negatif. Kasus itu malah menuai polemik terkait dengan masih remang-remangnya kasus impor gula kristal mentah 105 ribu ton itu.

Bahkan, publik menilai penetapan tersangka mantan Co-captain Tim Nasional Pemenangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar ini bernuansa politis.

Dalam surat penetapan tersangka yang diterbitkan Kejagung, Tom ditetapkan sebagai tersangka di Kementerian Perdagangan untuk periode 2015 hingga 2023. Namun, hanya Tom yang diperiksa. Sejumlah mendag setelah Tom yang notabene importasi gulanya lebih besar tidak 'dicolek'.

Demikian pula validitas kerugian negara Rp400 miliar tidak berasal dari Badan Pemeriksa Keuangan. Berdasarkan Pasal 2 ayat 1 dan Pasal 3 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) sebagaimana yang dijerat ke Tom, unsur kerugian negara harus terbukti secara konkret (actual loss), bukan potential loss yang bersifat spekulatif. Belum lagi pertanyaan seputar aliran dana korupsi yang gelap.

Publik lalu mengaitkan dengan juntrungan pemeriksaan Menpora Dito Ariotedjo, yang diduga menerima aliran dana senilai Rp27 miliar dalam kasus korupsi Bakti Kemenkominfo.

Pertanyaan senada ditujukan terkait dengan ujung pemeriksaan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto pada kasus dugaan korupsi pemberian fasilitas ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) yang merugikan negara sebesar Rp6,47 triliun.

Penegakan hukum (law enforcement) di negeri ini masih terkesan tebang pilih, belum tegak lurus pada prinsip negara hukum (rechtsstaat) sesuai dengan Pasal 1 ayat (3) UUD 1945, seperti pada kasus yang menjerat mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Firli Bahuri yang ditangani Polda Metro Jaya.

Firli ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan pemerasan dan gratifikasi terhadap eks Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) pada 22 November 2023. Firlli diduga menerima suap sebesar Rp1,3 miliar dari SYL.

Setelah hampir setahun berstatus tersangka, alih-alih merasakan dinginnya ruang tahanan, Firli masih bebas melenggang, bahkan main badminton meladeni pasangan 'the Minions', Kevin Sanjaya dan Marcus Fernaldi Gideon.

Menegakkan hukum, terutama kasus korupsi, membutuhkan upaya luar biasa karena korupsi ialah extraordinary crime. Penanganan kejahatan luar biasa tak bisa dengan basa-basi, berputar-putar, sehingga keadilan ternodai, tertunda, bahkan tercampakkan (justice delayed is justice denied).

Dalam berbagai kesempatan Presiden Prabowo Subianto menegaskan ingin membangun pemerintahan yang bersih. Walakin, tekad mantan Danjen Kopassus itu hanya menjadi jargon apabila tata kelola pemerintahannya mengedepankan politik sebagai panglima sehingga Indonesia bergeser menjadi negara kekuasaan (machtstaat).

Pemerintahan yang bersih harus berdasarkan prinsip-prinsip negara hukum, yakni supremasi hukum, persamaan di depan hukum, proses hukum yang wajar, pembagian kekuasaan, dan perlindungan hak asasi manusia.

Di atas prinsip yang bersifat legalistik ialah ethikos (etika). Kemampuan menimbang mana yang pantas dan tidak pantas. Earl Warren, Ketua Mahkamah Agung Amerika Serikat (1953-1969), mengatakan law floats in a sea of ethics (hukum mengapung di atas samudra etika).

Jika samudra kering, kapal bernama hukum tidak akan bisa berlayar menuju kepastian, keadilan, dan kemanfaatan bagi masyarakat. Tabik!



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.