Jokowi Masa Lalu Prabowo Harapan Baru

07/10/2024 05:00
Jokowi Masa Lalu Prabowo Harapan Baru
Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

MASA jabatan Presiden Joko Widodo tersisa 13 hari lagi. Setelah 10 tahun memimpin negeri ini, jelang lengser, Jokowi rajin bersafari ke daerah untuk menyampaikan permohonan maaf.

Permohonaan maaf secara resmi sudah disampaikan Jokowi saat sidang tahunan MPR pada 16 Agustus 2024. “Mohon maaf untuk setiap hati yang mungkin kecewa, untuk setiap harapan yang mungkin belum bisa terwujud, untuk setiap cita-cita yang mungkin belum bisa tergapai,” kata Jokowi.

Harus jujur diakui bahwa kepemimpinan Jokowi mencatat sejumlah prestasi sekaligus banyak kekurangannya. Keberhasilan paling nyata tentu saja di bidang infrastruktur. Jokowi telah membangun 366 ribu kilometer jalan desa, 1,9 juta meter jembatan desa, 2.700 kilometer tol baru, 6.000 kilometer jalan nasional, 50 pelabuhan dan bandara baru, 43 bendungan baru, dan 1,1 juta hektare jaringan irigasi baru.

Baca juga : Jadi Mantan Presiden, Enak?

Survei Indikator Politik Indonesia menyebutkan mayoritas merasa puas dengan kinerja Jokowi, 75%. Survei yang dirilis pada 4 Oktober 2024 itu mengaitkan kepuasan yang tinggi dengan kemampuan mengendalikan inflasi.

Jika ditelaah lebih mendalam, Jokowi meraih simpati hingga menjelang akhir jabatannya karena ia konsisten dengan gaya politik yang sederhana dan tanpa jarak dengan rakyat.

Rakyat menyambut pelantikan Jokowi secara meriah pada 20 Oktober 2014. Disambut meriah karena kesederhanaan dan kedekatan seorang Jokowi dengan rakyatnya. Sudah teramat lama bangsa ini merindukan sosok pemimpin sederhana.

Baca juga : Sean Gelael Optimistis Raih Podium di Sao Paolo

Presiden silih berganti memimpin Republik ini. Sepanjang sejarah, Indonesia telah dipimpin tujuh presiden. Baru kali itulah Indonesia memiliki figur presiden ideal. Dalam diri Jokowi saat pertama kali dilantik menjadi presiden bersumber seabrek keteladanan sikap perilaku. Kesederhanaannya ialah keutamaannya.

Pada mulanya Jokowi dianggap sebagai sosok harapan baru. Apalagi pada periode kedua, Jokowi merangkul lawan politiknya pada Pemilu 2019, Prabowo Subianto, sebagai menteri di kabinetnya. Tidak berhenti di situ. Jokowi juga cawe-cawe untuk memenangkan Prabowo yang berpasangan dengan putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, pada Pilpres 2024.

Cawe-cawe Jokowi itulah yang mendasari pelabelan baru, dari Jokowi harapan baru menjadi kefrustrasian baru karena demokrasi dikuburkan dengan membuka ruang dinasti politik. Kefrustrasian baru itu tidak terekam dalam hasil survei Indikator yang menyebutkan tingkat kepuasan terhadap Jokowi tetap tinggi menjelang akhir masa jabatannya.

Baca juga : SDN 085 Ciumbuleuit dan SDN 043 Cimuncang Raih Podium Teratas

Tidak terekam karena fakta itu hanya ditangkap publik kelas atas dan berpendidikan tinggi. Temuan Indikator dalam survei yang digelar pada 22-29 September 2024 menyebutkan bahwa berdasar pendidikan, ada kecenderungan tingkat kepuasan semakin rendah pada kelompok yang semakin terdidik. Menurut kelompok pendapatan, tingkat kepuasan ada kecenderungan semakin rendah pada kelompok yang lebih kaya.

Pantas jika kalangan terdidik tidak puas. Selama satu dekade Jokowi memimpin, indeks demokrasi turun. Indonesia pernah dilabeli sebagai negara dengan demokrasi cacat pada 2023. Berdasarkan data Freedom House, indeks demokrasi Indonesia turun dari 62 poin pada 2019 menjadi 53 poin pada 2023. Data Reporters Without Borders (RSF) juga menunjukkan penurunan terhadap skor kebebasan pers Indonesia, yakni dari 63,23 poin pada 2019 menjadi 54,83 poin pada 2023.

Skor indeks persepsi korupsi Indonesia pada 2023 stagnan di angka 34, sama seperti pada 2022. Dengan stagnasi tersebut, peringkat Indonesia pun merosot dari 110 menjadi ke-115 dari total 180 negara. Fakta itu menegaskan bahwa pemerintahan Jokowi tidak memiliki kontribusi berarti dalam agenda pemberantasan korupsi.

Baca juga : Semangat Juang Jadi Modal bagi Nizar Raih Podium Bali Trail Run Ultra 2024

Begitu juga terkait dengan pengentasan kemiskinan, persentasenya turun, tapi jumlah penduduk miskin masih tinggi. Data terbaru Badan Pusat Statistik menyebutkan persentase penduduk miskin di Indonesia per Maret 2024 ialah 9,03% dari total penduduk atau sekitar 25,22 juta orang.

Tidak terlalu penting mengglorifikasi atau meratapi kepemimpinan Jokowi. Jokowi dikenang sebagai masa lalu dan Prabowo harapan baru. Tugas kita untuk mengawal presiden terpilih Prabowo.

Ada modal awal dukungan terhadap kepemimpinan Prabowo menurut survei Indikator. Sekitar 84,3% warga merasa cukup atau sangat yakin Prabowo mampu membawa Indonesia menjadi lebih baik dari sekarang. Itu modal penting bagi Prabowo yang akan memimpin pemerintahan ke depan.

Masalah mendesak yang mesti diselesaikan Prabowo ialah mengendalikan harga-harga kebutuhan pokok 29,7%, menyediakan lapangan pekerjaan 19,3%, mengurangi kemiskinan 12,7%, pemberantasan korupsi 10,1%, memajukan sektor pertanian 5,7%, dan pembangunan/perbaikan infrastruktur sebesar 4,4%.

Meski tidak terekam secara signifikan dalam survei Indikator, persoalan serius yang mesti mendapatkan perhatian ialah menjamin kebebasan berpendapat dan memastikan toleransi antara umat beragama. Kebebasan berpendapat dan toleransi ialah roh keutamaan demokrasi. Jangan biarkan demokrasi dikendalikan oleh para pemburu rente. Kiranya Prabowo menjadi harapan baru untuk merawat demokrasi.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.