Sindiran tak Bermakna

26/9/2024 05:00
Sindiran tak Bermakna
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SINDIR-MENYINDIR dalam dunia politik itu sudah lumrah. Dalam ilmu komunikasi, sindiran bahkan dikategorikan sebagai salah satu bentuk komunikasi tidak langsung yang paling efektif. Sindiran ialah cabang dari seni beretorika yang dianggap lebih aman dituturkan ketimbang langsung mengkritik, apalagi mengejek atau mencaci.

Saling sindir di antara para aktor politik, terutama pada saat musim pemilu, sudah teramat biasa kita temukan. Bahkan sepertinya gaya sindiran sudah menjadi strategi yang umum dipakai untuk mencuri perhatian publik luas. Dengan gaya bahasa ironi, sinisme, sarkasme, kadang-kadang dibumbui dengan humor, mereka bisa menohok lawan politik tanpa perlu memukul secara langsung.

Begitu pula dalam relasi publik dengan pemerintah atau penguasa. Sindiran menjadi salah satu saluran yang mereka pilih untuk menyuarakan kegelisahan, juga kedongkolan atas kebijakan pemerintah, isu sosial yang terjadi, ataupun perilaku para pejabat dan elite.

Baca juga : Jadi Mantan Presiden, Enak?

Terlebih saat ini, perkembangan media sosial telah membuat saluran itu menjadi sangat lebar. Tidak ada yang bisa memungkiri, kritik dan unek-unek melalui bahasa sindiran kini begitu mudah dilemparkan dan disebarluaskan. Siapa saja bisa melempar sindiran, pun kepada siapa saja sindiran itu bisa ditujukan.

Akan tetapi, bagaimana bila yang melempar sindiran itu ialah penegak hukum dengan materi sindiran terkait dengan kasus yang sedang mereka tangani? Nah, bingung, kan? Terus terang saya juga bingung ketika membaca berita bahwa Ketua sementara KPK Nawawi Pomolango, di satu acara, melempar sindiran dalam bentuk pantun yang sepertinya diarahkan ke satu nama tenar. Siapa dia, mari kita simak dua pantun Nawawi yang lagi ramai itu.

Sang anak jualan pisang

Baca juga : Sean Gelael Optimistis Raih Podium di Sao Paolo

Si bapak pengusaha terasi

Jangan naik pesawat terbang

Kalau tiketnya dari gratifikasi 

Baca juga : SDN 085 Ciumbuleuit dan SDN 043 Cimuncang Raih Podium Teratas

 

Burung Pipit burung merpati

Bersiul riang di atas dahan

Baca juga : Semangat Juang Jadi Modal bagi Nizar Raih Podium Bali Trail Run Ultra 2024

Jangan mimpi naik jet pribadi

Kalau cuma jualan pisang

 

Ada beberapa kata kunci yang membuat orang yang mendengar atau membacanya akan dengan mudah mengaitkan pantun itu sebagai sentilan kepada Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden Jokowi dan Ketua Umum PSI. Setidaknya tiga kata kunci yang meyakinkan, yaitu pisang, jet pribadi, dan gratifikasi.

Apalagi, saat membacakan pantun itu Nawawi sengaja meminta peserta acara tidak merespons tiap baitnya dengan kata 'cakep' seperti lumrahnya, tapi dengan kata 'coi'. Ia bilang 'coi' ialah singkatan dari conflict of interest. Dus, semakin mengerucutlah kepada siapa pantun itu ditujukan.

Lalu apa persoalannya? Ini bukan tentang Nawawi boleh melempar sindiran atau tidak. Aksi sindir Nawawi jadi terasa aneh karena pada saat yang sama, KPK, lembaga antirasuah yang ia pimpin, justru terlihat gagap menangani kasus dugaan gratifikasi yang melibatkan Kaesang. Dugaan gratifikasi muncul setelah Kaesang kedapatan terbang ke Amerika Serikat bersama istrinya menggunakan jet pribadi.

KPK bahkan sejak awal sudah ragu memanggil Kaesang untuk memberikan klarifikasi terkait dengan tuduhan gratifikasi. Belakangan malah anak ragil Jokowi itu mendatangi KPK yang ia klaim atas inisiatif sendiri, bukan atas pemanggilan KPK. Setelah klarifikasi Kaesang pun, sampai saat ini KPK belum memberikan tanggapan atau keputusan. Yang terjadi malah saling lempar tanggung jawab antarpemimpin lembaga itu.

Makanya, menjadi lucu ketika kemudian pucuk pimpinan KPK tiba-tiba melempar sindiran di forum terbuka, yang sebetulnya kalau kita cermati, isinya mengisyaratkan Kaesang memang bersalah. "KPK, kok, beraninya nyindir doang?" begitu kata netizen yang budiman di kolom komentar salah satu unggahan berita tentang pantun Nawawi.

Tidak salah juga mereka berkomentar seperti itu. Nawawi dan lembaga yang dipimpinnya punya kuasa, punya wewenang untuk membuat dugaan dan prasangka itu jadi terang seterang-terangnya. "Kenapa dia enggak fokus saja di area kewenangannya itu, sih, malah lempar sindiran seperti masyarakat pada umumnya?" timpal netizen yang lain.

Karena itu, jelas, dalam konteks ini, sindiran Nawawi menjadi tidak punya makna apa-apa. Selain hanya jadi lucu-lucuan, itu malah mengonfirmasi kecilnya nyali KPK saat berhadapan dengan kasus yang melibatkan penguasa. Kalau KPK betul punya keberanian, ya beranilah bertindak, jangan cuma berani menyindir.

Semakin miris lagi karena ketika pihak yang satu masih diselubungi ketakutan, pihak yang lain malah kian berani mengumbar psy-war. Di hari yang sama dengan Nawawi melontarkan sentilan, Kaesang dengan gagahnya blusukan ke Tangerang dengan memakai rompi bertuliskan 'Putra Mulyono'. Jadi, ya sudahlah. Untuk urusan keberanian, KPK kalah telak.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.