Menahan Laju Despotisme Baru

24/8/2024 05:00
Menahan Laju Despotisme Baru
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/EBET)

'DEMOKRASI kita bisa bernapas lagi'. Begitulah komentar banyak orang ihwal kisah 'sukses' gerakan rakyat dari berbagai komponen dalam mengawal putusan Mahkamah Konstitusi. Gerakan yang sudah senyap dan tiarap dalam kurun waktu lima tahun itu (terakhir ialah aksi besar-besaran menolak revisi Undang-Undang KPK) mampu 'memaksa' DPR membatalkan revisi Undang-Undang Pilkada yang bakal menorpedo putusan MK.

Putusan MK soal penurunan ambang batas syarat pencalonan di pilkada dan penolakan mengubah ketentuan usia calon kepala daerah mestinya dipatuhi dan dijalankan. Namun, putusan yang bersifat final dan mengikat itu tadinya hendak disiasati agar tidak bisa berlaku secara penuh, bahkan seluruhnya.

Untunglah, gerakan mengawal putusan MK melalui peringatan darurat bergambar Garuda dengan latar warna biru itu menjalar cepat di media sosial tanpa bisa dicegah. Gerakan itu menemukan simpulnya dalam bentuk aksi bersama di gedung parlemen. Kompleks gedung wakil rakyat itu 'dikepung' dari dua penjuru: depan dan belakang, sebagai simbol perlawanan.

Baca juga : Jadi Mantan Presiden, Enak?

Suasana 'sunyi, senyap, tiarap' selama lima tahun pun pecah, Kamis, 22 Agustus, pekan ini. 'Kanker keheningan' pun bisa dihambat. Seperti penggalan lirik lagu The Sound of Silence milik Simon & Garfunkel: 'Silence like a cancer grows. My words like silent raindrops fell. And echoed in the wells of silence' (Keheningan, seperti halnya kanker, tumbuh. Kata-kata seperti tetes hujan yang jatuh tanpa suara. Dan bergema di sumur-sumur kesenyapan).

Gerakan rakyat di negara demokratis ini hendak dihipnosis penguasa agar terus diam dan membenarkan yang seolah-olah benar, dan menganggap demokratis segala yang seolah-olah demokratis padahal tidak. Itulah kekuasaan yang berubah menjadi despotik, tapi bukan depotisme klasik, melainkan despotisme baru.

Melalui media sosial, kekuasaan bercorak despotisme baru itu hendak merayu agar banyak kelompok sipil 'tegak lurus' dengan sejumlah tindakan kekuasaan yang cenderung antidemokrasi. Sebagian malah menunggu 'arahan' untuk bersikap.

Baca juga : Sean Gelael Optimistis Raih Podium di Sao Paolo

Saya lalu teringat dengan pernyataan guru besar University of Sydney dan Wissenschaftszentrum Berlin, John Keane, empat tahun lalu. Pada 2020, profesor di bidang politik dan kajian demokrasi itu memperingatkan akan bahaya new despotism, alias despotisme baru di sejumlah negara.

Dalam despotisme lama, seperti yang terjadi di era Orde Baru, siapa yang berbeda suara tidak mendapat tempat. Berbeda dengan Orde Baru yang tindakan antidemokrasinya selalu ditantang kekuatan sipil, despotisme baru berhasil menghipnosis banyak pihak untuk alih-alih diam, justru membela tindakan antidemokrasi itu.

Maka, despotisme baru itu bukan saja mengancam kelangsungan demokrasi, melainkan juga mengganggu kehidupan sipil. Keane menggambarkan dunia masa depan yang didominasi despotisme baru, yakni 'sebuah pemerintahan pseudodemokratis jenis baru yang dipimpin para penguasa yang ahli dalam seni memanipulasi dan mencampuri kehidupan masyarakat'.

Baca juga : SDN 085 Ciumbuleuit dan SDN 043 Cimuncang Raih Podium Teratas

Para pemegang kendali kuasa itu mengumpulkan dukungan luas publik, dan menang dengan kepatuhan publik. Despotisme baru ditandai dengan kekayaan dan perluasan kekuasaan eksekutif dengan mengendalikan peradilan dan melemahkan supremasi hukum.

Dalam despotisme baru, pemilu terus berlangsung. Perlindungan konstitusional terkait dengan pemisahan kekuasaan politik dan peradilan juga dijalankan. Pula, kesetaraan warga negara di hadapan pemerintah tetap dipertahankan. Namun, semuanya semu. Segalanya serbaseolah-olah. Sepertinya demokratis, padahal yang dijalankan justru antidemokrasi.

Jadi, dalam despotisme baru, meskipun ketidakadilan ada di depan mata, kebebasan berekspresi dikekang, kekuasaan mulai memainkan hukum, prinsip rule of law diganti rule by law, rezim tetap mampu memuaskan rakyat. Mereka tetap mendapatkan 'persetujuan' rakyat yang tecermin, salah satunya, pada sikap diam dan pembelaan pada tindakan antidemokrasi.

Maka, penyiasatan hukum bertubi-tubi itulah yang memantik peringatan darurat dari beragam elemen rakyat agar despotisme baru tidak terus-menerus menuju puncak. Rakyat berharap, apa yang terjadi akhir-akhir ini bisa membuka kesadaran jalan menuju despotisme baru sedang terus dirintis.

Terlalu mahal harganya bagi negeri ini bila kesepakatan bersama kita memilih jalan demokrasi diputarhaluankan ke arah antidemokrasi atas nama 'ketenangan', 'kenyamanan', 'keberlanjutan', atau atas nama apa pun itu.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.