Menikmati Debat Daya Beli

07/8/2024 05:00
Menikmati Debat Daya Beli
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/EBET)

SAYA tengah menikmati 'perdebatan' antara Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan analisis periset Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet soal daya beli masyarakat yang menurun. Kata 'perdebatan' saya apit dengan tanda kutip karena hal itu tidak dilakukan secara langsung, alias bukan head to head. Perdebatan terjadi dalam ranah perspektif berita di Media Indonesia, kemarin.

Berita yang diangkat terkait dengan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) tentang ekonomi Indonesia pada kuartal kedua 2024. Dalam laporan itu BPS mencatat perekonomian tumbuh 5,05% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Konsumsi rumah tangga tumbuh 4,93% dengan kontribusi mencapai 54,53% terhadap produk domestik bruto.

Dengan data tersebut, Airlangga pun membantah kesimpulan sejumlah analis yang kerap menyebut konsumsi rumah tangga atau daya beli masyarakat melemah. Airlangga bahkan menekankan ada penguatan laju pertumbuhan konsumsi dari triwulan sebelumnya yang tercatat 4,91%.

Baca juga : Jadi Mantan Presiden, Enak?

“Jadi, sebetulnya ada kenaikan dan pertumbuhan konsumsi 4,93% itu angka yang tinggi, tetapi memang di bawah pertumbuhan ekonomi nasional," kata Airlangga dalam konferensi pers sekaligus memaknai laporan BPS itu.

Airlangga menambahkan, sejumlah momen seperti Ramadan dan Idul Fitri hingga libur sekolah mendorong masyarakat melakukan aktivitas ekonomi. Itu semua menandakan daya beli masih bisa diandalkan. Ketahanan ekonomi kita, dalam pandangan Airlangga, juga teruji.

Sangkalan Airlangga pun ditantang Yusuf Rendy. Ia mengatakan melemahnya konsumsi nyata terlihat jika dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan pada triwulan yang sama pada 2023 yang sebesar 5,23%.

Baca juga : Sean Gelael Optimistis Raih Podium di Sao Paolo

Perlambatan konsumsi tahun ini juga tecermin pada penurunan pertumbuhan tahunan simpanan di bank, terutama tabungan di bawah Rp100 juta. Per April, pertumbuhannya tinggal 4,1% dari 7,8% pada Maret. Itu artinya, justru semakin banyak masyarakat yang kian 'mantab' alias makan tabungan, alih-alih menabung.

Data itu mengindikasikan kelompok kelas menengah ke bawah mulai mengeluarkan tabungan untuk konsumsi dan penyesuaian konsumsi dari berbagai perubahan, terutama di kuartal I dan kuartal II. Penyesuaian itu berbentuk membeli barang yang lebih murah daripada biasanya.

Data Mandiri Spending Index (MSI) juga menunjukkan porsi pendapatan milik kelas menengah yang digunakan untuk membeli kebutuhan makanan pokok meningkat dua kali lipat. Itu artinya, kelas menengah mulai menyesuaikan bahwa penghasilan mereka tidak mencukupi lagi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersier, bahkan sebagian tak mampu memenuhi keperluan sekunder.

Baca juga : SDN 085 Ciumbuleuit dan SDN 043 Cimuncang Raih Podium Teratas

Data soal masih masifnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) juga mengonfirmasi bahwa daya beli akan terus tertekan. Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan yang dirilis Kamis (1/8), sepanjang Januari-Juni 2024, PHK menimpa lebih dari 101 ribu pekerja.

Semua data pembanding itu sahih. Data BPS juga sahih. Persoalan ada pada cara pandang, cara menarik kesimpulan, dan cara merespons keadaan. Airlangga boleh jadi melihat data BPS itu dari satu sudut pandang, yaitu sudut pandang saat ini, di triwulan kedua. Di lain sisi, Yusuf Rendy melihat data BPS itu masih perlu didekati dari berbagai sudut pandang, dianalisis berdasarkan tren (bukan hanya yang terjadi di triwulan terakhir), plus menambahnya dengan data pembanding.

Airlangga berposisi defensif, sama seperti pernyataan Menteri Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa saat menanggapi tren sebagian kelas menengah yang jatuh miskin. Sementara itu, Yusuf Rendy dan sejumlah analis justru sedang menambah dosis alarm agar pemerintah tidak terperosok ke dalam diagnosis yang salah sehingga membuat solusi yang salah pula.

Baca juga : Semangat Juang Jadi Modal bagi Nizar Raih Podium Bali Trail Run Ultra 2024

Penyangkalan Airlangga, juga sejumlah penyangkalan lainnya dari pejabat lainnya, berpotensi menyebabkan pemerintah 'sesat jalan' dalam memandu kebijakan perekonomian ke depan. Kalau semua dianggap aman-aman saja, jangan heran bila banyak kebijakan yang dilahirkan akhir-akhir ini justru memukul dan menjepit kelas menengah.

Pemberlakuan wajib tabungan perumahan; wajib asuransi kendaraan; cukai makanan berbahan gula, garam, dan lemak; dan rencana penaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi ialah buah pandangan bahwa 'daya beli masyarakat masih aman' sehingga 'boleh diberi beban tambahan'. Namun, saya sedikit senang karena masih banyak perdebatan yang menyajikan data serta analisis alternatif, bahkan tandingan.

Semoga itu tidak berhenti menjadi perdebatan. Semoga perdebatan itu menghasilkan produk kebijakan pemerintah yang bersifat deliberatif, yakni kebijakan yang berpangkal dari konsultasi dengan publik. Semoga ruang publik masih terbuka.

 



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.