JIS dan Kertajati

Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group
13/7/2023 05:00
JIS dan Kertajati
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

JUDUL tulisan ini tidak hendak memperbandingkan dua infrastruktur berskala besar tersebut. Karena itu, yang dipilih ialah kata 'dan', bukan 'atau', 'versus', atau diksi lainnya yang maknanya perbandingan karena sesungguhnya Jakarta International Stadium (JIS) di Jakarta Utara dan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka memiliki nasib yang hampir sama.

Kita mulai dari BIJB Kertajati. Secara teknis bandara itu tidak ada kurang-kurangnya. Dengan luas lahan hingga 1.800 hektare, ia diyakini menjadi bandara terbesar kedua di Indonesia setelah Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Belum lagi ditambah landasan pacu yang panjangnya mencapai 3.000 meter. Pesawat berbadan lebar seperti Boeing 777 atau Airbus A380 kiranya tak sulit mendarat dan mengudara dari situ.

Desainnya modern, tapi tidak lupa mengadopsi kearifan budaya lokal dalam porsi besar. Di terminal utama yang memiliki luas 121.000 meter persegi, atap dengan bentuk burung merak begitu mendominasi pandangan. Selain itu, elemen-elemen budaya Jawa Barat disematkan dalam konsep desain interior terminal penumpang. Pokoke jos tenan, kalau kata orang Jawa.

Namun, semua keunggulan dan kemegahan Bandara Kertajati itu seolah tenggelam selama lima tahun ini. Sejak diresmikan pada 24 Mei 2018 hingga saat ini, praktis nyaris tidak ada aktivitas penerbangan besar, terutama komersial, di bandara tersebut. Barangkali, penerbangan untuk mengangkut jemaah haji 2023 beberapa waktu lalu ialah satu-satunya 'prestasi' besar lapangan terbang itu.

Sebagai bandara yang diproyeksikan untuk menggantikan fungsi Bandara Husein Sastranegara, Bandung, ia terkendala oleh akses. Jarak Kota Bandung ke Kertajati kurang lebih 180 km. Kalau tanpa akses langsung, jarak itu akan memakan waktu tempuh sekitar 2,5 jam. Hampir mustahil untuk menggiring warga Bandung dan sekitarnya mau berlelah-lelah di jalan selama 2,5 jam hanya untuk menuju bandara.

Nasib serupa dialami JIS. Dengan lahan seluas 26 hektare dan kapasitas kursi penonton hingga 82 ribu orang, menurut situs Tfcstadiums.com, JIS ialah stadion terbesar kelima di Asia saat ini. Di Indonesia, secara kapasitas ia bahkan mengalahkan Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta.

Tak cuma besar, JIS megah, modern, dan ditunjang beragam fasilitas bertaraf internasional. JIS menjadi stadion pertama di Indonesia yang menggunakan rumput hybrid turf. Atap stadion canggih, bisa dibuka tutup sehingga dapat digunakan dalam cuaca apa pun. Ia sudah serupa dengan beberapa stadion elite di Eropa dan Asia, seperti Amsterdam Arena (Johan Cruyff Arena) di Belanda, Millenium Stadium di Wales, dan Sappooro Dome di Jepang.

Karena itu, agak aneh ketika tempo hari ada yang menyebut dirinya ahli rumput memberikan rekomendasi ke pemerintah agar mengganti atap JIS. Menurut dia, atap JIS yang terlalu menjorok menghalangi sinar matahari masuk ke stadion sehingga mengganggu pertumbuhan rumput. Ya, mudah-mudahan itu cuma rekomendasi guyon-guyonan sehingga tak perlu ditanggapi sama sekali.

Kembali ke nasib JIS. Dengan segala kemegahan dan kecanggihan teknologi itu, seperti Kertajati, JIS juga hampir saja 'terbengkalai'. Memang baru berumur jelang setahun, sih, JIS diresmikan pada 25 Juli 2022. Namun, naga-naga bahwa stadion itu dipinggirkan sudah tampak sejak awal. PSSI, misalnya, tampak betul seperti alergi dengan JIS.

Entahlah, meski saya tak ingin membahasnya lebih jauh, aroma politik memang sangat kentara mewarnai 'penolakan' terhadap JIS. Tentu ada persoalan lain seperti beberapa hal teknis minor di dalam stadion dan pembangunan kawasan di luar stadion serta akses menuju stadion yang belum optimal. Namun, faktor-faktor itu kiranya tidak sebesar faktor politisnya. Alhasil, seperti saya katakan di atas, JIS hampir saja dibiarkan terbengkalai.

Namun, JIS pada akhirnya mendapat momentum baik, tahun ini. Dengan segala polemiknya, stadion itu disebut telah dicalonkan sebagai salah satu venue untuk penyelenggaraan Piala Dunia U-17, Oktober-November 2023. Artinya, kalau nanti FIFA menyetujui, JIS akan benar-benar 'menjalankan fungsinya' sebagai arena pertandingan sepak bola, bukan lagi sebagai arena pertarungan kepentingan politik antara yang pro-JIS dan anti-JIS.

Pada saat yang sama, BIJB Kertajati juga menemukan momentum setelah Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) diresmikan Presiden Jokowi, Selasa (11/7) lalu. Tol itulah yang akan memperpendek waktu tempuh Bandung-Kertajati dari semula 2,5 jam menjadi cukup 1-1,5 jam. Karena alasan itu, Presiden sudah menginstruksikan BIJB Kertajati mulai beroperasi menggantikan Bandara Husein Sastranegara pada Oktober 2023.

Dua karya hebat anak bangsa, yang tadinya sempat dikhawatirkan bakal teronggok, salah satunya karena polemik yang tak jelas, sebentar lagi akan beroperasi sesuai dengan fungsi mereka. Apakah setelah ini polemik masih perlu diperpanjang? Itu pilihan. Saya justru tak sabar menunggu bisa menikmati kecanggihan dan kelengkapan fasilitas dua infrastruktur megah itu.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.