Memangkas Ketimpangan

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
14/6/2023 05:00
Memangkas Ketimpangan
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SEKITAR dua tahun lalu, ekonom Muhammad Chatib Basri mengingatkan pemerintah untuk tidak alergi terhadap kritik, apalagi sampai membungkamnya. Ia meyakini, dengan tumbuhnya ruang kritis, kapabilitas orang akan meningkat dan lebih mudah mewujudkan kesejahteraan.

Sebaliknya, represi terhadap sikap kritis dan pembatasan pilihan untuk berbeda pendapat membuat kapabilitas seseorang menciut. Alhasil, kemampuan orang untuk menjadikan hidupnya sejahtera kian mengempis. Orang miskin pun susah naik kelas, bahkan boleh jadi makin miskin.

Chatib sejalan dengan pemikiran ekonom Amartya Sen yang menyebut orang menjadi miskin karena mereka tidak bisa melakukan sesuatu--karena ruang kapabilitasnya kecil--bukan karena mereka tidak memiliki sesuatu. Dengan logika itu, kesejahteraan tercipta bukan karena barang yang kita miliki, melainkan karena aktivitas yang memungkinkan kita memiliki barang tersebut.

Di sini elemen kebebasan menjadi penting. Jika orang dibatasi hak politiknya, dibungkam, terbatas aksesnya untuk pendidikan, kesehatan, tandas Chatib Basri, ruang kapabilitasnya menjadi kecil. Ia tidak bisa mengembangkan dirinya. Itu sebabnya Sen melihat pentingnya kebebasan dalam pembangunan.

Sen memperluas dimensi pembangunan dengan meletakkan aspek ekonomi, sosial, dan politik pada proporsi seimbang. Selama ini, dalam perspektif yang sempit, pembangunan kerap dititikberatkan pada kepentingan ekonomi. Demi ekonomi, aspek sosial politik dimarginalkan, represi dibenarkan, kritik dibungkam atas nama pembangunan.

Orde Baru di Indonesia, atau pemerintahan Cile di bawah Pinochet, ialah contoh bagaimana represi dibenarkan demi kepentingan pembangunan ekonomi. "Kita tak boleh mengulang kesalahan ini lagi. Saya ingat Sen memuji Indonesia karena memilih jalan demokrasi," mantan menteri keuangan itu mengingatkan.

Karena itu, ketika ramai orang mengkritik keras soal utang negara yang terus bertambah, proyek ambisius Ibu Kota Nusantara, proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang anggarannya membebani keuangan negara, insentif mobil listrik triliunan rupiah yang lebih menguntungkan orang kaya, hingga kesenjangan yang tak kunjung tuntas diatasi, itu semua bagian dari ikhtiar menaikkan kapabilitas untuk meraih kesejahteraan. Jangan dipandang sebagai ancaman atas keberlanjutan pembangunan.

Sikap kritis jangan dihalang-halangi, apalagi dijegal. Amat tidak bagus bila iklim politik cuma diisi sendika dhawuh (turut perintah), tegak lurus bahkan untuk hal-hal yang melenceng, dan cap antipembangunan terhadap mereka yang kritis. Kalau seperti itu, apa bedanya dengan Orde Baru yang isinya monolitik, serbaseragam, dan penuh 'kebulatan tekad'?

Apalagi kini, pemulihan ekonomi pascapandemi mutlak membutuhkan pembangunan yang lebih inklusif. Itu disebabkan ketimpangan pendapatan, risiko memburuknya kualitas modal manusia (pendidikan dan kesehatan), dan ketimpangan gender muncul di mana-mana. Perekonomian memang berangsur membaik, tetapi pemulihannya timpang. Ada yang naik dan ada yang turun seperti huruf K.

Mereka yang memiliki tabungan unggul. Mereka yang tidak punya tabungan terpuruk. Data dari Survei Konsumen Bank Indonesia kuartal I 2023 menunjukkan penurunan terdalam porsi tabungan terhadap total pendapatan terjadi pada kelompok pengeluaran Rp3 juta ke bawah. Sebaliknya, tabungan untuk kelompok menengah atas (pengeluaran Rp5 juta ke atas) justru meningkat.

Secara umum, proporsi pendapatan konsumen yang disimpan turun 2,1%, dari 17,7% pada April 2023 menjadi 15,6% pada Mei 2023. Seturut dengan itu, porsi utang terhadap pendapatan membengkak, dari 6,7% menjadi 7,6%. Itu artinya tabungan mengempis, utang mengembang.

Kondisi sebaliknya, upaya pemulihan ekonomi sejauh ini lebih banyak menguntungkan orang kaya. Data Lembaga Penjamin Simpanan mengonfirmasikan jumlah simpanan rekening di atas Rp5 miliar mencapai lebih dari Rp4.000 triliun. Tabungan orang kaya itu tumbuh 9,6% secara tahunan per Maret 2023. Sebaliknya, simpanan di bawah Rp100 juta hanya tumbuh 3,6%.

Angka-angka statistik itu kiranya jadi panduan utama untuk menentukan mana pembangunan prioritas dan mana proyek-proyek yang bisa ditunda. Soal kemiskinan dan ketimpangan jelas problem 'hari ini' yang mesti diselesaikan 'hari ini'. Tidak cukup banyak waktu untuk membereskannya.

Jika para pemangku kepentingan tidak bergegas, hingga kapan ketimpangan akan berakhir? Seperti penggalan lirik lagu Blowing in the Wind karya Bob Dylan: 'How many deaths will it take till he knows, that too many people have died' (Berapa banyak kematian yang dibutuhkan, sampai dia tahu, itu terlalu banyak).



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.