Setan pun Ingin Pensiun

Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group
28/4/2023 05:00
Setan pun Ingin Pensiun
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

CERITA ini sebenarnya sudah lama menyebar, tetapi kiranya tetap relevan hingga sekarang. Cerita ini hanyalah fiktif, tetapi rasanya pas untuk kita jadikan bahan perenungan.

Cerita ini mengisahkan setan yang sedang gelisah, gundah, galau, berdialog dengan malaikat. Tentu, karena cuma karangan, perbincangan di antara keduanya imajiner. Berikut nukilannya.

Malaikat: Kenapa kamu wahai setan, kok murung seperti stres dan putus asa?

Setan: Wahai malaikat, sampaikan kepada Tuhan, saya mau mengajukan pensiun dini untuk menggoda manusia.

Malaikat: Kenapa kamu minta pensiun? Bukankah kamu yang meminta untuk selalu menggoda manusia sampai hari kiamat?

Setan: Wahai malaikat, amit-amit, sekarang kelakuan manusia sudah melebihi setan. Saya khawatir justru saya yang tergoda oleh manusia. Makanya, saya minta pensiun dini untuk menggoda manusia. Coba malaikat bayangin. Manusia berzina, yang ngerasain enak dia, yang disalahkan setan. Manusia korupsi, yang menikmati duit dia, katanya digoda setan. Manusia berbohong karena katanya pengaruh setan, padahal untung ruginya enggak ada buat setan. Manusia sekarang bener-bener kebangetan sekali. Pokoknya saya pengin pensiun dini untuk menggoda manusia. Saya benar-benar tobat memikirkan manusia.

Setan adalah makhluk Tuhan yang jahat. Tugas dan misinya ialah menyesatkan manusia ke lembah kejahatan. Semakin banyak manusia yang tersesat, semakin berprestasilah ia. Kalau setan pengin pensiun dini, purnakarya lebih awal, kalau dia kapok, bahkan khawatir malah akan terpengaruh kejahatan manusia, berarti manusia memang sudah benar-benar jahat. Setan merasa kalah jahat.

Pertanyaannya, benarkah manusia sudah kelewat jahat? Tentu tidak semuanya. Masih banyak yang baik-baik, yang taat pada ajaran kebaikan dan kebenaran. Akan tetapi, mereka yang jahat, bahkan sangat jahat, juga banyak, sangat banyak. Sekadar contoh, kurang jahat apa seorang dukun di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, yang mengaku bisa menggandakan uang tapi sebenarnya penipu sadis?

Tak Cuma menipu, pak dukun juga merampas nyawa korban. Sedikitnya 12 orang yang tadinya berharap mendapatkan uang berlipat-lipat malah kehilangan nyawa. Mereka dibunuh saat meminta kembali uang yang hendak dilipatgandakan. Dan, kejahatan model ini bukan yang pertama, dikhawatirkan bukan pula yang terakhir.

Amsal lain, kurang jahat apa ketika ada anak tega setega-teganya membuang sang ayah yang sudah tua dan sedang sakit di pinggir jalan di bilangan Palem Manis, Tangerang, baru-baru ini? Barangkali setan pun tak akan setega itu kepada bapaknya jika mereka punya bapak.

Tak cuma orang biasa, mereka yang berpunya dan berkuasa juga kerap pamer kejahatan. Tatkala seorang jenderal polisi membunuh anak buahnya, kejahatan yang dilakukan jelas tingkat tinggi. Ketika jenderal polisi yang semestinya memimpin perang melawan narkoba, tapi diduga malah menjual sabu hasil rampasan, kejahatan itu sungguh luar biasa.

Demikian halnya ketika para pengelola negara masih saja hobi korupsi. Ribuan triliun rupiah sudah mereka rampas dan entah berapa banyak lagi yang hendak digasak. Padahal, masih banyak rakyat yang sesak napas terimpit beban hidup.

Koruptor adalah penjahat kelas kakap. Yang membantunya, yang gemar meringankan hukumannya, yang demen mengistimewakannya di penjara, tak jauh beda. Korupsi kejahatan luar biasa, yang bisa jadi setan pun tak melakukannya di dunia persetanan sana.

Kata para bijak, dunia semakin tua. Salah satunya ditandai kejahatan yang merajalela dengan beragam wujudnya. Kata pujangga ternama Kasunanan Surakarta, Ronggowarsito, pada suatu kala manusia akan mengalami zaman edan, zaman penuh kegilaan. Pujangga kelahiran Surakarta pada 15 Maret 1802 dan meninggal pada 24 Desember 1873 itu menuangkan ramalannya dalam Serat Kalathida yang terdiri atas 12 bait.

Di bait ke-7 tertulis ‘Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi, melu edan nora tahan, yen tan melu anglakoni boya kaduman melik kaliren wakasanipun, dilalah kersa Allah, begja-begjaning kang lali luwih begja kang eling lan waspada’. (Menghadapi zaman edan, keadaan menjadi serbasulit, turut serta edan tidak tahan, apabila tidak turut serta melakukan, tidak mendapatkan bagian, akhirnya menderita kelaparan, sudah kehendak Tuhan, betapapun bahagianya orang yang lupa, lebih berbahagia mereka yang selalu ingat dan waspada.)

Zaman memang sudah edan. Dalam situasi seperti ini, tetap berpikir waras kiranya menjadi kunci untuk bertahan.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.