Hasya dan Citra Polisi

Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group
03/2/2023 05:00
Hasya dan Citra Polisi
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

'TERNYATA lebih bermanfaat polisi tidur daripada polisi yg beneran'. Narasi dalam kolom komentar di salah satu kanal berita online perihal penetapan Hasya sebagai tersangka itu keras, bahkan sadis. Majas yang digunakan sungguh sarkastis.

Ada lagi yang menulis, 'Pokoknya polisi gak boleh jadi tersangka walaupun sdh purna, kalo perlu mobilnya yg jadi tersangka'. Atau, 'Mungkin kalo korbannya Polisi atau keluarga Polisi, ceritanya lain'.

Pembaca lainnya menggoreskan tanggapan yang tak kalah menohok. Tulisannya, 'Akumulasi kekesalan masyarakat membludak pasca-sambo,TM, oknum2 amp yg skrg ini....tapi anehnya bukan pd mikir utk berubah ke arah yg lbh baik...'.

Masih banyak komentar senada, komentar negatif. Mereka mengekspresikan kegundahan, kekesalan, juga kemarahan terkait dengan penanganan kecelakaan lalu lintas yang menewaskan Muhammad Hasya Attalah Syahputra. Hasya ialah mahasiwa FISIP UI. Saat pulang dari mengikuti kegiatan di kampusnya, dia mengalami kecelakaan di Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, 6 Oktober 2022.

Kata polisi, Hasya tak bisa mengendalikan sepeda motor yang dikendarai ketika ada orang yang tiba-tiba berbelok. Dia terjatuh dan dari arah berlawanan melaju mobil SUV yang dikemudikan pensiunan polisi, AKB (Purn) Eko Budi Setia Wahono. Korban pun ditabrak dan terlindas lalu tewas karena sekitar 30 menit tak mendapat pertolongan. Pengemudi mobil disebutkan menolak membawa Hasya ke rumah sakit.

Kasus tersebut ramai diberitakan. Lebih ramai lagi setelah Hasya yang sudah menjadi mendiang justru ditetapkan sebagai tersangka. Status itu diketahui setelah Polres Jakarta Selatan mengirimkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan Perkara (SP2HP) No B/42/I/2023/LLJS kepada keluarga tanggal 16 Januari 2023. Versi polisi, korban lalai dalam berkendara sehingga mengakibatkan kecelakaan dan menyebabkan dirinya meninggal.

Aneh, tak masuk akal, tak mencerminkan keadilan, tak ada empati, tak profesional. Itulah seabrek penilaian terhadap kinerja polisi. Tak cuma keluarga korban, publik juga kecewa berat. Kecewa karena polisi menjadikan Hasya sebagai tersangka. Kecewa karena orang yang sudah menjadi korban dijadikan korban lagi.

Penetapan Hasya sebagai tersangka kiranya memang mengada-ada. Dari sisi hukum juga patut dipertanyakan, dipersoalkan. Pasal 77 KUHP telah menggariskan bahwa kewenangan menuntut pidana hapus jika tertuduh meninggal dunia. Logikanya, manusia hidup yang menjadi tersangka saja, kalau meninggal, perkaranya diakhiri, ini orang yang sudah meninggal kenapa sampai dijadikan tersangka?

Betul bahwa setelah Hasya ditetapkan sebagai tersangka, kasusnya dihentikan. Akan tetapi, hidup tak semudah pengucapan pasal dan ayat undang-undang. Dengan berstatus tersangka, nama baik Hasya tercoreng. Dia akan dikenang sebagai penyebab kecelakaan yang menyebabkan dirinya berpulang. Dia telanjur dicap bersalah dan yang pasti, dia tak bisa membela diri atas cap buruk itu.

Wajar, sangat wajar, jika keluarga Hasya terus menuntut keadilan dan memperjuangkan kebenaran. Tak cuma mereka, publik pun demikian. Kini, menjadi tugas kepolisian untuk memberikan jawaban.

Langkah Polda Metro Jaya membentuk tim pencari fakta atau tim konsultasi dan asistensi atau apalah namanya tentu saja baik. Namun, yang lebih penting ialah hasilnya nanti yang mesti mencerminkan transparansi, kebenaran, keadilan, dan berasa empati kepada korban.

Benar kata Ketua IPW Sugeng Teguh Santoso. Jangan sampai tim pencari fakta malah menjadikan Hasya korban ketiga kalinya. Cukup sudah dia menjadi korban kecelakaan, meninggal, lalu menjadi tersangka. Kita tak mungkin menghidupkan kembali Hasya, tetapi polisi masih bisa mencabut status tersangka darinya. Itulah harapan keluarga, juga asa kita.

Kasus Hasya bisa merusak wajah Korps Bhayangkara. Pascakasus Sambo, citra Polri terjun bebas. Mereka lantas berusaha berbenah diri dan pelan tapi pasti kredibilitas itu mulai pulih. Pada survei terkini pada Desember 2022, misalnya, tingkat kepercayaan publik pada Polri mencapai 62,4%. Cukup tinggi.

Nama baik ibarat menyimpan uang di bank. Ia harus sering ditambah agar semakin banyak, bukan malah terus digerus lewat ATM karena akan habis tak tersisa. Begitu juga dengan citra polisi mesti terus dipupuk dengan tindakan yang baik, yang profesional, yang adil. Bukan sebaliknya seperti dalam penanganan perkara Hasya.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.