Minta Maaf dan Tanggung Jawab

Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group
04/11/2022 05:00
Minta Maaf dan Tanggung Jawab
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

DENGAN membungkukkan badannya, Kepala Kepolisian Korea Selatan Yoon Hee-keun menyampaikan permohonan maaf kepada publik. Dia juga menyatakan bertanggung jawab penuh atas Tragedi Itaewon.

Tragedi Itaewon terjadi pada Sabtu (29/10). Tragedi di salah satu distrik di ibu kota Korsel, Seoul, itu menewaskan 156 orang. Pesta Halloween berubah duka ketika hampir 100 ribu orang 'menyerbu' kawasan Itaewon. Mereka yang mengalami euforia menyambut kebebasan setelah dua tahun terpenjara oleh korona berdesakan di gang-gang kecil hingga akhirnya maut menjemput.

Korsel berkabung. Dunia ikut berduka. "Saya merasa tanggung jawab yang besar sebagai kepala lembaga pemerintah terkait," kata Yoon setelah membungkuk di hadapan puluhan wartawan di ruangan konferensi pers, Selasa (1/11).

Hal serupa dilakukan Wali Kota Seoul Oh Se-hoon. Dalam jumpa pers terpisah, dia meminta maaf. Dia bahkan menangis. Menangis betulan, bukan pura-pura menangis. Dia juga menyatakan bertanggung jawab.

Oh Se-hoon minta maaf tak cuma karena Tragedi Itaewon, tapi juga karena terlambat meminta maaf. Baginya, minta maaf tiga hari setelah kejadian ialah kesalahan besar. ''Saya minta maaf karena permintaan maaf saya datang terlambat," paparnya dengan suara bergetar dan tetesan air mata.

Sekali lagi, Korsel memberikan contoh bagaimana seorang pejabat mesti bersikap. Mereka paham betul apa yang harus dilakukan ketika rakyat ditimpa petaka. Tak peduli meski mereka tak terkait langsung dengan petaka itu, tak masalah kendati mereka bukanlah biang masalah.

Di Korea Selatan, kata maaf tidaklah mahal. Ia tak susah dilafalkan. Tak cuma minta maaf, pejabat juga terbiasa dengan tradisi mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawab. Mereka punya tradisi changpi.

Minta maaf memang gampang-gampang susah. Gampang bagi yang berjiwa besar, yang tulus, susah buat yang tinggi hati, yang tak merasa bersalah atau takut menanggung kesalahan.

Kategori kedua itulah yang kiranya ada di banyak pejabat kita. Tak usah kita menengok jauh ke belakangan. Dua tragedi terakhir ialah contoh nyata betapa para petinggi negeri ini susah betul meminta maaf. Apalagi berjiwa kesatria menyatakan bertanggung jawab.

Yang pertama ialah Tragedi Kanjuruhan. Tragedi yang terjadi seusai laga Liga 1 antara tuan rumah Arema dan Persebaya, 1 Oktober lalu. Tragedi yang telah menelan 135 korban jiwa. Tragedi yang tercatat dalam buku sejarah kelam sebagai pertandingan sepak bola dengan korban meninggal terbanyak kedua di dunia.

Jangankan 135 nyawa, satu nyawa saja semestinya sudah cukup untuk mengetuk hati mereka yang berkepentingan meminta maaf. Namun, yang ini tidak. Alih-alih meminta maaf, mereka justru saling lempar kesalahan. Mereka ogah dianggap salah meski jelas-jelas salah.

Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan memang meminta maaf, tetapi setelah 13 hari tragedi berlalu. Dia juga menyatakan bertanggung jawab, tapi setelah hampir dua pekan tragedi lewat. Meski terlambat, bolehlah kita menerima permintaan maafnya. Namun, maaf tak lantas menggugurkan tanggung jawab.

Kata maaf dan kemauan bertanggung jawab juga langka di tragedi gagal ginjal akut yang menyasar balita dan anak-anak di Republik ini. Tragedi yang per 1 November telah memapar 325 anak dengan fatality rate, tingkat kematian, 54%. Sedikitnya 178 balita dan anak meninggal dunia karena obat yang mereka minum ternyata racun.

Penyakit itu muncul akibat obat sirop yang terkontaminasi EG (ethylene glycol/etilena glikol), DEG (diethylene glycol/dietilena glikol), dan EGBE (ethylene glycol butyl ether/etilena glikol butil eter). Entah bagaimana bahan-bahan berbahaya itu bisa tercampur dalam kadar yang mematikan. Aparat sedang menyelidiki, pelaku juga sudah terdeteksi, semoga mereka serius menuntaskannya.

Harus kita katakan, penanganan kasus gagal ginjal akut pada anak ini lambat, sangat lambat. Harus pula kita nyatakan rasa tanggung jawab pada diri para pihak terkait sangatlah minim. Sudah beberapa bulan tragedi memilukan ini terjadi, tetapi kata maaf belum terucap dari mulut para pejabat.

Saya tadinya agak ragu soal itu. Namun, setelah tanya 'mbah Google', kiranya benar bahwa belum ada permintaan maaf secara resmi dari mereka.

Benar bahwa setelah sekian lama, sebagai pengawas obat dan makanan sebelum dan selama beredar, Badan POM akhirnya mengaku bertanggung jawab. Mereka juga memastikan tragedi itu tak akan terulang. Namun, cukupkah itu? Rasanya tidak. Nyawa ratusan anak kiranya tak sepadan ditebus hanya dengan tanggung jawab sebatas kata-kata.

Betul kata banyak orang, ada tiga hal yang paling sulit diucapkan orang Indonesia, yakni tolong, maaf, terima kasih. Betul pula kiranya aksioma yang menyebutkan orang Indonesia punya segala hal, kecuali rasa malu.

Kata psikolog Amerika Louis Laves Webb, meminta maaf secara tulus ialah inti perbaikan masalah. Sayang, untuk menyadari kesalahan, mengakui kegagalan, lalu meminta maaf, banyak di antara pejabat kita yang enggan.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.