Teror Resesi

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
02/11/2022 05:00
Teror Resesi
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

ANCAMAN dan peringatan datangnya resesi ekonomi global sudah serupa teror. Ia seperti hantu yang menyelinap di malam gelap, membuat kanak-kanak tercekam oleh ketakutan. Dari bahasa-bahasa peringatan yang digunakan, banyak orang justru dihinggapi waswas, alih-alih waspada.

Hampir saban hari, kita disodori narasi kecemasan tentang bakal datangnya resesi global. Ada istilah the perfect storm (badai yang sempurna). Ada lagi yang menyebut 'era penuh kegelapan'. Ada juga yang bilang 'era ketidakpastian', bahkan ada pula yang menarasikan 'masa kebangkrutan'.

Karena itu, cocok belaka apa yang pernah disampaikan ekonom terbesar abad ke-21 asal Inggris, John Maynard Keynes. Ia memperkenalkan sebuah konsep yang disebutnya sebagai animal spirits. Kata Pak Keynes dalam konsep itu: keputusan ekonomi tidak semata-mata didasarkan pada keputusan rasional, tapi juga keputusan psikologis.

Malah, dalam banyak tindakan ekonomi, pertimbangan psikologis lebih dominan ketimbang pertimbangan rasional. Jika narasi 'resesi akan terjadi awal tahun depan' terus-terusan menerpa seorang investor, misalnya, dia akan memutuskan menahan investasi. Ia tidak jadi melakukan investasi kendati tidak semua kasus bisa disamaratakan.

Lalu, terjadilah apa yang oleh ekonom Swedia, Gunnar Myrdal, disebut sebagai backwash effect. Istilah itu merujuk pada sebuah kondisi ketika berbagai aspek modal (manusia serta modal fisik, termasuk investasi) 'kabur' atau berpindah, dari yang tadinya akan diinjeksikan ke negara berkembang beralih ke pusat pertumbuhan, atau negara maju.

Jika banyak investor yang 'kena mental' dan berbondong-bondong membatalkan investasi, otomatis perekonomian semakin melambat. Bila perekonomian terus melambat, resesi benar-benar bisa terjadi. Jadi, situasi psikologis akhirnya amat menentukan situasi ekonomi.

Kondisi seperti itu juga bisa terjadi pada perilaku konsumen atau masyarakat. Setelah mendengar narasi secara terstruktur, sistematis, dan masif bahwa resesi akan segera terjadi, masyarakat yang cemas terhadap teror itu menumpuk tabungan mereka untuk berjaga-jaga. Konsumen menahan diri, mengencangkan ikat pinggang sekencang-kencangnya. Walhasil, belanja menurun, permintaan menurun, perdagangan sepi, perekonomian bisa benar-benar mengalami resesi.

Situasi itulah yang disebut sebagai paradox of thrift, alias paradoks penghematan. Menghemat, menabung, atau menahan belanja itu baik, tapi jika semua melakukan itu, perekonomian bisa lesu dan jalan di tempat. Bahkan, bisa-bisa ekonomi melambat dan terkontraksi. Sekali lagi, keputusan psikologis melahirkan keputusan ekonomi lalu memperlambat ekonomi itu sendiri.

Bahaya faktor psikologis terhadap perekonomian sudah pernah kita rasakan pada krisis 1998. Saat itu, banyak perbankan kesulitan likuiditas. Pemicunya, para nasabah yang cemas menarik dana mereka dari bank. Terjadilah rush, penarikan dana besar-besaran oleh masyarakat. Bank-bank pun ambruk lalu dilikuidasi. Situasi seperti itu tentu tidak kita kehendaki terjadi lagi.

Karena itu, sudahi narasi menakut-nakuti. Setop menebar kecemasan dan pesimisme. Peringatan kewaspadaan itu bukan berarti meredupkan harapan. Justru sebaliknya, optimisme dan harapan itu bisa mengantarkan kita ke setengah keberhasilan. Malah, ada yang amat antusias menyebutnya dua pertiga kesuksesan.

Yang dibutuhkan saat ini ialah strategi jalan keluar dari situasi beragam ancaman. Apakah ini berarti kita memang kebal dari krisis global? Jawabnya bisa ya, bisa tidak. Bergantung pada bagaimana efektivitas exit strategy yang kita miliki. Namun, setidaknya dengan optimisme kita punya modal penting untuk memitigasi dampak krisis ekonomi.

Strategi pemerintah untuk menggenjot belanja, menyalurkan bantuan sosial, dan memberikan rupa-rupa insentif sudah baik, tapi mesti dipastikan efektivitasnya di lapangan. Penguatan ekonomi domestik sebagai penyangga pertumbuhan juga mesti jelas bentuk dan arahnya. Jangan pula tekad itu amat riuh di panggung, tapi sepi dalam aplikasi.

Pemberdayaan ekonomi domestik setidaknya akan mengurangi tingkat dampak akibat resesi global. Sejumlah analis ekonomi telah memprediksi bahwa resesi global tentu berdampak terhadap perekonomian Indonesia, terutama dari sisi perdagangan. Resesi global akan melambatkan ekspor Indonesia. Namun, untungnya, persentase ekspor kita terhadap produk domestik bruto relatif kecil, yakni sekitar 25%.

Dampak lainnya ialah merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Merosotnya nilai tukar rupiah itu mesti diwaspadai karena berpotensi memicu inflasi akibat naiknya harga barang-barang impor dan naiknya beban pembayaran bunga utang berdenominasi dolar. Karena itu, pas kiranya saran mantan Menteri Keuangan Chatib Basri agar Indonesia melakukan langkah-langkah untuk tidak selalu terintegrasi pada global. Penguatan perekonomian bilateral dan ekonomi domestik mesti jadi jalan penting menangkis dampak resesi.

Namun, semua ikhtiar itu mesti dijalankan dengan cermat, pas, secara tenang, dan memberikan ketenangan. Penjelasan bahwa fundamen ekonomi kita relatif kukuh memang bisa menenangkan, tapi harus diwujudkan dan dirasakan masyarakat. Bukan sekadar pajangan statistik. Yang paling penting, jangan terus-menerus menebar narasi teror tentang bahaya resesi karena ia serupa doa yang justru bisa menjadi kenyataan.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.