Hidup Sederhana Hebat sebagai Slogan

Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group
20/10/2022 05:00
Hidup Sederhana Hebat sebagai Slogan
Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

TEMAN saya mengacungkan dua jempolnya atas peringatan Presiden Joko Widodo soal gaya hidup mewah anggota Polri. Namun, kata teman itu, mestinya semua pejabat negara dilarang untuk hidup berwewah-mewah.

Dilarang hidup bermewah-mewah, kata dia, karena pejabat itu digaji dari setiap tetesan keringat rakyat lewat pajak. Persoalannya ialah bagaimana menjelaskan kepemilikan harta yang berlimpah dengan pendapatan resmi pejabat yang diatur melalui peraturan pemerintah?

Boleh-boleh saja ada pejabat berkilah bahwa ia mendapatkan harta warisan yang tidak habis sampai tujuh keturunan. Akan tetapi, salah satu butir pengalaman sila kelima Pancasila yang diatur dalam Tap Nomor 1/MPR/2003 ialah tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.

Gaya hidup mewah yang diperlihatkan di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu, sebagaimana dikhawatirkan Presiden, akan menimbulkan kecemburuan sosial dan letupan-letupan sosial di tengah masyarakat.

“Saya ingatkan yang namanya kapolres, kapolda, seluruh pejabat utama, dan perwira tinggi mengerem total masalah gaya hidup. Jangan gagah-gagahan karena merasa punya mobil bagus atau motor gede yang bagus. Hati-hati. Hati-hati, ya, saya ingatkan hati-hati,” tutur Jokowi seperti yang terekam dalam video yang diunggah akun Youtube Sekretariat Presiden, Sabtu (15/10).

Bukan hanya polisi, semua pejabat harus mengerem total masalah gaya hidup. Pejabat mestinya menjadi sumur keteladanan yang tidak pernah kering ditimba. Keutamaan keteladanan itu bukan dengan kata-kata di atas mimbar, melainkan perbuatan keseharian.

Kurangnya keteladanan pejabat itulah salah satu sumber terjadinya krisis multidimensial yang diidentifikasi oleh Tap MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa.

Disebutkan bahwa etika politik dan pemerintahan mengandung misi kepada setiap pejabat dan elite politik untuk bersikap jujur, amanah, sportif, siap melayani, berjiwa besar, memiliki keteladanan, rendah hati, dan siap mundur dari jabatan politik apabila terbukti melakukan kesalahan dan secara moral kebijakannya bertentangan dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat.

Tegas dikatakan bahwa hidup sederhana yang dilontarkan pejabat publik umumnya lebih bagus di bibir daripada kenyataannya. Hebat sebagai slogan, tetapi busuk dalam kenyataan. Penyebabnya karena konsistensi antara omongan dan perbuatan telah menjadi barang langka, sangat langka, di negeri ini.

Hidup bermewah-mewah sejatinya telah mengantarkan satu kaki ke dalam kubangan korupsi. Buku Pendidikan Antikorupsi untuk Perguruan Tinggi (2018) menarik untuk disimak.

Disebutkan pada halaman 22 bahwa menempatkan korupsi sebagai “masalah keserakahan elite” yang telah mencoreng citra bangsa di mata internasional, sangatlah wajar apabila kampanye antikerakusan dijadikan sebagai salah satu criminal policy non-punitif untuk memberantas korupsi.

Website aclc.kpk.go.id membedah kenapa masih banyak korupsi dengan menggunakan teori GONE yang dikemukakan Jack Bologna. GONE singkatakan dari greedy (keserakahan), opportunity (kesempatan), need (kebutuhan), dan exposure (pengungkapan).

Teori GONE mengungkapkan bahwa seseorang yang korupsi pada dasarnya serakah dan tak pernah puas. Tidak pernah ada kata cukup dalam diri koruptor yang serakah. Keserakahan ditimpali dengan kesempatan, maka akan menjadi katalisator terjadinya tindak pidana korupsi. Setelah serakah dan adanya kesempatan, seseorang berisiko melakukan korupsi jika ada gaya hidup yang berlebihan serta pengungkapan atau penindakan atas pelaku yang tidak mampu menimbulkan efek jera.

Buku Pendidikan Antikorupsi untuk Perguruan Tinggi menyebut faktor penyebab korupsi meliputi dua hal, yaitu internal dan eksternal. Faktor internal mencakup sikap serakah/tamak/rakus manusia, gaya hidup konsumtif, dan moral yang lemah.

Larangan gaya hidup mewah yang disampaikan Presiden berkorelasi dengan faktor internal serakah dan gaya hidup konsumtif. “Sifat serakah ditambah gaya hidup yang konsumtif menjadi faktor pendorong internal korupsi. Gaya hidup konsumtif misalnya membeli barang-barang mewah dan mahal atau mengikuti tren kehidupan perkotaan yang serbaglamor. Korupsi bisa terjadi jika seseorang melakukan gaya hidup konsumtif, tetapi tidak diimbangi dengan pendapatan yang memadai.”

Jauh-jauh hari sebelum memperingatkan polisi, pada 8 April 2016, Presiden Jokowi sudah mengingatkan kepala daerah. Ketika itu, Presiden Jokowi mengkritik kepala daerah yang dinilai masih menghambur-hamburkan anggaran untuk hal-hal yang tidak bersentuhan dengan kepentingan rakyat banyak.

Tiba saatnya kritik gaya hidup mewah tidak masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Perlu ada konsistensi untuk terus-menerus mengingatkan para pejabat hidup sederhana sebagai bagian dari revolusi mental.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.