Local Pride

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
03/9/2022 05:00
Local Pride
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

ADA kado indah bagi pencinta sepak bola Tanah Air, pekan ini. Komisi X DPR akhirnya merestui naturalisasi dua pemain keturunan Indonesia, yakni Jordi Amat dan Sandy Walsh. Satu pemain lagi, Shayne Pattynama, masuk daftar tunggu.

Jordi, campuran Indonesia-Spanyol, kini merumput di klub Johor Darul Takzim Malaysia setelah lebih dari satu dekade bermain untuk klub-klub besar Eropa. Sandy, keturunan Indonesia-Belanda, masih setia dengan klub KV Mechelen, tim elite liga utama Belgia. Keduanya tinggal menunggu tanda tangan Presiden Jokowi dan mengucapkan sumpah, lalu sah menjadi WNI.

Naturalisasi keduanya cukup berliku. Bahkan, muncul pro dan kontra. Bulan lalu, pihak yang kontra bahkan mendengungkan slogan local pride. Mereka mengamplifikasi celetukan asisten pelatih timnas U-16 Markus Haris Maulana sesaat setelah timnya menjuarai AFF U-16 setelah mengalahkan Vietnam di final.

Pernyataan Markus seperti diamini Fakhri Husaini, mantan pelatih timnas U-16 yang menjuarai turnamen serupa pada 2018. Banyak yang menghubungkan pernyataan keduanya dengan sindiran kepada timnas senior dan U-20 yang dibesut Shin Tae-yong, pelatih asing asal Korea Selatan, yang mengusulkan naturalisasi Jordi, Sandy, Shayne. Kebetulan, STY (sapaan akrab Shin) gagal menjuarai AFF Cup tim senior dan U-19 yang ia latih.

Mereka yang pronaturalisasi langsung menyerbu media sosial Markus dan Fakhri. Kedua mantan pemain nasional itu dianggap terlalu picik. 'Apa salahnya naturalisasi? Bukankah dalam tubuh nama-nama yang diusulkan STY itu mengalir darah Indonesia? Naif sekali Anda'. Begitu rata-rata tanggapan mereka.

Bahkan, banyak yang marah dengan memelesetkan ucapan local pride (kebanggaan lokal) dengan 'lokal prettt'. Mereka percaya STY karena punggawa timnas Korsel di Piala Dunia 2002 itu berhasil membawa timnas Indonesia ke Piala Asia setelah lebih dari satu setengah dekade absen.

Selain itu, STY tegas menyatakan bahwa ia hanya mau pemain naturalisasi keturunan Indonesia. Kalimat 'mengalir darah Indonesia dalam tubuh pemain' itulah kata kuncinya. Bagi mereka, siapa pun keturunan Indonesia punya hak menjadi WNI dan ikut berikhtiar membawa nama harum bangsa.

Soal naturalisasi itu lalu mengingatkan saya pada pemilahan ekstrem tentang 'pribumi' dan 'nonpribumi'. Hingga kini, pemerian berdasarkan identitas itu masih hidup dan dihidupkan. Masih ada sebagian masyarakat yang melanggengkan identitas yang amat membingungkan itu.

Tengah pekan lalu, dalam diskusi di Forum Denpasar 12, seorang peneliti budaya Tionghoa-Indonesia Udaya Halim kembali menekankan agar penggunaan kata pribumi dan nonpribumi dihapus dalam pergaulan sosial bangsa sebab kata tersebut membuat garis demarkasi dan diskriminasi di masyarakat kian meruncing.

Saya sepenuhnya sepakat dengan Pak Udaya. Terlebih lagi, cap pri dan nonpri tidak jelas merujuk ke siapa dan untuk apa. Ia sepenuhnya diskriminatif dan amat tidak adil. Bahkan, kepada orang yang lahirnya pun di Indonesia, asal etnik Tionghoa, Arab, atau India, tetap disebut nonpri.

Kebencian terhadap asing pun melahirkan slogan 'anti Cina', 'gue pribumi', 'anti asing' dan slogan semacamnya. Bahkan hal itu menjadi bahan 'gorengan' politisi medioker yang tengah bersaing dalam kontestasi pemilihan umum. Istilah pribumi dan nonpribumi pada dasarnya digunakan untuk mengidentifikasi etnik yang merupakan penduduk asli (inlander) dengan etnik pendatang, seperti orang Tionghoa, Arab, atau India di Nusantara.

Kata pribumi yang digunakan untuk menyebut penduduk lokal, belakangan malah menjadi suatu istilah politik yang digunakan secara negatif untuk mengukuhkan superioritas satu etnik terhadap etnik lainnya yang dianggap lebih rendah.

Memang benar bahwa munculnya rasa kebencian terhadap orang asing dan sebutan nonpribumi karena kolonialisme bangsa Eropa. Pemerintah kolonial Belanda dahulu juga menerapkan hierarki ras atau etnik. Ras Eropa merupakan ras kelas satu; etnik Tionghoa, Arab, dan India menduduki posisi kedua; dan ketiga ialah orang-orang inlander atau penduduk lokal.

Diskriminasi terhadap penduduk lokal itulah yang kemudian membakar rasa kebencian terhadap orang-orang asing. Dengan dasar kesejarahan itu, banyak orang menggeneralisasi bahwa yang serbaasing itu buruk dan berpikir akan lebih baik jika politik ataupun ekonomi dikuasai 'golongan pribumi'. Itu kemudian dibungkus dengan jargon local pride yang salah kaprah.

Mestinya kita musnahkan saja jargon-jargon kolonial yang memelihara diskriminasi dan ketidakadilan seperti itu. Ingat, pada 1920, koran mingguan Tionghoa bernama Sin Po sudah mengenalkan dan selalu memakai nama Indonesia ketimbang Hindia Belanda. Di 1925, koran itu juga menjadi media pertama yang memuat teks lagu Indonesia Raya karya WR Soepratman. Kurang local pride apa lagi?



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.