Dominasi Lelaki atas Nama Jalan

Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group
04/7/2022 05:00
Dominasi Lelaki atas Nama Jalan
Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PADA saat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengganti nama 22 jalan dengan nama seniman Betawi dan tokoh Jakarta, perhatian publik langsung tertuju ke Pengadilan Negeri Kebumen.

PN Kebumen, Jawa Tengah, sedang menggelar perkara terkait dengan gugatan warga atas kebijakan Bupati Kebumen Arif Sugiyanto yang mengganti nama jalan. Perkara ini menginspirasi warga Ibu Kota untuk menempuh langkah serupa ketimbang protes tak berujung.

Arif Sugiyanto meresmikan perubahan penetapan nama jalan di beberapa ruas jalan protokol di Kota Kebumen pada 17 Desember 2021. Penggantian nama jalan di Kebumen tersebut bertujuan menghargai dan mengenang jasa para pahlawan nasional serta jasa dari para tokoh daerah Kebumen.

Penggantian nama jalan itu ditolak warga sehingga berujung di pengadilan. Warga mendaftarkan perkara nomor 9/Pdt.G/2022/ PN Kbm pada 15 Februari 2022. Sudah dua kali sidang digelar.

Tidak tanggung-tanggung, warga menuntut ganti rugi Rp50 miliar dan meminta hakim menghukum tergugat untuk mengembalikan nama-nama jalan yang diubah ke nama semula.

Penggantian nama jalan dengan nama pahlawan nasional dan tokoh daerah memang menjadi tren. Di Jakarta, pada 1950, sebanyak 90 jalan berbau Belanda dan Tionghoa diganti antara lain dengan nama pahlawan. Misalnya, Oranje Boulevard diganti menjadi Jalan Diponegoro, Nassau Boulevard menjadi Jalan Imam Bonjol, dan Heutsz Boulevard menjadi Jalan Teuku Umar.

Persoalan lain muncul terkait dengan kesetaraan gender. Penelitian Zeffry Alkatiri dari Universitas Indonesia menyebutkan hampir 90% nama jalan di Jakarta didominasi nama lelaki.

Hanya 2 dari 22 nama jalan yang diganti dengan nama seniman Betawi dan tokoh Jakarta ialah perempuan. Mereka ialah Mpok Nori dijadikan nama jalan di Bambu Apus Raya dan Hj Tutty Alawiyah diabadikan nama jalan di Warung Buncit Raya.

Kiranya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta lebih banyak lagi mengabadikan nama perempuan untuk jalan melengkapi yang sudah ada seperti Jalan Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Radin Intan, dan Jalan Rasuna Said.

Gubernur Jakarta Anies Baswedan mengatakan perubahan nama jalan itu demi mengenang jasa para tokoh Jakarta. Jasa para tokoh yang sudah meninggal memang patut dikenang seperti esai Sanento Yuliman berjudul Dalam Bayangan sang Pahlawan.

“Arwah para pahlawan harus selalu dibangkitkan, yaitu ditampilkan ke dalam kesadaran kita. Hal ini kita lakukan dengan jalan pengheningan cipta, ikrar-ikrar, upacara-upacara, dan pidato-pidato pada setiap kesempatan—makin sering makin baik. Nama pahlawan tercantum di jalan-jalan, idealnya pada semua jalan dan gang,” tulis Sanento Yuliman.

Meski demikian, sejarah pula membuktikan, nama-nama jalan juga menjadi media untuk merepresentasikan kekuasaan. Jalan sebagai representasi kekuasaan muncul dalam penelitian Sarkawi B Husain yang sudah dibukukan dengan judul Negara di Tengah Kota: Politik Representasi dan Simbolisme Perkotaan (Surabaya 1930-1960).

Disebutkan bahwa setiap kekuasaan membutuhkan media untuk merepresentasi kekuasaannya dan simbol kota menjadi salah satu media yang banyak digunakan untuk kepentingan itu. Simbol kota juga menjadi alat untuk melihat relasi sosial dalam masyarakat.

Dari hasil studi Sarkawi B Husain dapat dilihat bahwa selain monumen, patung, dan tugu, nama-nama jalan juga menjadi media untuk merepresentasikan kekuasaan. Perebutan simbol nama jalan di Surabaya dibahas secara khusus pada halaman 77-107.

Perubahan nama jalan di Surabaya ternyata tidak berlangsung mulus. Di masa pemerintahan Wali Kota Soenarto Sumoprawiro, menjelang HUT Ke-708 Kota Surabaya pada 31 Mei 2001, Jalan Raya Darmo akan diubah menjadi Jalan Soekarno-Hatta. Perubahan nama itu ditentang warga dan warga menang.

Alasan pemerintah kota saat itu ialah untuk menghargai jasa Soekarno-Hatta sebagai proklamator. Kota Surabaya mungkin satu-satunya kota besar yang tidak menjadikan Soekarno-Hatta sebagai salah satu nama fasilitas publik. “Perebutan simbol antara negara dan masyarakat yang menggunakan alasan sejarah pun tidak terhindarkan,” kata Sarkawi.

Mengapa masyarakat lebih suka menggunakan nama lama jika dibandingkan dengan nama baru yang notabene ialah pahlawan nasional? Sarkawi memberi jawaban bahwa perubahan nama jalan menjadi nama pahlawan hanya dilakukan atas keinginan dan prakarsa pemerintah kota. Usulan nama pahlawan versi masyarakat disingkirkan.

Jauh lebih elok lagi jika penggantian nama jalan mempertimbangkan gender. Jakarta sejatinya belum memberikan ruang yang layak bagi kaum perempuan. Penggantian nama jalan saat ini hanya menebalkan budaya patriarki.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.