Pemilu Kok Coba-Coba

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
15/6/2022 05:00
Pemilu Kok Coba-Coba
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

BAGAIMANA nasib demokrasi kita ke depan? Bagi saya, jawaban atas pertanyaan soal cerah buramnya demokrasi kita ke depan amat bergantung pada tiga hal: disikapi penuh optimisme, dicemaskan, atau malah dikeluhkan.

Jika banyak orang bersikap optimistis terhadap demokrasi, jika instrumen-instrumen demokrasi bekerja secara baik dan benar, jika demokrasi diisi para petarung sejati, pemerintahan yang demokratis akan mengantarkan negeri ini pada barisan negara maju. Segera tiba masanya kita menjadi negara sejahtera.

Mengapa bisa begitu? Karena sejatinya demokrasi yang dijalankan dengan sistem yang baik dan benar itu akan mempercepat kemakmuran. Demokrasi akan menjamin partisipasi publik. Demokrasi (yang baik dan benar) akan mengawasi dan mengoreksi segala upaya pembelokan jalan pembangunan ekonomi ke arah 'sekadar untuk kepentingan sekelompok orang'.

Namun, hingga kini demokrasi kita masih dicemaskan. Mereka yang cemas umumnya khawatir bahwa demokrasi kita sudah 'dibajak' elite yang ingin meraih sukses kekuasaan lewat jalan pintas. Jalan terabas itu 'disediakan' lewat politik identitas dan politik uang.

Politik identitas mengaduk-aduk emosi pemilih melalui simbol-simbol keagamaan atau primordialitas asal-usul. Dulu, diyakini politik identitas ini hanya bisa menyasar orang-orang berpendidikan rendah. Kini, faktanya, politik identitas juga gampang merasuki kalangan berpendidikan tinggi, tidak terkecuali profesor sekalipun.

Kecemasan lainnya ialah politik uang, transaksional, politik wani piro. Praktik tersebut bahkan diyakini sudah berlangsung secara terstruktur, sistematis, dan masif. Tidak mengherankan bila output dan out come dari politik transaksional itu ialah elite korup. Praktik politik wani piro itu membuat korupsi langgeng. Seperti lingkaran setan, mata rantainya tidak kunjung bisa tuntas diputus.

Sebetulnya politik uang bisa dikikis dengan komitmen keras yang dimulai dari elite politik. Gerakan 'politik tanpa mahar' yang digagas dan dipraktikkan Partai NasDem sudah seyogianya menjadi kabar baik bagi demokrasi. Sayangnya, alih-alih menjadikan gerakan bersama, 'politik tanpa mahar' masih pula dicibir.

Sikap yang juga ikut menentukan warna demokrasi kita ke depan ialah masih banyaknya keluhan. Sikap keluhan terhadap demokrasi itu banyak berasal dari pejabat dan elite pemerintahan. Bahasa yang kerap muncul ialah demokrasi itu 'biang kegaduhan', 'pemicu instabilitas', 'berbiaya mahal', dan 'bertele-tele'.

Imbas dari keluhan itu ialah 'godaan' untuk memangkas jalan demokrasi. Itu terlihat, misalnya, dari sejumlah undang-undang yang proses kelahirannya dianggap mengabaikan partisipasi publik. Muncul pula godaan memperpanjang masa jabatan atau tiga periode dengan alasan kelangsungan pembangunan. Pendek kata, sistem mesti menuruti orang, bukan orang taat asas pada sistem.

Maka itu, sejumlah survei menunjukkan ada penurunan kualitas demokrasi di Indonesia. Data dari The Varieties of Democracy (V-Dem) menunjukkan indeks demokrasi negeri ini sempat mengalami tren membaik sejak reformasi hingga mencapai puncaknya pada 2006. Namun, sayangnya, setelah 2006 hingga sekarang, indeks tersebut justru menurun.

Akan tetapi, saya percaya bahwa pemilihan umum bisa menjadi momentum untuk mereparasi itu semua. Pemilu yang berkualitas akan membersihkan kerak fan residu yang mendompleng dan menempel dalam demokrasi kita. Pemilu menjadi indikator penting untuk melihat sampai di mana praktik demokrasi kita.

Dalam pandangan ilmuwan politik Robert Dahl, pemilu sesungguhnya merupakan gambaran ideal dan maksimal bagi pemerintahan demokrasi pada zaman modern. Dengan demikian, pemilu menjadi instrumen yang sangat penting bagi keberlangsungan demokrasi di sebuah negara. Kesuksesan penyelenggaraan pemilu yang berkualitas dan demokratis akan berpengaruh besar terhadap kesuksesan demokrasi.

Kick-off Pemilu 2024 sudah dimulai, kemarin. Kiranya, penting untuk direnungkan pernyataan Andrew Reynolds, ahli politik, yang menyebut bahwa pemilu merupakan sarana amat penting untuk memilih wakil rakyat yang bekerja dalam proses pembuatan kebijakan negara. Karena itu, agar pemilu memantik optimisme terhadap kelangsungan demokrasi, berikhtiarlah sekeras-kerasnya mewujudkan pemilu berkualitas. Jangan seperti iklan, 'pemilu kok coba-coba'.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.