Pulih, tapi Inklusif

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
11/6/2022 05:00
Pulih, tapi Inklusif
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

DUNIA sedang berbenah. Kita, Indonesia, juga terus berbenah. Bencana covid-19 memberikan dua pesan benderang. Pertama, betapa mahapentingnya investasi kesehatan. Kedua, betapa mendesaknya inklusivitas pembangunan.

Investasi di bidang kesehatan akan mengantarkan kita kepada keandalan. Pandemi korona menunjukkan bahwa kita masih rapuh di bidang kesehatan. Namun, kita tidak sendiri. Semua negara juga mengalami situasi yang sama: kerapuhan.

Pandemi covid-19 ialah contoh sempurna bagaimana kesehatan merupakan modal yang amat penting. Ketika kesehatan terganggu karena pandemi, ekonomi pun limbung.

Covid-19 mestinya menyadarkan semuanya bahwa investasi dalam kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan, ialah faktor amat penting. Ke depan, sejumlah negara mulai memantapkan riset di bidang kesehatan. Penelitian kesehatan mulai dikembangkan menuju menu utama. Itu karena mereka sadar, bahwa tanpa investasi bidang kesehatan yang memadai, kemajuan ekonomi bakal kian susah dicapai.

Pada saat bersamaan, pemulihan ekonomi pascapandemi covid-19 menuntut inklusivitas pembangunan. Mengapa? Karena pandemi telah memunculkan sejumlah persoalan besar: ketimpangan pendapatan, risiko memburuknya kualitas modal manusia (pendidikan dan kesehatan), dan ketimpangan gender.

Perekonomian memang berangsur membaik. Ini dibuktikan dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi di kisaran 5% lebih dalam dua kuartal terakhir (kuartal keempat 2021 dan kuartal pertama 2022). Namun, ada risiko pemulihan yang timpang. Ada yang naik, tetapi masih banyak yang turun seperti huruf K (K-shape recovery).

Perusahaan di bidang teknologi digital, kesehatan, atau mereka yang memiliki tabungan, bisa langsung berlari kencang. Namun, UMKM, pekerja sektor informal, mereka yang tak punya tabungan, masih tercecer di belakang. Bahkan, kini mereka roboh lagi karena kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Mereka tak punya tabungan.

Data Survei Konsumen Bank Indonesia akhir tahun lalu menunjukkan penurunan porsi tabungan terhadap total pendapatan yang paling dalam terjadi pada kelompok pengeluaran Rp3 juta ke bawah. Sebaliknya, tabungan untuk kelompok menengah atas (pengeluaran Rp5 juta ke atas) justru meningkat (data September 2020-Oktober 2021).

Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga menunjukkan pertumbuhan dana pihak ketiga tertinggi terjadi pada kelompok tabungan Rp5 miliar ke atas. Kelompok menengah atas mampu bertahan karena punya tabungan dan memiliki akses digital. Di sisi lain, kesejahteraan kelompok menengah ke bawah berisiko menurun akibat tabungan yang terkuras dan terbatasnya akses digital.

Dampak buruk covid-19 yang lebih dalam juga dialami kaum perempuan. Itu karena banyak dari mereka bekerja di sektor informal. Survei dari McKinsey menunjukkan lebih dari separuh mereka yang kehilangan pekerjaan di dunia ialah perempuan. Pandemi meninggalkan luka teramat menganga bagi kesejahteraan kelompok rentan.

Itu sebabnya pembangunan pascapandemi harus bersifat inklusif. Harus memberi akses untuk masyarakat luas. Ada resep khusus yang pernah disampaikan mantan Menteri Keuangan M Chatib Basri soal bagaimana mewujudkan pembangunan inklusif itu.

Kata dia, inklusivitas pembangunan hanya bisa terwujud jika ekonomi tidak melulu fokus pada pertumbuhan, tetapi juga pembangunan institusi, termasuk akses kesehatan, pendidikan, dan kesetaraan gender. "Institusi hukum dan demokrasi harus dipastikan bekerja untuk itu," kata dia.

Dalam istilah peraih Nobel Ekonomi 1998 Amartya Sen, kesejahteraan harus dilihat dalam konteks kemampuan seseorang untuk jadi sesuatu (being) atau melakukan sesuatu yang diinginkan (doing). Being's dan doing's inilah, tandas Amartya Sen, yang membuat hidup bernilai. Contohnya, bekerja, menjadi melek huruf, menjadi sehat, menjadi dihormati, dan sebagainya.

Kiranya pemerintah tidak punya cukup waktu untuk berleha-leha. Saya amat sepakat bahwa mewujudkan pembangunan inklusif sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Maka, setiap pengumuman statistik tentang capaian pertumbuhan ekonomi, selain disyukuri, mesti dibarengi pertanyaan: sudahkah pertumbuhan positif itu mulai mampu mengikis kesenjangan?

Jika belum, tidak tega rasanya untuk terlalu bergembira. Simpan dulu kegembiraan dan selebrasi itu karena kita menghendaki pertumbuhan yang inklusif, tumbuh untuk semua, bukan eksklusif untuk segelintir orang.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.