Bongbong

Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group
13/5/2022 05:00
Bongbong
Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

KOORDINATOR Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Kaharuddin pernah bikin geger karena menyebut pemerintahan Orde Baru telah menghadirkan kebebasan dan kesejahteraan.

Pernyataan Kaharuddin di sebuah stasiun televisi swasta itu kemudian viral di media sosial. Hal itu disampaikan Kahar saat membandingkan Orde Lama, Orde Baru (Orba), dan setelahnya atau pascareformasi. Dia tegas menyatakan lebih baik ketimbang masa pemerintahan Joko Widodo.

Sontak pernyataan mahasiswa Fakultas MIPA dari UNRI itu membuat riuh jagat media sosial. Dia diolok-olok, bahkan dihujat warganet yang menilainya ahistoris alias buta sejarah.

Reaksi keras publik terhadap Kaharuddin tak mengherankan bila menguar. Pasalnya, Presiden Soeharto yang memimpin Orba ditumbangkan gerakan reformasi yang dimotori jutaan mahasiswa yang turun ke jalan dari Sabang sampai Merauke.

Satu di antara enam agenda reformasi yang digulirkan pada 1998 adalah adili Presiden Soeharto dan para pengikutnya karena selama 32 tahun Soeharto memimpin, marak terjadi praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, yang menyebabkan kerugian besar bagi bangsa Indonesia.

"Mahasiswa bersatu tak bisa dikalahkan. Lawan!" begitu tekad mahasiswa saat itu. Mereka bergeming meski aparat melakukan kekerasan untuk membubarkan unjuk rasa ketika itu. Sejarah mencatat 12 Mei 1998 menjadi tonggak bagi lahirnya reformasi di Indonesia. Sejarah kelam atas tragedi penembakan berdarah kepada elemen massa dari mahasiswa di Universitas Trisakti. Empat mahasiswa Universitas Trisakti menjadi korban penembakan berdarah. Pemerintah menetapkan mereka sebagai pejuang reformasi melalui Keppres 057/PK/2005 tertanggal 15 Agustus 2005.

Ketidaktahuan Kaharuddin dan sebagian mahasiswa lainnya tentang Orba boleh jadi disebabkan mereka tidak membaca sejarah. Bisa pula karena disinformasi pendukung mantan Presiden Soeharto yang sering tergambar di belakang angkutan umum, truk, stiker, kaus, baliho, dan internet, dengan tulisan 'Piye kabare, isih penak jamanku to (Bagaimana kabarnya, masih enak zaman saya kan)?'.

Slogan bahasa Jawa yang sangat kondang itu menyatakan zaman pemerintahan Soeharto lebih baik ketimbang zaman sekarang. Slogan itu acap kali mencuat ke permukaan apabila muncul gonjang-ganjing harga sembako atau kelangkaan bahan pokok lainnya.

Buta sejarah, amnesia sejarah, dan pemahaman sejarah yang salah dari kalangan generasi Z dan milenial di Filipina menyeruak karena buah dari disinformasi sejarah yang masif melalui media sosial oleh gerakan pro-Marcos di negeri yang berjuluk Home of the Green Revolution. Disinformasi sejarah itu memberikan kontribusi besar bagi kemenangan Ferdinand Marcos Jr dalam pemilihan presiden Filipina.

Dengan penghitungan awal yang hampir selesai pada Rabu (11/5), Marcos Jr yang populer dengan panggilan 'Bongbong' mendapatkan lebih dari 56% suara dan lebih dari dua kali lipat hasil penghitungan suara saingan terkuatnya, Leni Robredo yang liberal.

Bongbong Marcos (BBM) yang bernama lengkap Ferdinand Romualdez Marcos Jr ialah putra mantan Presiden Ferdinand Marcos yang digulingkan dalam Revolusi Rakyat 1986. Dalam kampanyenya, pria berusia 64 tahun itu menegaskan akan mengembalikan kejayaan Filipina yang menyejahterakan rakyat. "Sama-sama tayong babangon muli." Artinya, "Bersama-sama, kita akan bangkit kembali." Demikian kampanyenya.

Revolusi Rakyat di Filipina kala itu meletus karena rezim Marcos yang koruptif, pembungkaman sipil dan media, penculikan, pembunuhan di luar hukum, penahanan, dan seabrek pelanggaran HAM lainnya.

Modus Dinasti Marcos dan pendukungnya merebut tampuk kekuasaan sebenarnya mirip dengan fenomena politik di Tanah Air. Dalam sebuah kampanye, ada capres yang mengumandangkan kejayaan Indonesia dalam swasembada pangan pada 1984 dan sembako murah tanpa menyentuh praktik rasuah sejak Orba hingga kini yang masih menggurita atau pelanggaran HAM masa lalu.

Demikian pula, sejumlah calon kepala daerah yang notabene anak koruptor kerap mengampanyekan keberhasilan sang ayah atau ibu dalam membangun daerah mereka saat menjabat. Alhasil, capres dan kepala daerah itu berhasil memikat masyarakat.

Era keberlimpahan informasi (the era of information abundance) dengan serbuan media sosial harus diwaspadai. Era ini telah disulap para 'penumpang gelap' menjadi era post-truth (Steve Tesich, 1992), yakni kebohongan yang berulang akan menjadi kebenaran.

Jurus melawannya ialah dengan menggencarkan gerakan literasi media di kalangan kaum muda, yakni kemampuan menggunakan berbagai platform media secara krtitis. Keledai tak ingin jatuh dua kali ke lubang yang sama, bagaimana dengan Anda? Tabik!



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.