Mengangkat Kerak Nasi Liwet

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
23/3/2022 05:00
Mengangkat Kerak Nasi Liwet
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SEGALA yang ekstrem memang tidak mengenakkan. Cuaca ekstrem, ideologi ekstrem, sikap ekstrem, juga kemiskinan ekstrem, semua itu sekuat tenaga mesti dihindari, bahkan dibasmi. Namun, bukan perkara gampang menihilkan yang ekstrem. Butuh daya juang ekstra. Perlu jiwa tahan banting yang tidak terkira.

Menangani cuaca ekstrem, misalnya, tentu tidak cukup hanya mengandalkan pawang. Mesti ada tenaga ahli cuaca dan teknologi terkini untuk modifikasi cuaca yang mengupayakan agar cuaca ekstrem tidak terlalu berdampak fatal. Toh, itu pun belum tentu berhasil seratus persen.

Apalagi menihilkan kemiskinan ekstrem, amat sangat perlu waktu. Tujuh dekade rasanya belum cukup untuk mewujudkannya. Itulah mengapa Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengistilahkan usaha membasmi kemiskinan ekstrem seperti membersihkan nasi liwet.

Nasi liwet yang dimaksud Menteri Muhadjir ialah nasi yang ditanak langsung, tanpa saringan atau kukusan. Bukan jenis kuliner nasi liwet khas Solo yang gurih itu. Kalau yang itu, asal perut kosong, dalam tempo sekejap juga bisa habis bersih. Nasi liwet versi Pak Menteri ini sulit dibersihkan karena bagian bawahnya berkerak.

Kerak nasi liwet itulah kemiskinan ekstrem. Muhadjir mengatakan pengentasan masyarakat dari kemiskinan butuh perjuangan. Perjuangan itu digambarkan melalui perumpamaan. “Makin sedikit yang miskin bukan semakin mudah, justru semakin sulit untuk dihilangkan. Ibarat nasi liwet, ini adalah keraknya yang harus didatangi satu-satu,” kata Muhadjir, akhir pekan lalu.

Republik ini memang telah berusia 76 tahun. Agustus nanti sudah 77 tahun. Namun, dua dekade menjelang seabad usia Indonesia, masih ada 9,71% orang hidup dalam belitan kemiskinan. Persentase itu setara dengan 26,5 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) per September 2021, ada sekitar 10,8 juta orang (sekitar 4% populasi) hidup dalam kemiskinan ekstrem. Kemiskinan ekstrem terbanyak ada di Jawa Barat. Jumlahnya lebih dari 1,7 juta jiwa.

Pada 2021, pemerintah telah berupaya untuk menanggulangi kemiskinan ekstrem di 35 kabupaten prioritas di 7 provinsi dengan 24 kabupaten di antaranya berada di wilayah pesisir. Pada 2022, pemerintah memperluas cakupan penanggulangan kemiskinan ekstrem di 212 kabupaten dan kota di 25 provinsi dengan 147 kabupaten dan kota di antaranya berada di wilayah pesisir.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menargetkan kemiskinan ekstrem sirna atau nol persen hingga 2024. Itu artinya dua tahun lagi, Indonesia harus sudah bersih dari kemiskinan ekstrem. Kerak-kerak liwetan nasi harus sudah diangkat semua tanpa ada sisa. Mengangkat 10,8 juta orang dari kubangan kemiskinan ekstrem bukanlah pekerjaan mudah.

Lalu, siapakah penduduk yang masuk kategori miskin ekstrem? Dari berbagai literatur disebutkan bahwa penduduk yang termasuk miskin ekstrem ialah mereka yang memiliki pengeluaran per kapita di bawah garis kemiskinan ekstrem. Garis kemiskinan ekstrem ialah garis kemiskinan internasional yang angkanya setara US$1,9 purchasing power parity atau PPP per hari.

Konsep purchasing power parity dapat diilustrasikan jika harga satu buah apel di Amerika Serikat ialah US$1, sedangkan harga satu buah apel sejenis di Indonesia Rp500, PPP-nya senilai US$0,002/rupiah. Jika dirupiahkan, pada 2021 garis kemiskinan ekstrem sekitar Rp12 ribu per orang per hari.

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa ketika pengeluaran penduduk di bawah Rp12 ribu per orang per hari, penduduk tersebut dikatakan penduduk miskin ekstrem. Namun, perlu diperhatikan bahwa angka tersebut merupakan angka rata-rata per kapita untuk semua kelompok umur, yaitu bayi, balita, anak-anak, dewasa, dan manula yang dalam faktanya memiliki pola konsumsi berbeda-beda.

Profil seperti itulah yang ada di depan mata kita. Mengentaskan mereka dari kemiskinan ekstrem jelas butuh kerja keras. Istilah Menteri Muhadjir, harus habis-habisan turun ke lapangan langsung, jangan gengsi, jangan jaga image, dan jangan cari pencitraan. Dengan terjun langsung, perumus kebijakan akan tahu bagaimana bisa ada rumah dengan ukuran kurang dari 3 x 3 meter disesaki tujuh orang.

Potret superburam kemiskinan ekstrem harus diakui secara terbuka. Tidak tersedia lagi ruang untuk menutupi itu demi memoles citra atau mempersolek diri.

Cukup sudah menjadikan kemiskinan sekadar ajang perdebatan statistik dan kategorisasi untuk tujuan politisasi. Semakin panjang perdebatan, semakin ekstrem kemiskinan, semakin lama penderitaan, kian berkerak pula nasi liwet itu.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.