Mas Joko dan Daging Sapi

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
02/3/2022 05:00
Mas Joko dan Daging Sapi
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SAYA terpikat membaca tulisan politikus Partai NasDem Djadjat Sudradjat di Instagram pribadinya, pekan ini. Anggota DPRD Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, itu menulis 'reportase' tentang Mas Joko, sohibnya, yang sukses menjadi peternak sapi di Desa Kedung Gede, Lumbir, Banyumas.

Mas Joko, tulis Djadjat, yang memanfaatkan hari libur untuk mengunjungi peternakan itu, masih muda, kreatif, dan kuat tekadnya. Melalui peternakan Pondok Benggolo Sidamulya, putra Jawa kelahiran Medan itu telah mengembangkan 80 ekor sapi dari berbagai jenis. Sapi-sapi yang kuat nan sehat itu diternakkan untuk beragam tujuan: penggemukan, untuk susu, sapi daging, pembenihan, juga untuk kontes.

Untuk tujuan terakhir, sapi harus memiliki berat badan di atas 1 ton. Di Banyumas, baru di Pondok Benggolo Sidamulya ada sapi dengan berat di atas 1 ton. Lebih membuat bungah lagi, Mas Joko bertekad mengembangkan usahanya di berbagai lokasi. Bahkan, tengah ia rancang tempat-tempat itu nantinya bisa menjadi ekowisata.

Joko juga bertekad upayanya itu bakal membantu ketergantungan daerah Lumbir terhadap pasokan daging impor yang harganya tak pernah turun dalam beberapa tahun terakhir. Ia pun ingin membantu menaikkan taraf hidup sebagian warga Lumbir. Ia sedih melihat penduduk desa yang secara ekonomi tidak cukup memperoleh penghasilan memadai.

Pelan, tapi pasti, peternakan Joko menjadi inspirasi. Juga, tulang punggung ratusan warga. Mereka kini mendapatkan penghasilan tambahan dari menanam rumput untuk pakan sapi yang dibeli dengan harga tinggi. Sebuah simbiosis mutualisme dari Lumbir, yang jika menjadi gerakan masif bisa berbuah manis, yakni memutus mata rantai ketergantungan impor sapi sekaligus mengentaskan masyarakat dari kemiskinan ekstrem.

Kontras dari yang dituliskan politikus Partai NasDem itu, di wilayah lain di republik ini, sejumlah pedagang daging sapi melempar handuk, pekan ini. Para pedagang daging sapi di pasar-pasar yang ada di Kota Tangerang mogok dagang. Hal itu dilakukan buntut dari naiknya harga daging sapi. Sebanyak 92 pedagang dari enam pasar berbeda itu berencana mogok dagang lima hari, lebih lama dua hari daripada mogok produksi perajin tahu dan tempe.

Dalam sebulan terakhir, harga daging sapi terus merangkak naik. Pada akhir Januari, harga daging sapi masih Rp110 ribu per kilogram. Lalu naik menjadi Rp120 ribu per kg, naik lagi hingga Rp130 ribu, dan akhir pekan lalu, harga daging sapi sudah menyentuh Rp140 ribu per kilogram.

Para analis menyebutkan kenaikan harga daging sapi terjadi karena Australia sebagai pemasok tunggal daging impor di Tanah Air memangkas suplai daging hingga lebih dari separuh. ‘Negeri Kanguru’ mengambil langkah tersebut demi mengamankan pasokan di dalam negeri mereka karena sejumlah keadaan darurat. Indonesia yang sangat mengandalkan pasokan daging impor Australia pun tidak bisa berkutik.

Celakanya, permintaan daging sapi di Indonesia juga terus naik dari waktu ke waktu. Pertumbuhan permintaan itu bahkan tidak sebanding dengan kenaikan pasokan. Betul bahwa upaya menambah pasokan daging sapi lokal sudah digenjot. Namun, tetap tidak cukup memenuhi kenaikan permintaan.

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan kenaikan permintaan rata-rata tumbuh 6,4% per tahun. Sementara itu, persediaan pasokan daging sapi dalam negeri hanya tumbuh rata-rata 1,3%. Pasokan tumbuh secara deret hitung, sebaliknya permintaan tumbuh mengikuti deret ukur.

Kebutuhan daging sapi di Indonesia pada 2021 lalu diperkirakan mencapai hampir 700 ribu ton atau setara dengan 3,6 juta ekor sapi. Namun, produksi daging sapi dalam negeri hanya 400 ribu ton per tahun.

Tingginya permintaan kebutuhan daging tersebut membuat Indonesia memiliki ketergantungan terhadap impor daging sapi hampir 50% dari permintaan. Sudah begitu, impor daging sapi hanya dipasok dari satu negara, Australia.

Maka itu, kita butuh puluhan ribu bahkan ratusan ribu Mas Joko, pemuda kreatif asal Banyumas yang merintis jalan menernakkan sapi demi mengakhiri paceklik daging sapi yang terus terjadi dari waktu ke waktu. Tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk mencapai hal itu.

Akan tetapi, tugas pemangku kebijakan di republik ini memang bukan sekadar membalikkan telapak tangan. Bukan main sulap, melainkan main sirkus. Mereka harus jungkir balik, salto gaya Aubameyang, memutar otak, memerah keringat demi mewujudkan itu.

Kiranya tidak tersedia jalan mudah dan nyaman untuk maju. Sebaliknya, yang ada jalan panjang dan berliku. Leiden is lijden, memimpin itu menderita. Bahkan, harus siap menderita memecahkan urusan daging sapi.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.