Yang Terempas

27/11/2015 00:00
Yang Terempas
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

INI beberapa cerita berbeda dari perjumpaan tak sengaja, tapi punya satu makna: ketakberdayaan.

Pertama, Yuldasari, sopir taksi yang suatu siang membawa saya ke Kebayoran Lama. Lelaki kelahiran Agam, Sumatra Barat, 44 tahun silam itu merantau ke Jakarta pada 1990-an. Setamat SMA sejatinya ia ingin kuliah, tetapi setelah mengalkulasi kemampuan ekonomi, itu jadi muskil.

Mula-mula ia berdagang pakaian di Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Penghasilannya lumayan. Ia sempat bermimpi usahanya bakal dibesarkan. Namun, ketika mal tumbuh di mana-mana, usahanya mulai tersendat.

Dengan segala hitung-hitungan, ia putuskan berganti usaha: membuka toko sembako. Menurutnya, hal-hal yang berkaitan dengan perut pasti enggak ada matinya. Dengan gairah, ia pun membuka usaha baru itu. Hitung-hitungannya benar, tapi hanya sementara.

Ia pun tak kuasa menahan gempuran persaingan yang memang tak sebanding itu. Ia kalah lagi.

"Ketika minimarket tumbuh subur di mana-mana, para pembeli pun berpaling ke lain hati. Tak mungkin kami bersaing dengan para raksasa. Tiga tahun ini saya membawa taksi," kata ayah dua anak ini.

Kini ia tak berani bermimpi lagi. Katanya, untuk orang kecil seperti dirinya, negeri ini kerap 'mendadak' sulit diprediksi.

Kedua, Naih. Lelaki kelahiran Kabayoran Lama, 52 tahun. Secara turun-temurun ia menjalankan usaha konfeksi.

Ketika orang-orang Padang datang dengan keterampilan lebih baik, mesin jahit dan obras lebih bagus, usaha Naih dan kawan-kawan rontok. Ia lalu jadi pedagang asongan di Blok M, dan terakhir jadi joki three in one.

Pagi itu untuk pertama kali, dengan terpaksa, saya memakai jasa sang joki, Naih. Ia tak berjejer di pinggir jalan seperti galibnya joki. Naih duduk tersembunyi di sebuah halte Kebayoran Baru. Ia baru menawarkan jasa kalau ada mobil berhenti.

"Saya masih malu," kata ayah tujuh anak ini.

Ketiga dan selanjutnya, banyak cerita dari beberapa saudara, kenalan, kawan-kawan lama, yang memilih dunia usaha. Memang satu-dua ada yang menjadi kaya, tapi lebih banyak yang jatuh. Ada yang beberapa bulan tak mampu membayar karyawan dan cicilan bank. Ada yang terpaksa menjual tanah pada pengusaha raksasa.

Ia hanya bisa memandang dengan ketinggian di atas tanah yang dulu miliknya, kini telah tumbuh gedung-gedung jangkung, dengan harga yang tak terbayangkan.

Yuldasari dan Naif, juga beberapa cerita lain, hanyalah sebuah noktah rangkaian ketakberdayaan menghadapi belantara persaingan usaha tak sepadan itu. Ditambah, belakangan situasi ekonomi tak bertumbuh baik.

Inilah ekonomi pasar, yang semua orang harus bertarung bebas. Kesenjangan kaya-miskin kian lebar. Politik yang kian oligarkis kian menyuburkan pula para pemburu rente.

Lalu, dengan kekuatan apa 70 juta penduduk miskin harus bersaing, bertumbuh, dan menikmati keadilan?

Merekalah yang terempas! Saya sependapat dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla, bahwa penguatan dan kemakmuran rakyat, akan menangkal radikalisme.

"Pemerintahan yang tidak adil memunculkan generasi radikal yang berpikiran pendek," katanya ketika menutup Konferensi Internasional Ke-4 Cendekiawan Muslim di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (25/11).

Namun, kesenjangan justru seperti dibiarkan. Padahal, ia bisa jadi bom waktu yang merapuhkan keindonesiaan. Politik yang keruh seperti sekarang, muskil memikirkan keadilan, kemakmuran.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.