Timnas dan Perayaan Kehidupan

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
29/12/2021 05:00
Timnas dan Perayaan Kehidupan
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SEORANG presenter televisi membuat geger jagat maya. Musababnya, ia menentang arus. Saat jutaan rakyat Indonesia berdoa dan berdegup jantungnya demi mendukung timnas sepak bola Indonesia di Piala AFF, ia malah nyinyir. Padahal, ia warga negara Indonesia.

Ketika timnas lolos ke final setelah menang atas Singapura, sang presenter itu malah tak suka. Ia menyebut perayaan kemenangan itu lebay. Sudah seperti menang Piala Dunia. Padahal, baru menang semifinal, levelnya Asia Tenggara pula. Melawan sembilan pemain pula.

Ia terang-terangan berdoa semoga timnas kalah di final. Ia secara terbuka mendukung Singapura, Thailand, Malaysia, pokoknya selain Indonesia. Tanah Airnya sendiri. Sontak saja, pernyataan kontroversial di akun media sosialnya itu memantik reaksi keras.

Media-media daring beramai-ramai mengulas pernyataan 'aneh' itu. Presenter sepak bola Darius Sinathrya juga panjang lebar memberikan 'tamparan keras' kepadanya. Termasuk tamparan soal pernyataan sang presenter yang meminta agar sikapnya itu tidak dikait-kaitkan dengan nasionalisme karena sikap nyelenehnya itu tidak ada hubungannya dengan nasionalisme.

Saya tertarik mengulik pernyataan 'jangan kaitkan sepak bola dan nasionalisme'. Benarkah sepak bola tidak ada hubungannya sama sekali dengan nasionalisme? Saya menolaknya. Justru, menurut saya, sepak bola dan nasionalisme sudah seperti dua sisi mata uang. Keduanya selalu beriringan.

Setidaknya nasionalisme secara simbolis. Walaupun skalanya Asia Tenggara, bukan dunia, bagi sebagian besar orang Indonesia sepak bola sudah telanjur melekat dalam kehidupan. Bagi banyak orang di Republik ini, sepak bola telah menyatu dengan spirit keindonesiaan.

Jan Michael Kotowski, pengajar departemen ilmu politik di Universitas New Hampshire pernah menulis artikel bertajuk Reflection on Football, Nationalism, and National Identity. Di artikel itu ia mencatat ada tiga aspek keterkaitan sepak bola dan nasionalisme. Pertama, sepak bola sebagai ekspresi atau refleksi dari identitas nasional. Kedua, sebagai bagian dari praktik nasionalisme dan politik. Ketiga, sepak bola sebagai pembawa gagasan kebangsaan.

Kaitan antara sepak bola dan nasionalisme itu menemukan bentuknya paling jelas di Brasil. Di ‘Negeri Samba’ tersebut, sepak bola dan nasionalisme ada di titik paling ekstrem. Sepak bola telah menjadi identitas, praktik, sekaligus sebagai gagasan nasionalisme Brasil. Hal itu secara apik digambarkan mantan Presiden Dilma Rousseff.

Kata Rousseff, "Kami adalah Tanah Sepak Bola karena sejarah gemilang kami di lima kejuaraan dunia dan untuk semangat yang dipersembahkan setiap orang Brasil untuk tim mereka, untuk pahlawan mereka, dan untuk Selecao, tim nasional kami. Kecintaan rakyat kami terhadap sepak bola telah menjadi bagian dari identitas nasional kami. Bagi kami, sepak bola adalah perayaan kehidupan."

Memang, membandingkan sepak bola Brasil dengan Indonesia ibarat bumi dengan langit. Sangat jauh. Brasil merupakan negara tersukses dalam sejarah Piala Dunia dengan lima kali tampil sebagai juara. Adapun Indonesia, di level Piala AFF pun sejauh ini masih seperti mimpi tanpa ujung. Kecuali, malam nanti dan pada leg kedua 1 Januari 2022, timnas sukses menekuk Thailand.

Namun, fakta yang tidak bisa dibantah, walaupun timnas belum banyak memberikan kebanggaan kepada bangsa ini seperti Brasil, kecintaan masyarakat terhadap sepak bola Indonesia tidak pernah luntur. Tidak lekang bahkan ketika induk organisasi sepak bola kita, PSSI, karut-marut. Jutaan orang di negeri ini, dengan berbagai dinamika politik yang terjadi, tetap menganggap sepak bola ialah kita dan kita ialah sepak bola.

Kita akan melihatnya lagi malam nanti, juga malam Minggu pekan ini, saat timnas Indonesia berlaga di final Piala AFF melawan Thailand. Di 'piala dunia mini' itu kita akan menyaksikan lagi doa bergemuruh untuk Asnawi Mangkualam Bahar atau Evan Dimas dan kawan-kawan. Sejenak jalan raya lengang, lalu ramai oleh gemuruh kemenangan.

Setiap kemenangan timnas Indonesia, meminjam kalimat Dilma Rousseff, sudah menjadi perayaan kehidupan. Sepak bola membawa kita pada relaksasi kehidupan, bahkan suntikan energi, membawa semangat. Apalagi, dalam hampir dua tahun terakhir, kita seperti hidup dalam roller coaster, diombang-ambing covid-19. Semoga timnas menang agar kita lengkap merayakan kehidupan.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.