Jokowi Vs Jokowi

24/11/2015 00:00
Jokowi Vs Jokowi
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

SETELAH mencermati berkali-kali kegaduhan antaranggota kabinet, seorang pengajar, doktor hukum, menyatakan, "Lupakan Jokowi. Ternyata ia masih belum terlihat menjadi Jokowi yang bebas dari aneka kepentingan politik."

Saya tak bersetuju sepenuhnya. Bahwa Jokowi harus berani dan tegas; bahwa kabinet mesti lebih kompak dan sinergis, memang seharusnya. Namun, bebas dari kepentingan politik, bagaimana mungkin? Bukankah Presiden Jokowi merupakan produk politik?

Kalau bebas dari kepentingan politik busuk, persekongkolan jahat, mengkhianati publik, sepenuhnya saya setuju!

Publik mengingat, setelah pelantikan kabinet di awal pemerintahannya, Jokowi tancap gas: sidang kabinet tak menunggu jeda hari!

Jokowi meminta kabinet bekerja keras sejak hari itu juga karena rakyat menunggu hasil kerja pemerintahannya.

Untuk pertama kali pula, kemudian diulang di berbagai kesempatan, Jokowi menegaskan tidak ada visi-misi menteri. Yang ada visi-misi presiden.

"Ego sektoral harus dihentikan. Sinergi bukan hanya antarkementerian atau dalam satu kemenko, melainkan juga lintas kemenko. Tak ada yang bisa berjalan sendiri."

Namun, hampir setahun kabinet tak memuaskan. Pergantian beberapa menteri tak terhindarkan.

Politik di 'kubu seberang' memang mencair, tetapi kegaduhan di internal kabinet justru mengeras. Yang terbaru ialah ketegangan antara Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan versus Menteri ESDM Sudirman Said.

Luhut membantah Sudirman telah lapor Presiden sebelum melapor ke Mahkamah Kehormatan Dewan atas kasus Freeportgate yang diduga melibatkan Ketua DPR Setya Novanto.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mendukung Sudirman. Sekretaris Kabinet Pramono Anung juga membantah Luhut.

Sebelumnya, Menko Maritim Rizal Ramli dan Menteri BUMN Rini Soemarno berseteru keras. Rizal mengkiritik rencana pembelian 30 Airbus 350 untuk Garuda. Menurut Rizal, itu pemborosan karena Eropa bukan rute gemuk bagi Garuda.

Perseteruan lain antara Menteri Perdagangan Thomas Lembong versus Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Susi menyoroti kebijakan Lembong yang memudahkan impor produk makanan olahan, termasuk produk olahan ikan seperti teri, tuna, cakalang, dan belut, yang merugikan kepentingan dalam negeri.

Dengan mencermati 'tak ada misi menteri, yang ada misi presiden', ketegangan antarmenteri sesungguhnya konflik Jokowi versus Jokowi.

Jokowi yang ingin cepat mewujudkan Nawa Cita dan Jokowi yang kurang terampil menjadi nakhoda. Jokowi yang bermimpi dengan Tri Sakti versus Jokowi yang kurang menguasai seni mengelola liberalisasi.

Sama ketika Jokowi dengan enteng menghapus persyaratan wajib berbahasa Indonesia untuk pekerja asing yang hendak bekerja di Indonesia. Padahal, persyaratan itu dipersiapkan memasuki masyarakat ekonomi ASEAN.

Tes bahasa Indonesia menjadi wajib mengingat penduduk kita hampir setengah dari penduduk ASEAN.

Namun, karena tipisnya kebanggaan akan bahasa persatuan, syarat ini dianggap merugikan investor. Padahal, soal investor berkaitan dengan hukum, infrastruktur, perizinan, dan keamanan.

Bahasa yang mempersatukan Nusantara ini dikerdilkan pemerintah. Itulah Jokowi versus Jokowi. Jokowi yang bermimpi tentang kemandirian bangsa versus Jokowi yang tak percaya diri.

Agar Jokowi yang ingin memuliakan Indonesia memenangi pertarungan ini, tak dikalahkan Jokowi yang tak percaya diri, seluruh janji Jokowi harus terus dipampang dan terus ditagih.

Para menteri, tanpa harus dengan kegaduhan, mestinya juga jadi pengingat jika Presiden bersimpang jalan dengan Nawa Cita dan Trisakti.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.