Sudah Bisa Diduga

20/11/2015 00:00
Sudah Bisa Diduga
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

DI salah satu grup Whatsapp kami, seorang kawan menulis singkat menanggapi dugaan laku 'makelar' Ketua DPR Setya Novanto. 'Sudah bisa diduga', tulisnya. Hanya itu. Untuk sesuatu yang 'sudah bisa diduga', mungkin ia anggap sudah serupa aksioma.

Saya suka komentarnya yang dingin dan singkat di tengah hujan lebat kekecewaan di ruang publik. Ada yang mual, pusing, dan nyeri ulu hati. Ada yang bilang kapok ikut pemilu yang hanya menghasilkan kleptoman.

'Mama minta pulsa' pun jadi lebih mengerikan di tangan politisi menjadi 'Papa minta saham'.

Untunglah ada media sosial, ada banyak ruang pelepasan. Frasa 'sudah bisa diduga' memang punya banyak tafsir.

Pertama, banyak pihak menyebut Pemilu Legislatif 2014 ialah yang paling brutal. Pemilu ini dinujum tak mungkin menghasilkan pemimpin yang memiliki perbawa. Ternyata betul.

Lebih satu tahun menjadi Ketua DPR, narasi kerakyatan apa yang diusung Setya, yang bisa menguatkan kita yang tengah mengalami defisit kepercayaan pada politik?

Ambisi megaproyek DPR, bertemu Donald Trump, masker mislokus, pamer Jaguar, menjanjikan pembelian pesawat US-2 pada Jepang, dan dugaan jadi broker dalam perpanjangan izin PT Freeport Indonesia.

Kedua, lihat deretan kasus yang membalut Setya. Dugaan pengalihan hak tagih Bank Bali (1999), penyelundupan beras dari Vietnam (2003), penyelundupan limbah beracun (2006), dugaan korupsi proyek PON Riau 2012, dan pengadaan e-KTP (2013).

Alangkah rimbun dugaan kejahatannya. Rentetan peristiwa itu bukan lahir dari ruang hampa. Ia produk dari jiwa politisi yang minim kompetensi, tapi besar ambisi 'materialnya'.

Bukankah ketika ia terpilih menjadi ketua dewan pesimisme menyeruak?

Namun, adakah parpol yang bersekutu merasa cemas?

Partai bercitra bersih pun tutup mata. Mereka bersukacita karena satu persekutuan!

'Sudah bisa diduga' pula pembelaannya.

Mereka menyoal petinggi Freeport yang merekam pembicaraan dan Menteri ESDM Sudirman Said yang melaporkan. Jika ada dugaan kejahatan, bukankah kita berterima kasih kepada yang merekam dan melaporkan?

Benarkah politik kita kini tengah memasuki periode sampah, penuh semburat bau busuk?

Agaknya ini punya korelasi di Afrika seperti yang pernah ditulis Daniel Etounga-Manguelle, intelektual Kamerun, mantan Dewan Penasihat Afrika untuk Bank Dunia.

Premisnya bikin kita miris.

"Pilihlah orang Afrika yang mana saja, beri dia sedikit kekuasaan, dan dia mungkin sekali akan menjadi sombong, arogan, tidak toleran, dan bangga akan hak istimewanya." Jika kita tarik ke Indonesia, "Berikan sedikit kekuasaan kepada orang Indonesia, siapa saja, dan dia mungkin sekali akan korupsi!"

'Sudah bisa diduga', dalam politik kita yang kotor, rawan persekutuan jahat, Mahkamah Kehormatan Dewan pun hanya menyalak galak di awal, tapi runduk ketika memutuskan.

Mau berkilah apa dalam kasus kunjungan ke Donald Trump yang ringan belaka hukumannya?

Mau berharap apa dalam kasus 'Papa minta saham'?

Bisakah hukum yang tegak lurus mengurusnya?

Selama partai hanya puas dengan pendulangan suara, bagaimanapun caranya; selama penguatan kompetensi dan integritas politisi tak kunjung ditebalkan, kasus Setya atau siapa pun, hanya menunggu giliran.

Energi kita akan tersedot untuk mengurusi sesuatu yang 'sudah bisa diduga'.

Alangkah pandirnya kita, khususnya dunia politik, dengan sesuatu yang 'sudah bisa diduga', tapi kita memilihnya juga!

Bahkan merayakannya!



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.