Rashford, Gavi, dan La Masia

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
20/11/2021 05:00
Rashford, Gavi, dan La Masia
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SEPAK bola sudah serupa pendidikan. Lebih khusus lagi, pendidikan karakter. Dari olahraga paling populer sejagat itu kita bisa belajar tentang kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas (bekerja dalam tim), dan yang paling utama: respek. Yang terakhir ini malah 'distempel' di lengan kaus tiap-tiap kesebelasan.

Soal respek dalam sepak bola ini, ada kisah menarik yang ditulis Simon Kuper, kolumnis olahraga Financial Times. Dalam bukunya The Barcelona Complex: Lionel Messi and the Making--And Unmaking--Of the World's Greatest Soccer Club, Simon menceritakan bagaimana akademi sepak bola milik Barcelona, La Masia, mengajarkan karakter penting itu sejak dini.

La Masia, tulis Simon, merupakan akademi yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan semua akademi yang ada di dunia. La Masia memang mengajarkan bagaimana kemenangan dan gelar juara diraih. Tapi, itu hal terakhir. Hal yang menjadi prioritas dan jauh lebih penting ialah bagaimana proses menuju kemenangan tersebut dijalankan.

Maka, termasuk dalam proses itu ialah menghormati lawan dan bertindak penuh sportivitas. Itu merupakan nilai utama dalam tim. Pendidikan ialah prioritas ketimbang skill mengolah bola, begitu Simon menggambarkan tentang La Masia.

Ketika Barcelona U-12 turun dalam sebuah turnamen bertajuk U-12 Junior Soccer World Challenge 2016, Amateur Alevi A (tim junior Barcelona U-12), memang tampil menjadi kampiun. Tetapi bukan gelar itu yang membetot perhatian. Banyak yang terkesima ketika tim Barcelona U-12 mendatangi semua pemain Tokyo U-12 yang menangis setelah tumbang 1-0 di pertandingan itu.

Pemain pertama yang saat itu melakukan inisiatif untuk mendatangi sang lawan ialah pemain muda yang menjadi salah satu pilar penting untuk tim Barcelona saat ini: Pablo Gavira Paez atau Gavi. Ia memecahkan rekor sebagai pemain termuda di timnas Spanyol yang menjalani debut di usia 17 tahun.

Pelatih Barcelona U-12 saat itu, Sergi Mila Herrero, sangat terkesan bagaimana Gavi bukan hanya menjadi pemain penting, melainkan juga pemimpin di usianya yang masih sangat belia. Gavi ialah pemain pertama yang langsung menengok lawannya yang tertunduk lesu, mencoba menenangkan mereka. Dalam situasi euforia, ia menunda berpesta ketika menjadi juara saat itu. Gavi memilih mengulurkan tangan tanda cinta untuk lawan yang kalah.

Kedewasaan Gavi pun tercatat sebagai bagian tidak terpisahkan dari ekosistem yang dibangun di La Masia. Lewat gemblengan di La Masia itulah, tidak mengherankan jika Gavi yang saat ini berusia 17 tahun, menjadi bagian penting dari usaha Barcelona untuk bangkit selepas kepergian Lionel Messi.

Pendidikan nyata dari ekosistem sepak bola juga berimbas di luar lapangan. Seperti yang ditunjukkan striker Manchester United Marcus Rashford. Tahun lalu, saat pandemi melanda dan pemerintah Inggris menerapkan lockdown, Rashford menyuarakan pentingnya makan gratis kepada anak-anak. Tidak sekadar berseru, ia bahkan bekerja sama dengan badan amal FareShare telah membagikan 3 juta makanan kepada mereka yang membutuhkan.

Aksi Rashford tersebut berhasil membuat pemerintah Inggris yang awalnya akan meniadakan pembagian makanan gratis kepada anak-anak di sekolah, akhirnya membatalkan kebijakan tersebut. Rashford menyuarakan hal tersebut karena ia memiliki pengalaman pada masa kecilnya yang memiliki ketergantungan pada makanan sekolah gratis.

Membiasakan respek dan empati kiranya bukan perkara sekali jadi. Akademi La Masia menyadari itu. Makanya ia menanam benih itu sejak dini. Rashford juga tumbuh dalam proses. Ia kelaparan di masa kecil. Sejarah membuatnya tergerak melakukan aksi berbagi 3 juta makanan gratis. Meski proses, tapi tetap saja butuh keberanian untuk memulai. Kalau tidak pernah dimulai, tidak akan pernah terjadi.

Saya tiba-tiba berandai-andai, bagaimana, ya, demi menumbuhkan respek dan empati, elite kita perlu diikutkan kursus ala La Masia? Atau, mereka perlu secara tekun mendengar kisah dan melihat aksi berbagi dari Marcus Rashford. Sepertinya seru juga.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.