Catut

19/11/2015 00:00
Catut
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

CATUT kini perkara paling hot di negeri ini. Padahal, rasanya cukup lama tukang catut lenyap dari loket stasiun kereta api.

Revolusi manajemen yang dilakukan Direktur Utama PT KAI Ignasius Jonan, kini menteri perhubungan, menyebabkan tukang catut hilang dengan sendirinya.

Eh, sekarang malah muncul tukang catut kelas wahid, mencatut Presiden dan Wakil Presiden untuk urusan gemuk banget, perpanjangan kontrak karya PT Freeport Indonesia.

Beberapa tahun lalu, setelah lama tak naik kereta api jarak jauh, saya kembali ke stasiun guna berkereta api Medan-Rantau Prapat.

Saya kaget atas diri sendiri, pengetahuan saya telah ketinggalan sepur. Pembelian tiket kereta api tidak saja dapat dilakukan melalui online, tetapi juga di kedai Alfamart atau Indomaret. Semua itu mangkus menghapus tukang catut.

Di Stasiun Medan, petugas mencocokkan nama yang tertera di tiket dan kartu identitas saya. Persis seperti penumpang pesawat terbang. Kereta pun berangkat tepat waktu.

Pahamlah saya, telah terjadi revolusi mental akibat revolusi manajemen yang dilakukan Ignasius Jonan. Pantaslah bila Presiden Jokowi mempromosikannya menjadi menteri perhubungan.

Hilangnya tukang catut di stasiun kereta api itu nyaris juga menghapus kata 'catut' dari memori saya. Yang masih bercokol ialah kata 'makelar' karena 'profesi' itu memang masih eksis. Sebutlah makelar tanah.

Sekarang harus ditambahkan yang lebih canggih, makelar perpanjangan kontrak karya pertambangan berimbalkan saham.

Padahal, sebelumnya satu jenis makelar praktis hilang, yaitu makelar kuburan. Itu terjadi di zaman Jokowi-Ahok, selaku Gubernur-Wakil Gubernur Jakarta.

Revolusi manajemen pemesanan liang lahad dan pemeliharaan makam menyebabkan lahirnya revolusi mental, yaitu warga gampang mendapat kuburan dengan tarif murah.

Namun, kini sontak, ihwal makelar kuburan itu seperti hidup kembali dalam ingatan saya, serentak bersama hidupnya kembali tukang catut.

Bukankah memakelarkan nama dan kekuasaan presiden dan wakil presiden kepada perusahaan asing untuk mendapat kontrak karya dengan imbalan mendapat saham, yang ditengarai dilakukan seorang pemimpin DPR, samalah kiranya dengan perbuatan menyiapkan kuburan bagi Republik ini?

Menurut Editorial Media Indonesia perbuatan itu pelanggaran etika dan martabat superberat. Kiranya dapat disangkakan sebagai perbuatan mengkhianati negara.

Karena itu, tidak usah banyak cingcong, sang makelar/tukang catut itu segera saja dicopot dari jabatannya, juga diberhentikan dari keanggotaan DPR. Malah, jika perlu dipecat saja sebagai warga negara. Habis perkara.

Perbandingannya, tukang catut tiket kereta api dan makelar kuburan, semuanya rakyat kecil. Mereka melakukannya, dalam bahasa sehari-hari, demi menyambung hidup. Bukan untuk menjadikan diri mereka kaya raya seperti mendapat saham PT Freeport Indonesia.

Revolusi macam apakah kiranya bisa melenyapkan tukang catut dan makelar kelas wahid yang dilakukan petinggi Republik?

Jawabnya, revolusi bumi hangus dari seluruh kedudukannya.

Sebaiknya PT Freeport Indonesia angkat bicara, buka-bukaan, langsung kepada Presiden dan Wakil Presiden.

Siapa saja pejabat negara lainnya yang selama ini menjadi makelar dan mencatut nama presiden-wakil presiden?

Betulkah ada nama lain dalam kedudukan dekat dengan Presiden?

Yang jelas, Menteri ESDM Sudirman Said sepatutnya mendapat bintang jasa revolusi mental.

Demi negara ini merdeka dari korupsi, ia berani membongkar tukang catut/makelar berkedok pejabat negara.

Publik tinggal menunggu kehebatan dan keberanian KPK menindaklanjutinya.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.