Presiden Kemarin dan Sekarang

Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
05/11/2021 05:00
Presiden Kemarin dan Sekarang
Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

MEMBANDINGKAN apel dengan apel perkara masuk akal. Membandingkan apel dengan jeruk urusan tak bernalar. Termasuk perbandingan yang manakah ketika sekjen sebuah partai besar membandingkan SBY dan Jokowi?

Pertanyaan itu dapat diberi bingkai lebih besar, membandingkan presiden 'sekarang' dengan presiden 'kemarin'. Ketika Pak Harto menjadi presiden 'sekarang', Bung Karno ialah presiden 'kemarin'. Pertanyaannya, apakah apel dengan apel membandingkan Bung Karno dengan Pak Harto bahkan dengan presiden yang mana pun?

Kiranya perjalanan panjang perjuangan Bung Karno sebelum kemerdekaan hingga proklamasi kemerdekaan menjadikan dirinya sebagai satu-satunya tokoh yang memiliki 'anteseden sejarah' dengan 'konsekuensi sejarah' bahwa dirinyalah yang menjadi presiden pertama. Hemat saya, presiden selanjutnya tak punya 'anteseden sejarah' untuk berbuah ‘konsekuensi sejarah’ menjadi presiden.

Pak Harto muncul dari 'keretakan sejarah' akibat kegagalan Bung Karno mengelola kekuatan PKI versus Angkatan Darat. Di keretakan itu yang diperhitungkan ialah Jenderal AH Nasution yang selain tentara, juga memiliki 'hasrat berpolitik praktis' sebagaimana dibuktikan dengan dirinya mendirikan partai politik IPKI.

Mayor Jenderal Soeharto tak pernah 'direken' sebagai pemimpin, baik oleh Bung Karno maupun oleh PKI. Terlebih dirinya tak 'direken' berkemampuan 'mengisolasikan' Bung Karno, 'menghabisi' PKI, bahkan menjadi presiden 32 tahun. Sejarah membuktikan sebaliknya. Sejarah 'memihak' Pak Harto, bukan Pak Nas.

Pak Harto jelas punya keunggulan dan jelas pula punya kelemahan seperti juga Bung Karno punya keunggulan dan kelemahan. Sudah tentu Gus Dur dan Ibu Megawati tak dapat diperbandingkan, apalagi keduanya memimpin negeri ini masing-masing kurang lebih berbagi setengah perjalanan. Inilah contoh membandingkan apel dengan jeruk, bukan apel dengan apel.

Yang paling sering diperbandingkan dewasa ini ialah SBY dan Jokowi. SBY telah menunaikan tugas 10 tahun menjadi presiden, sedangkan Jokowi belum. Dari sisi purnawaktu sebetulnya belum terjadi apel dengan apel.

Tentu ada yang berpandangan apa yang dilakukan Jokowi selama tujuh tahun telah memperlihatkan banyak hal yang dapat diperbandingkan dengan apa yang dilakukan SBY selama 10 tahun. Sebuah pandangan yang mengandung 'ketergesaan' dan 'kesombongan' seakan tahu pasti apa yang bakal terjadi tiga tahun ke depan. Bukankah hujan tiga hari dapat menghapus kemarau tiga minggu dan sebaliknya? Baiklah kita berbuat, berharap, dan berdoa negara ini aman sentosa dipimpin Jokowi seperti sebelumnya dipimpin SBY.

Pengertian itu tak bermaksud mengabaikan sejumlah parameter yang dapat ditegakkan atau disandingkan dalam komparasi ataupun dalam kontras. Kearifan lama mengatakan tiap zaman punya tantangan sendiri, jawaban sendiri, dan pemimpin sendiri. Yang klise ini pun perlu kembali diucapkan disertai pengakuan, 'apel' pada 2004-2014 'rasanya' berbeda dengan 'apel' pada 2014-2024. Kenapa? 'Iklimnya', 'cuacanya' berbeda.

Rakyat memilih langsung SBY dua kali menjadi presiden. Rakyat memercayainya. Semoga beliau cepat sembuh. Jokowi pun dipilih langsung oleh rakyat dua kali. Rakyat memercayainya. Sejarah SBY sebagai presiden boleh dikata 'selesai', sedangkan sejarah Jokowi sebagai presiden 'menuju selesai'. Semoga Jokowi sehat selalu.

Tulisan ini memang bertendensi agar elite partai tidak 'menggoreng' isu keberhasilan atau kegagalan presiden kemarin dan presiden sekarang sebagai komoditas politik. Itu isu menarik, tapi maaf, saat ini kalah penting.

Hal lebih penting ialah kita sedang menghadapi masalah aktual, faktual, esensial pandemi korona. Siapa pun presiden 'kemarin' yang masih hidup kiranya dapat membantu presiden sekarang, pemerintahan sekarang dengan kekuatan dan kontribusi masing-masing agar anak bangsa ini dapat hidup normal bersama korona yang tak bakal lenyap sama sekali.

Pandemi korona ajang hidup atau mati. Yang menang pilpres, pendukung presiden kemarin ataupun presiden sekarang, bahkan presiden mendatang semuanya sama saja bagi covid-19. Semuanya dapat dibuatnya berhenti bernapas.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.