Pemburu Rente

18/11/2015 00:00
Pemburu Rente
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

SALAH satu ciri perekonomian Indonesia ialah banyaknya pemburu rente. Ketidakpastian dalam urusan perizinan melahirkan banyak makelar. Mereka berupaya memuluskan segala urusan bisnis untuk mendapatkan rente. Banyak di antara pemburu rente hidup dalam kelimpahan materi.

Banyak pengusaha berhasil memulai usaha sebagai pemburu rente. Namun, mereka menggunakan keuntungan dari pemburuan rente untuk membangun industri. Mereka bertransformasi menjadi industrialis dan mengembangkan bisnis profesional. Namun, tidak sedikit yang tetap dalam jalur sebagai pemburu rente. Bahkan ketika sudah menjadi pejabat negara pun, mereka masih berperilaku seperti itu. Jabatan politik dijadikan alat untuk memperbesar akses mereka sebagai pemburu rente.

Anne Krueger memperkenalkan istilah rent seeking pada 1974 karena kegiatan yang bisa dilakukan organisasi ataupun individu ini tidak berkontribusi bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Itu hanya dinikmati para pemburu rente sekadar untuk memperkaya diri. Kita harus melawan pemburu rente karena memengaruhi daya saing. Salah satu penyebab rendahnya investasi di Indonesia ialah perizinan berbelit-belit. Apalagi kita cenderung tak menghormati kontrak. Kita bisa mengubah perjanjian di tengah jalan hanya karena merasa dirugikan. Boleh saja renegosiasi dilakukan, tetapi harus dikomunikasikan terlebih dahulu.

Kini pemerintah menderegulasi bidang investasi. Namun, perubahan itu butuh waktu agar bisa berjalan seperti yang diharapkan. Selama perubahan belum terjadi, pemburu rente masih bergentayangan. Dalam kasus perpanjangan izin kontrak pertambangan PT Freeport Indonesia, ketidakjelasan peraturan itulah yang dimanfaatkan pemburu rente.

Pengalaman dalam Kontrak Karya II, perpanjangan bisa dilakukan tiga tahun sebelum kontrak berakhir. Namun, itu terjadi pada 1991 ketika sistem politik masih autokrasi. Sekarang zaman sudah berubah. Kita hidup di era demokrasi ditandai adanya keterbukaan. Sistem demokrasi dirancang untuk menghilangkan kekurangan dan memperbaiki kelemahan pengelolaan negara. Tidak bisa pejabat negara melakukan tindakan hanya untuk kepentingannya sendiri.

Ternyata tidak semua menyadari perubahan sistem menuntut perubahan pola dan perilaku. Masih saja cara-cara lama dipakai untuk keuntungan pribadi. Mereka ingin mengulangi cara-cara lama saat pengusaha yang dekat kekuasaan mendapatkan bagian dari divestasi Freeport.

Kini kasus sudah terkuak. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said sudah melaporkan praktik memburu rente itu kepada Majelis Kehormatan Dewan. Kini terpulang kepada kita, apakah kita akan terus membiarkan praktik perburuan rente ini berlangsung ataukah kita memilih mentransformasi perekonomian kita.

Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi keempat di dunia pada 2050. Maka kita harus bertransformasi mulai kini. Kita tak pernah akan mencapai tujuan itu bila masih mengembangkan perekonomian tidak sehat yang hanya menguntungkan segelintir orang pemilik kekuasaan.

Dalam hidup ada dua pilihan yang bisa ditempuh, yakni mendapatkan kehormatan atau meraih kekayaan. Setiap orang yang berorientasi kepada kekayaan, menjadi pengusaha adalah jalannya. Kalau ingin mendapat kehormatan, jadilah pejabat negara. Kita tidak bisa mengharapkan keduanya sekaligus, karena kalau itu yang diinginkan kita akan menjual kehormatan untuk mendapatkan kekayaan. Inilah yang tengah terjadi dalam kasus pemburu rente perpanjangan izin Freeport. Pejabat merasa tak cukup meraih kehormatan. Ia melakukan tindakan tercela demi meraih kekayaan.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.