Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KETIKA rapa'i pasee ditabuh bersama, itu mestinya jadi penanda kekompakan para pemimpin di Aceh kembali diteguhkan.
Cerita kekerasan 30 tahun yang diakhiri perdamaian harusnya menjadi energi berlipat untuk membangun.
Kita tahu, konflik tak hanya membawa destruksi, tapi yang pertama-tama menjadi korban ialah kebenaran. Karena itu, spontanitas Wakil Presiden Jusuf Kalla sungguh amat tepat.
Malam itu, di Taman Ratu Safiuddin, Banda Aceh, ketika memperingati 10 tahun perdamaian Aceh, Kalla meminta Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf berdiri di sebelah kiri Gubernur Aceh Abdullah Zaini dan ikut menabuh alat musik tradisional Aceh itu, rapa'i.
Seperti termaktub dalam syairnya, ketika alat itu ditabuh, menjadi penerang bumi.
'Di langit tinggi bintang bersinar
Cahaya bak lilin memancar ke bumi
Asal rapa'i dari Syeh Abdul Kadir
Inilah yang sah penciptanya lahir ke bumi'
Di depan tamu undangan Kalla juga minta kedua pemimpin bergandengan tangan.
Tepuk tangan meruah.
"Pemerintahan yang baik adalah jika pemerintah itu kompak, bekerja bersama-sama, saling mengisi. Pak Zaini dan Pak Muzakir, rakyat mengharapkan senyum Bapak berdua di atas panggung ini," kata Kalla, Ahad (15/11).
Hubungan Gubernur-Wakil Gubernur Aceh, seperti banyak pemimpin daerah lain, tak guyub.
Pendahulunya, Irwandi Yusuf-Muhammad Nazar (Gubernur/Wakil Gubernur Aceh 2007-2012), juga retak di tengah jalan.
Para mantan tokoh GAM itu tak seia sekata lagi sebelum tugas mereka tunai.
Wali Nanggroe Malik Mahmud agaknya belum jadi faktor perekat?
Ketika perjanjian Aceh ditandatangani 15 Agustus 2005, selain mematrikan harapan, itu menyemburatkan keraguan.
Ia seperti sebuah kemuskilan.
Mungkinkah dendam karena baku bunuh bisa dilindapkan dari memori kolektif mereka?
Meminjam Francis Fukuyama, modal sosial apa yang bisa diandalkan, yang bersandar pada akar-akar kultural, bisa untuk membangun Aceh?
Faktanya perdamaian berjalan satu dasawarsa. Mereka yang dulu memberontak pun kini memimpin Aceh.
Saya teringat ketika ikut rombongan Wakil Presiden Jusuf Kalla menapaktilasi perdamaian Aceh, di Gedung Konigstedt Manor, Helsinki, Finlandia, Januari 2006.
Inilah tempat perundingan antara para wakil pemerintah RI dan Gerakan Aceh Medeka (GAM) yang menghasilkan kesepakatan damai.
Sebelumnya, ketika Kalla bertemu Sekjen Uni Eropa Javier Solana di Brussels, Belgia, Solana juga memuji perdamaian itu. Ia menginginkan perdamaian Aceh jadi model penyelesaian konflik di Eropa.
Di bawah suhu minus 22 derajat yang menggigilkan seluruh tubuh, pertemuan mereka yang pernah lama berseteru berlangsung penuh kehangatan.
Kalla ditemani antara lain Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, Menteri Komunikasi Sofyan Djalil, dan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.
Dari pihak GAM hadir Malik Machmud, Zaini Abdullah, Muzakir Manaf, Irwandi Jusuf, dan M Lampoh. Tokoh tertinggi GAM, Hasan Tiro, batal hadir karena faktor kesehatan.
Sepuluh tahun perdamaian Aceh, dengan kemewahan 'otonomi khusus', mestinya menjadikan provinsi itu kian berkilau. Setelah rapa'i ditabuh, seperti termaktub dalam syair rapa'i, 'Di langit tinggi bintang bersinar' mestinya menerangi hati para pemimpin Aceh. Menerangi rakyat dan seluruh bumi Aceh.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved