Dewan Etik

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
12/11/2015 00:00
Dewan Etik
(Grafis Seno)
GEJALA apakah bila di dalam suatu sistem sosial kian diperlukan dewan etika/mahkamah kehormatan atas berbagai cabang kehidupan? Jawaban paling manis ialah karena kian banyak perbuatan melanggar etika. Jawaban paling tidak enak dan ekstrem ialah karena makin banyak yang 'tidak senonoh', 'kurang ajar' di dalam sistem itu sehingga kian diperlukan lembaga etika yang mengawasi, mengadili, menjatuhkan sanksi. Kata 'kurang ajar' seperti keterlaluan, padahal artinya 'tidak sopan'. 'Tidak senonoh' pun berarti 'tidak patut'.

Di masa saya kecil, sehari-hari terdengar pernyataan spontan 'anak kurang ajar' untuk membahasakan anak tidak sopan. Bukan predikat dramatis, kecuali pemberitahuan bahwa yang kurang ajar perlu 'diajar' atau 'dihajar'. Dalam profesi pun kiranya diperlukan pemberian predikat tidak senonoh atau kurang ajar, yang juga berarti perlu 'diajar' atau 'dihajar'. Pelanggaran etika ringan cukup diberi peringatan lisan atau peringatan tertulis pertama, alias masih bisa 'diajar'.

Pelanggaran etika paling berat, paling kurang ajar, 'dihajar' tuntas, yaitu pencabutan izin praktik. Satu-satunya profesi yang mangkus melakukannya di negeri ini hanya profesi dokter. Profesi lain? Paling 'dinonpalukan' (hakim), untuk kemudian suatu hari 'dipalukan' kembali. Belum ada yang tuntas 'dinonpenakan' (wartawan) karena diberhentikan di suatu media, tak berarti kiamat bagi media lain. Yang paling baru ialah keinginan Komisi Pemilihan Umum membentuk dewan etika bagi lembaga survei yang memproduksi hitung cepat.

Alasannya, hitung cepat yang dihasilkan perbuatan 'tidak senonoh', perbuatan 'kurang ajar', dapat menyesatkan opini publik. Dalam konteks pilkada serentak, opini sesat itu dikhawatirkan membuat warga pendukung pasangan calon kepala daerah amat mungkin dapat dimobilisasi melakukan tindakan anarkistis. Kekhawatiran itu mungkin berlebihan, tetapi lebih baik mengambil langkah preventif ketimbang setelah kejadian. Pilkada serentak berpotensi melahirkan kehebohan serentak, bila di mana-mana bermunculan hasil hitung cepat serentak, dengan hasil serentak pula saling bertentangan antara satu lembaga survei dan lembaga survei lainnya.

Lembaga survei manakah yang dipercaya? Manakah yang manipulatif? Siapa yang berhak menilainya? Hanya menilai, ataukah sampai pada penghakiman, menjatuhkan vonis? KPU menjawabnya dengan keinginan membentuk dewan etika yang terdiri dari 5 orang, yaitu 2 akademisi, 2 profesional/ahli survei, dan 1 anggota KPUD yang bersangkutan (Media Indonesia, 10/11). Dewan itulah yang menindaklanjuti laporan masyarakat, mengadilinya, memberi sanksi seperti larangan melakukan hitung cepat, atau memberi rekomendasi agar dibawa ke ranah hukum bila terjadi pelanggaran pidana.

Pilihan lain ialah KPU cukup menyampaikan laporan kepada asosiasi lembaga survei untuk diambil tindakan. Itu pun tidak harus disertai memiliki dewan etika permanen. Faktanya, asosiasi lembaga survei responsif dan bertanggung jawab terhadap anggotanya yang melakukan perbuatan melanggar etika. Buktinya, mereka cepat melakukan penghakiman dan penghukuman terhadap lembaga survei yang 'ngawur' melakukan hitung cepat dalam Pilpres 2014.

Karena itu, apa perlunya KPU membuat dewan etika, apalagi untuk profesi pihak lain? Persoalan prinsip ialah hanya KPU yang berwenang menetapkan hasil pemilu/pilkada. Karena itu, saban kali lembaga survei mengumumkan hasil hitung cepat, wajiblah disertai dengan pernyataan bahwa KPU satu-satunya lembaga yang berwenang menetapkan hasil penghitungan suara. Tunggulah hasil KPU.Bagi lembaga survei yang tidak melakukannya, KPU tinggal membatalkan pendaftarannya di KPU.


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.