Wali Kota Batu

09/11/2015 00:00
Wali Kota Batu
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

KEJUTAN perihal anggaran desa dilontarkan Eddy Rumpoko, Wali Kota Batu, Jawa Timur. Katanya, pemerintah kota itu bakal mengembalikan dana desa ke pusat.

Sebabnya, mereka sudah lebih dulu memiliki dana desa melalui anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) sebelum pemerintah pusat mengalokasikannya melalui anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

"Tanpa dukungan anggaran dana desa mandiri, kami sudah melangkah ke sana karena fokus pembangunan, ya di desa," kata Eddy Rumpoko.

Karena sudah punya dana desa atas jerih payah sendiri, tak elok menerima kucuran dana dari pusat.

Untuk apa dobel-dobel?

Bukankah banyak desa tertinggal lebih membutuhkan?

Di tengah kerakusan terhadap anggaran negara, di tengah adu lihai mendapat alokasi APBN, antara lain dengan menyogok Banggar DPR sampai tertangkap KPK, sangat mengagetkan ada kepala daerah mengembalikan anggaran dari pusat.

Terus terang, semula saya tidak percaya, di Republik ini masih ada wali kota seperti itu. Ternyata memang benar-benar ada, betul-betul nyata.

Wali Kota Batu Eddy Rumpoko bukan wali kota jadi-jadian seperti hantu, bukan pula wali kota dalam republik mimpi. Ia riil, bahkan kiranya menjadi model.

Bayangkanlah, betapa mantap negara ini bergerak jika lebih banyak lagi pemerintah daerah dapat menyediakan dana desa dari APBD sendiri, lalu mengembalikan dana dari pusat ke APBN.

Itulah sejatinya hendak dicapai, yaitu desa mandiri.

Dana itu dapat dimanfaatkan desa di daerah lain yang lebih memerlukan, yang belum mampu mandiri.

Pemerintah, dalam hal ini khususnya Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (KDPDT), mestinya bergembira bahwa ada pemerintah daerah yang telah berinisiatif menyediakan anggaran desa dari saku sendiri.

Wali Kota dan DPRD Batu mestinya mendapat penghargaan agar ditiru pemerintah daerah lainnya.

Sang wali kota telah bertemu Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro.

Menkeu dikabarkan dapat memahami pengembalian dana desa itu ke kas negara. Akan tetapi, Menteri DPDT Marwan Ja'far malah menebar ancaman.

Penyaluran dana desa menjalankan undang-undang. Jika kepala daerah, bupati, atau wali kota tidak membuka rekening untuk penyaluran dana desa, bisa dinilai melanggar pidana.

Tak hanya itu. Menteri bakal memberi sanksi tegas.

"Dana alokasi khusus (DAK) daerah itu tidak akan kami berikan terlebih dahulu," ujar Menteri.

Kiranya dapat dipahami bahwa sikap terpuji Wali Kota Batu itu memerlukan solusi khas. Sebab, yang telah disahkan dalam APBN sebagai undang-undang, peruntukannya tidak boleh dimigrasikan ke tempat lain.

Pertanyaannya, kenapa hal baik tidak boleh dilakukan, kenapa kebajikan tidak dapat dicarikan jalan keluar agar diterima sah dan absah dalam sistem keuangan negara?

Keputusan Wali Kota Batu mengembalikan dana desa itu pertama kali terjadi.

Sebagai preseden, tugas DPR-lah selaku pembuat undang-undang dan pemilik hak bujet mencarikan solusi sehingga pengembalian dana desa itu dapat diserap kembali ke dalam APBN.

Bukan malah sang Wali Kota diancam pidana, dana alokasi khusus daerahnya ditahan, kayak dana itu milik menteri.

Hari gini, menteri jenis apa itu gerangan?



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.